Pintu lift terbuka, bersamaan bunyi bel. Elaina keluar seorang diri dari lift itu. Melangkah menuju kamar sembari menundukan kepala. Pikirannya masih tidak terkendali. Apa yang dia jawab adalah keinginannya sendiri? Bagaimana jika gagal. Elaina menepuk kedua sisi pipinya. Kenapa dia asal jawab saja?
Elaina melanjutkan langkahnya menuju kamar. Kalau tidak salah sekarang sudah pukul sembilan malam. Besok dia tidak tahu agendanya apa saja. Paling-paling melanjutkan proyek untuk lomba dan berlibur ke Jatim Park 2. Kalau tidak salah dekat, bukan Jatim Park 2 dengan hotel ini?
Memasuki lorong kamar, tiba-tiba dari kejauhan, Elaina menatap Ali dan Metha yang tengah asyik berbicara. Membicarakan apa mereka?
“Nah itu dia, Elaina, katanya kamu mencarinya, kan, Li?” Metha menoleh pada Elaina.
“Habis dari mana saja kamu?” tanya Ali.
“Makan malam, kenapa?”
“Astaga, kenapa tidak mengajakku?”
“Kalau begitu, aku masuk dulu ya, aku sedang menunggu Rizal, katanya dia mau berkeliling mengambil gambar yang bagus,” ujar Metha.
Ali dan Elaina mengangguk bersamaan.
“Mau aku temani?” tanya Elaina dengan senang hati.
“Baiklah, kalau kamu tidak kebe—”
“Tidak, aku tidak keberatan.” Elaina menyela pembicaraan. Dia sudah menebak Ali bakal mengatakan apa setelah itu.
Elaina kembali ke restoran yang lengang. Kali ini tidak ada satu pun pengunjung yang berada di restoran tersebut. Wajar saja jika sudah larut malam. Ali segera memesan makanan. Dan mengambil tempat duduk dekat jendela. Walau posisi itu sama seperti Elaina dan ibunya Ali duduk. Ali segera menopang dagu di atas meja.
“Ada apa?” tanya Elaina pelan.
“Tidak, hanya sedang memikirkan sesuatu. Ini bukan soal novel kok, santai saja.”
“Baiklah, oh ya, besok kita ke mana?”
“Entahlah, tidak ada yang merencanakan untuk pergi keluar. Kita liburan hanya untuk mengerjakan proyek kita. Tapi kalau mau, aku bisa mengajakmu ke Jatim Park 2 hanya berdua.”
“Terserah kalau itu, kenapa tidak mengajak Metha dan Rizal juga?”
“Kalau itu, barusan Rizal bercerita besok dia ingin ke rumah saudaranya yang ada di sini, bersama Metha. Entahlah aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh mereka.” Ali menghelakan napas.
Lengang menyelimuti mereka. Elaina menoleh pada pemandangan di luar jendela. Lampu-lampu kecil menyala dalam kegelapan. Itu pasti pusat kota. Makanan tidak lama telah dihidangkan di meja.
“El, kamu yakin tidak ingin makan lagi?”
Elaina menggeleng. Dia hanya ingin menemani Ali tidak lebih dari itu. Ali hanya mengangguk, dia menikmati makanan yang ada di hadapannya, nasi goreng.
“Sedang memikirkan apa?” tanya Ali yang ikut menoleh pada pemandangan di luar sana.
“Tidak ada, aku hanya menikmati pemandangan yang ada di luar sana.”
***
Setelah makan malam panjang, Ali dan Elaina segera kembali ke kamar. Lorong hotel lengang dan tenang, dengan alunan musik klasik yang indah, menambah suasana makin tenang. Kamar Ali berada di sebelah kamar Elaina. Elaina menempelkan kartu pada pintu.
“Tadi aku bertemu dengan ibumu.”
Ali memandang Elaina lamat-lamat. "Pasti ibuku ngomong yang tidak-tidak?”