Waktu istirahat di sekolah, seperti pada umumnya, kantin di sekolah selalu dibanjiri oleh siswa. Wajar saja ini sudah memasuki waktu jam makan siang. Ali seorang diri di sana. Dia hanya tengah memikirkan kejadian kemarin. Bayangan Elaina masih belum terlepas dari benaknya. Nasi yang ada di hadapannya masih utuh, dia belum memulai untuk makan siang, karena pikirannya masih sekitaran Elaina.
Kenapa hal ini harus terjadi padaku juga? Ali menghelakan napas dengan lesu. Dia mulai menyendok nasi lalu menyantapnya. Rasanya masih sama saja. Namun, kali ini dia tidak memiliki mood untuk mengomentarinya.
Dari kejauhan, Elaina muncul bersama Metha. Seketika, degup jantung Ali berdetak kencang. Tidak, ini tidak boleh terjadi!, Ali pun dengan cepat menghabiskan nasinya, lalu membayar setelah itu pergi. Dia memilih kembali ke kelas. Walau kelas sedikit sepi karena mayoritas masih berada di kantin, dia tidak keberatan.
Tidak lama Rizal muncul dari belakang Ali.
“Tumben, sudah lebih dahulu di sini?”
“Aku ada urusan, seperti menyelesaikan naskah.”
“Baiklah, ngomong-ngomong soal acara Festival itu apa sungguhan tidak jadi diadakan?”
Ali mengangkat bahu, tidak tahu. Sebenarnya tidak ada kabar lebih lanjut mengenai hal semacam ini jadinya, dia tidak tahu sama sekali. Meski sudah dibuatkan grup dan Ali menjadi salah satu dari dua perwakilan klub Bahasa Jepang, masih belum ada kabar sama sekali. Lebih tepatnya mungkin ini hanya wacana sederhana.
***
“Jadi, apa yang kalian lakukan pada kemarin minggu?” Metha antusias bertanya pada Elaina.
“Hanya berkunjung saja, dan mengerjakan tugas lomba. Hanya itu saja, tidak lebih dari lainnya.” Elaina tersenyum samar sembari menahan malu.
“Dari nadamu berbicara, kamu tampak gugup rupanya, memang ada yang terjadi?” Metha samakin menggoda Elaina.
Elaina hanya menghelakan napas, sembari meminum es tehnya, tanpa memedulikan godaan dari Metha. Sudah menjadi kebiasaan Metha menggoda orang yang kasmaran tanpa sebab. Karena tidak direspon oleh Elaina, pada akhirnya Metha juga berhenti menggodanya.
“El, kapan lombamu selanjutnya? Apa kamu sudah mempersiapkannya?” Metha mengganti topik pembicaraan.
“Minggu depan, mungkin itu hanya batas waktu pengumpulannya. Aku sudah ada ide ingin menggambar apa.” Elaina menopang dagu, sembari menatap keramaian kantin. “Kali ini aku bisa memenangkannya.”
“Demi Ali?”
Elaina segera mengambil kotak tisu dan siap menimpuk Metha yang duduk di depannya.
“Aku hanya bercanda, El,” ujar Metha sembari menahan tawa.
Elaina meletakkan kembali kota tisu di atas meja. Ngomong-ngomong di mana Ali? Tumben dia tidak terlihat di kantin. Tidak seperti biasanya. Waktu-waktu istirahat seperti saat ini, Ali selalu berada di kantin, menikmati makan siang sendirian. Entahlah, Elaina jarang sekali melihat Ali bersama teman sebangkunya Rizal berkumpul bersama. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama hanya di kelas dan klub, setelahnya mereka semua lepas.
Bahkan saat senja pun, Elaina tidak melihat Ali sama sekali. Di mana Ali berada saat ini? Hal ini sedikit membuat Elaina sedikit khawatir. Karena tidak menemukannya, pada akhirnya dia memutuskan keluar dari sekolah.
Warna jingga mewarnai langit, tampak cerah. Matahari juga perlahan tumbang di barat. Elaina jadi sedikit kesepian saat ini. Tidak ada sosok yang bisa diajak bicara. Metha, dia tengah mengurusi beberapa tugas dengan gurunya. Ali dan Rizal, mereka juga pasti sudah pulang duluan.
Gerbang sekolah seperti biasanya, dipenuhi oleh kerumunan penjemput dan ojek online. Mereka tengah menunggu siswa-siswi yang memesan. Kenapa mereka hanya memesan di dalam, tidak di luar kawasan sekolah?
Elaina berdiri di depan gerbang sekolah, bersandar sembari menunggu angkutan umum lewat. Dia mengeluarkan ponsel, tidak ada pesan yang masuk sama sekali.