Matahari mulai memanjat langit dari timur. Jalanan kota yang sunyi kian berisi. Lampu-lampu bangunan menjulang tinggi kian padam. Kota menjadi gelap menanti cahaya pagi perlahan.
Bertepatan pada hari ini, hari libur panjang semester telah tiba. Sekolah kembali sepi, kecuali beberapa siswa yang memang sengaja pergi ke sekolah di hari ini. Membawa beberapa koper.
“Yey, akhirnya bisa liburan!” Metha bersorak kegirangan.
“Ya, seperti itulah. Metha, selalu bahagia ketika hari libur tiba.”
“Habis pelajaran sosiologi menyiksaku sepanjang hari. Aku lebih baik memilih matematika dari pada sosiologi.”
Rizal menghelakan napas lesu. “Nanti juga ujung-ujungnya bakal memilih jurusan Soshum ketika kuliah.”
“Aku berani jamin itu tidak akan terjadi.”
Sebuah mobil putih sedan tiba, terparkir di depan sekolah. Pintu belakang terbuka lebar. Sosok Elaina turun dari mobil, melangkah keluar, mengambil tas dibagasi.
“El, hati-hati di jalan.” Ayahnya memeluk Elaina.
“Baiklah.” Elaina menyunggingkan bibir.
Elaina segera berlari dengan ransel yang berisikan pakaian ganti dan juga laptop. Hanya beberapa hari saja di luar kota. Sebenarnya bukan perjalanan resmi, namun ini inisiatif dari anggota klub Bahasa Jepang.
“Jangan, tanya di mana Ali, karena tepat di belakangmu,” ujar Metha.
Segera Elaina menoleh ke belakang, benar juga, Ali baru saja tiba.
“Kurasa ini adalah ide yang konyol, karyawisata tanpa izin sekolah?” tanya Ali, “ngomong-ngomong aku mengajak adikku, tidak masalah bukan?”
Mereka bertiga, menatap adik Ali yang berdiri di samping Ali. Bintang. Tidak disangka Ali akan membawa adiknya kemari. Rizal pun terpesona memandang adik Ali yang begitu menawan.