Hotel tampak megah berada di dataran tinggi, Kota Batu. Elaina segera bergegas ke Balkon resto, melihat pemandangan di kala siang hari ini. Suhu mulai sejuk, tidak panas.
Ali menunggu di kursi sofa lobi, merogoh saku dan menghubungi seseorang.
“Jadi, siapa yang kamu hubungi?” Metha mengambil tempat duduk di sana.
“Orangtua, aku memesan 2 kamar. Bintang akan pulang ke rumah di Malang.”
“Begitu rupanya, jadi kamu mau memperkenalkan calonmu di hadapan orangtuamu?”
Ali menyipitkan mata. Apa barusan Metha bilang? Yang satu ini memang kadang sulit dikendalikan kalau berbicara. Terserahlah, Ali tidak terlalu menanggapinya.
Angin kencang bertiup mengibaskan rambut Elaina yang panjang. Masih bersandar di pembatas balkon restoran.
“Jadi, Kak Elaina, kan?” Bintang melangkah mengampiri Elaina.
Elaina menoleh. “Tidak salah, kamu adiknya Ali, rupanya. Tidak kusangka, Ali tidak pernah bercerita.”
“Dia memang bukan tipe orang yang terbuka, Kak.” Bintang ikut bersandar di pagar pembatas. “Senang rasanya Kak Ali bisa kembali seperti dulu.”
Elaina menoleh, menatap Bintang. “Seperti dulu, apa maksudnya?”
Bintang melirik ke belakang, memastikan kakaknya tidak ikut menguping. “Kakak dulu orangnya cukup ambisius setelah kekalahan pertama kalinya di kelas dua. Sepanjang hari sepanjang malam dia selalu mengetik. Wajahnya tidak memancarkan aura kebahagiaan sama sekali. Setidaknya Kak Ali pernah sekali juara saat kelas satu SMP. Sampai tiba saatnya di kelas tiga, masa penentuan sekaligus, terakhir kalinya Kak Ali mengikuti lomba. Sejak saat itulah dia murung. Bahkan saat ini juga.”
Elaina menoleh ke belakang. Sosok Ali sedang bersenda gurau dengan Metha dan Rizal. “Begitu ya.”
“Aku tidak tahu apa yang membuatnya dia kembali senang. Apa Kak Elaina melakukan sesuatu?”
“Tidak, kurasa tidak. Malahan aku yang selalu membebaninya.”
“Bagaimana jika sebaliknya?” tanya Bintang.
Elaina tidak merespon, sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Tidak, bukan sulit. Dia sendiri tidak tahu dengan pasti.
“Dua insan yang sama-sama gagal di kompetisi terakhirnya, saling bertemu. Di situ pasti ada benang yang menyambung dengan sendirinya, berjanji akan bersama-sama meraih impian,” lanjut Bintang.
“Bagaimana kamu tahu kalau aku gagal di kompetisi terakhir?” tanya Elaina.
“Kak Ali pernah bercerita. Dia menyebut namamu dan menceritakan tentang dirimu, Kak.” Bintang segera bergegas meninggalkan Elaina. Namun, belum jauh, Bintang berhenti melangkah, teringat suatu hal. “Ngomong-ngomong, apakah Kak Elaina menyukai Kak Ali?”
Seketika, wajah Elaina memerah seperti air rebus, mendidih karena mendengar pertanyaan dari adiknya.
“B-bagaimana ya?” Elaina gugup entah ingin menjawab apa.
“Jawab saja, semua rahasia akan aman padaku.”
Elaina segera berbalik. Mengalihkan pandangan sembari tertunduk. Kemudian, mengangguk samar.
“Akan aku dukung kalau begitu, Kak El.” Bintang segera melanjutkan langkahnya. “Seperti yang aku bilang, mungkin Kak Elaina tidak tahu, tapi sebenarnya Kak Ali juga kembali semula berkat Kak Elaina.”
Tidak ada balasan dari Elaina. Dia kembali bersandar. Tidak pantas rasanya Bintang mengucapkan terima kasih. Memandang langit sejenak, begitu biru membentang bersih tanpa awan. Elaina menarik napas dalam-dalam menghembuskan dengan tenang.
Suara angin berhembus, menyejukan suasana. Elaina tengah tenggelam dalam pikirannya. Memejamkan mata. Terlukis wajah Ali di benaknya.
“El....” Ali memanggil namanya.
Masih tenggelam, berusaha memberi warna.