Elaina memeluk erat bantal, duduk di atas kasur. Kamar tampak begitu gelap gulita. Tatapan Elaina menatap langit malam dan rembulan dari balik jendela yang selambunya sedikit terbuka. Banyak hal yang tengah dipikirkan oleh Elaina.
Meja belajarnya masih berantakan oleh sebuah pentab dan laptop masih setengah terbuka. Baru saja dia menyelesaikan gambarannya.
Bagaimana jika lomba yang diikuti saat ini mengalami kegagalan total, sama seperti sebelumnya? Elaina dengan cepat menggelengkan kepala ketika di benaknya terlintas hal buruk.
Tidak, jangan sekarang memikirkan hal yang tidak-tidak. Deadline juga sudah dekat. Selama lima hari sebelumnya, Elaina menyelesaikan hasil gambarannya dengan sangat detail dan teliti. Dua kali dia mengecek warna yang sama. Judul dari gambar itu adalah “Menunggu”.
Pengumuman pemenang dari kompetisi itu, masih diumumkan 4 hari ke depan. Waktu yang sangat panjang untuk persiapan. Entah bagaimanapun hasilnya, Elaina yakin tahun ini semua akan berubah. Meski masih berupa keyakinan. Belum dengan hasil sesungguhnya nanti. Percaya diri sedikit juga tidak akan menimbulkan masalah, bukan.
Namun, hal yang dia takutkan benar terjadi. Namanya lagi-lagi tidak masuk dalam kompetisi. Bahkan sepuluh besar pun, Elaina tidak dapat. Dia melihat data itu dari yang dikirimkan melalui email. Melihat hasil itu masih belum bisa membuat Elaina percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Semuanya hancur dalam sekejap mata.
***
Suasana sekolah benar suram. Langit berawan sangat tebal, hitam pekat. Tidak lama lagi hujan akan segera turun. Elaina hanya terdiam saja di kelas. Meski lampu kelas sudah menyala, namun tetap saja redup yang membuat terasa lebih suram. Raut wajah tidak menunjukan senyuman sama sekali.
Bahkan Metha yang duduk di sampingnya memiringkan kepala, kebingungan dengan tingkah Elaina yang tidak biasa itu.
Bola mata Elaina menatap kekosongan, tidak ada perasaan sama sekali. Meski begitu, Metha juga sedikit gemetar dengan tingkah Elaina yang hanya melamun dengan tatapan kosong nan mengerikan.
“El, kamu baik-baik saja?” Metha bertanya memberanikan diri.
Elaina tidak merespon sama sekali. Dia membisu seribu bahasa. Pura-pura tidak mendengar. Kalau sudah begini, sulit rasanya Metha mengetahui masalah yang tengah terjadi. Dengan cepat Metha segera mengirimkan pesan, melalui ponsel pada Ali. Namun, Ali sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elaina. Ini buruk, bahkan jauh lebih buruk.
Tidak ada hal yang aneh selama pelajaran berlangsung, hanya saja selama waktu-waktu kosong, Elaina tampak seperti zombie yang kelaparan. Metha tidak bisa melakukan apa pun lebih.
Menjelang senja, langit masih dipenuhi oleh awan hitam pekat. Guntur sudah berulang kali menyambar, namun tak kunjung turun hujan. Elaina melangkah di koridor kelas sendirian. Tidak jauh di hadapannya Ali tengah berdiri.
“El, apa yang sebenarnya terjadi?” Ali bertanya.