Semua anggota klub berkumpul di ruangan 1-8. Di antara seluruh anggota. Hanya Elaina saja yang tidak hadir. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutinitas. Mempelajari Bahasa Jepang Hiragana dan Katakana. Walau sebelumnya sudah dipelajari, namun kali ini mereka semua tengah di uji. Meski hanya berupa gim.
Poin yang Ali, Metha, dan Rizal raih cukup seimbang. Namun, hanya Ali yang sebenarnya tidak terlalu fokus. Hal itu ternyata disadari oleh Farzan, tetapi pura-pura tidak peduli. Ada hal yang sebenarnya mengganggu Ali, namun dia enggan untuk bercerita.
Seminggu telah berlalu, Elaina benar-benar tidak masuk kegiatan klub. Meski dia masuk di kelas. Elaina juga membatasi hubungan percakapan dengan Metha, seperti seolah ada yang ditahan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Elaina belakangan ini. Dia jarang masuk klub dan juga di kelas dia juga jarang berbicara. Menurutmu apa yang terjadi dengannya, Li?” Metha menyilangkan tangan, menatap Ali yang sejak tadi menopang dagu.
Ali juga tidak meresponnya. Dia hendak menghindar dari pertanyaan Metha. Baginya pertanyaan Metha benar-benar sangat mengganggu.
“Bagus, sekarang Ali juga mau menjawab.” Metha mengerutkan dahi.
Hanya bisa menghelakan napas, Ali pun mulai bercerita apa yang sebenarnya terjadi pada Elaina. Meski cerita itu sedikit membuka luka. Namun, alangkah baiknya jika diceritakan bersama orang terdekat.
Mendengar cerita itu, Metha dan Rizal akhirnya paham. Semua karena lomba digital art itu. Elaina kembali gagal meraih kemenangan dan memutuskan untuk berhenti. Itulah alasan mengapa Elaina juga menjaga jarak dengan Metha. Karena Elaina tahu jika Metha masih berhubungan dengan Ali.
“Dia juga yang memintaku untuk menjauhinya, karena aku sumber masalah baginya,” lanjut Ali.
“Ternyata sifatnya masih kekanak-kanakan,” timpal Metha.
“Dengar kita tidak tahu seperti apa sifatnya. Itu masih bagian kecil dari dirinya.”
Pintu kelas terbuka. Tania memasuki kelas.
“Kalian memiliki masalah dengan Elaina?” tanya Tania.
“Hanya Ali kak, aku merasa ada yang tidak beres di antara mereka,” balas Metha seperti tidak mau ikut campur.
“Aku sudah mendengar semuanya dari luar kelas. Kupikir kalian pulang hari ini, ternyata masih saja suka mengumpul, dasar anak-anak keras kepala. Aku yang akan berbicara dengannya besok,” ujar Tania dengan yakin. Seketika dia pun segera keluar dari kelas untuk pulang.
***
Siang di esoknya, suasana kantin selalu padat di siang hari. Elaina tengah duduk seorang diri, menikmati makan siangnya dan sesekali meminum es teh. Tatapan wajahnya masih sama seperti seminggu yang lalu. Ini boleh jadi adalah rekor Elaina tidak memegang pentab.
Masalah yang dia alami sebelumnya memang tidak membawa pada sebuah penyelesaian, justru apa yang dirasakan oleh Elaina saat ini adalah kehampaan. Memang dengan sengaja Elaina menjaga jarak dengan Metha. Kenapa juga masalah ini bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi.
Tidak lama dari itu, Tania datang membawa semangkuk mie ayam, mengambil duduk di samping Elaina. Tanpa meminta izin terlebih dahulu. Mencomot langsung, untungnya tidak ada yang mengambil bangku itu.
“Sudah seminggu kamu tidak datang ke klub.” Tania memulai percakapan.