Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #22

Festival Budaya—Pertemuan

Ali dan Farzan berkumpul di ruang aula sebagai perwakilan dari Klub Bahasa Jepang. Tidak hanya klubnya saja yang berkumpul, tapi seluruh ekstrakulikuler semua berkumpul. Ali sudah tahu apa yang hendak dibahas saat ini. Terkait tentang festival budaya. Desakan mereka kemungkinan telah membuat OSIS berubah pikiran.

Rapat dimulai, ketika seorang siswa, Ketua OSIS duduk di bangku.

“Baiklah, teman-teman, mengenai festival budaya itu. Kemungkinan akan diselenggarakan. Maafkan kami saat itu tiba-tiba menolak,” ucap Ketua OSIS. “Jadi, mengenai festival budaya ini, baru kita selenggarakan pada awal semester depan. Saat-saat seperti ini tidak memungkinkan juga kita menyelenggarakan dalam waktu dekat, bulan depan juga masih ada ujian akhir semester.”

Mau dibilang semester depan adalah momen yang tepat juga tidak benar. Ali masih ingat mengenai lomba menulis novel itu akan berakhir tahun depan, tepat pada awal semester, setidaknya bulan kedua. Ali menopang dagu.

“Baiklah, selama masih terealisasikan tidak masalah,” ucap Ketua Klub Fotografis, “kita tidak ingin diberi harapan palsu seperti kemarin.”

Ketua OSIS itu hanya mengangguk paham, dia meminta sekretaris yang duduk di sampingnya mencatat.

“Ada lagi?” tanyanya.

Farzan menepuk pundak Ali. “Apa yang ingin kamu sampaikan?”

“Sebenarnya tidak ada Kak. Aku hanya memikirkan apakah waktu yang diusulkan itu tepat atau tidak,” kata Ali yang masih saja menopang dagu.

“Baiklah, jadi kita tidak akan berbicara soal lain-lain dan diserahkan pada mereka semua.”

Tepat sekali, Ali mengangguk mantap. Karena pada dasarnya tidak ada yang penting dalam pembahasan ini. Semua akan diserahkan pada perwakilan setiap klub. Itu adalah ide yang baik. Jika dimintai untuk berbicara....

“Klub Bahasa Jepang, kalian ada usul mengenai tentang tanggal yang akan diselenggarakan?” tanya Ketua OSIS.

“Aku tidak tahu untuk tanggalnya.” Ali tiba-tiba mengambil alih. “Tapi aku menyarankan saat Februari atau akhir Januari paling cepat. Karena waktu-waktu itu adalah saat yang tepat untuk menyelenggarakan tidak terlalu dekat dengan jadwal masuk sekolah, bukan?”

“Baiklah, terima kasih masukannya.” Ketua OSIS hanya menaikkan kedua bahunya.

“Ide yang bagus,” bisik Farzan sembari menepuk pundak Ali.

Tahap selanjutnya adalah mengumumkan kembali pada anggota klub. Hal ini membuat kegiatan yang seharusnya libur jadi masuk kembali.

Lihat selengkapnya