Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #25

Kabur dari Kelas

Tempat persembunyian yang paling aman, perpustakaan yang berada di dekat gerbang pintu masuk. Perpustakaan itu selalu saja sepi. Paling-paling hanya satu atau dua siswa yang sering berkunjung.

“Astaga, sekarang siapa lagi yang mau bersembunyi dasar siswa nakal.” Sosok wanita penjaga perpustakaan itu mengomel.

Ali hanya terkekeh mendengar omelannya. Kalau terdengar dari omelan. Sudah banyak siswa yang kabur dari kelas dan bersembunyi di perpustakaan. Karena memang pada dasarnya tidak akan ada guru yang mengunjungi, kalau pun ada paling hanya dibiarkan, untuk beberapa. Kalau guru killer, tewas sudah mereka kena amukan dan dihukum.

Ali dan Elaina mengambil bangku yang cukup jauh dari jendela. Mereka hendak berbicara empat mata. Jam istirahat sudah habis dan banyak yang ingin dibicarakan. Sebenarnya mereka bisa membicarakannya saat sepulang sekolah. Namun, ini tampak lebih penting.

“El, sebenarnya, aku tidak seperti yang kamu lihat. Mungkin aku terlalu pintar dalam menyembunyikan kesulitan.” Ali menyeringai sembari menggaruk kepala yang terasa tidak gatal itu.

“Maksudmu?” Elaina penasaran, apa selama ini Ali hanya menggunakan topeng kemunafikan?

“Boleh jadi aku sama seperti kamu. Jujur saja, setiap malam terkadang aku merenungkan untuk ke depannya. Aku sudah lebih sering jatuh bangun tepatnya. Namun, di suatu sisi aku pernah bertanya pada diriku, “mau sampai kapan aku begini terus?” Naskah yang sering aku ajukan juga ditolak berulang kali, bahkan ikut lomba cerpen juga kadang tidak pernah menang. Aku juga pernah berpikiran untuk berhenti. Sama seperti dirimu. Namun, kalau aku berhenti menulis—”

“Orang di sekitarmu akan kecewa,” lanjut Elaina. Kalimat itu pernah diucapkan oleh Ali saat di angkutan umum beberapa bulan yang lalu.

Ali mengangguk sejenak, ruang sekitar lengang. Hanya terdapat pengawas perpustakaan yang tengah bermain ponsel.

Beberapa buku bertumpuk di atas meja dekat mereka duduk, Ali mengambil salah satunya, membuka lembar pertama. Walau itu buku umum, terkadang Ali lebih suka membaca buku secara acak, boleh jadi dirinya memang tengah tertarik.

“Kalau kamu berpikir aku kuat, itu adalah kesalahan besar bagimu. Aku tidak terlalu kuat.” Ali membalik lembar, lalu menutup buku total, mengusap wajah. “Selama ini aku memakai topeng, supaya tidak ada orang yang khawatir, ibuku pernah melarangku untuk menulis cerita, karena aku selalu memaksakan diri. Jadinya, aku menggunakan topeng dan mengatakan baik-baik saja, bahkan termasuk dirimu.

“Lomba novel sebenarnya membuatku khawatir, hal yang paling aku khawatirkan adalah kegagalan. Jika gagal aku tidak tahu harus melakukan apa. Sudah berkali-kali aku melakukan ini, tapi tetap masih sama dan sama.” Ali tertunduk, bersandar di kursi.

“Lalu, kenapa kamu tidak ingin membuatku khawatir?” Elaina menopang dagu.

“Itu karena, ceritamu saat itu, aku sedikit terkejut dan memang saat itu aku pernah berada di fase paling bawah.” Ali menghelakan napas. “Kita berada di posisi yang sama, bukan?” Ali terkekeh.

Elaina hanya tersenyum samar. “Soal lomba itu, aku akan menggambarnya. Ini lomba tim, bukan? Aku baru saja melihat daftar peserta.”

“Jadi, kamu sudah melihatnya ya? Tapi kalau tidak bisa, jangan dipaksakan.”

Elaina menggeleng. “Ini adalah kesempatanku, Ali. Kita akan memenangkan perlombaan itu.”

“Mari kita lihat siapa yang saat ini mendapatkan kepercayaan dirinya kembali?”

Lihat selengkapnya