Kematian laptop Elaina ternyata terbawa hingga mimpi Ali hingga dia berteriak saat terbangun. Mimpi yang parah. Bagaimana mimpinya?
Mimpinya adalah saat kompetisi, kurang beberapa hari lagi tiba-tiba laptop Elaina tidak bisa menyala sama sekali. Itu mimpi terburuk yang pernah dialami oleh Ali. Dia menghelakan napas dengan lega. Untungnya hanya sebuah mimpi.
Ponsel Ali berdiri, notifikasi masuk ke dalam ponsel. Rupanya dari Elaina. Ali membaca chat-nya sementara.
Elaina : “Jadi kita melihat matahari terbit?”
Ali : “Sebentar, aku mau cuci muka dulu, katanya pemandangan dari hotel ini sungguh indah.
Elaina : “Baiklah kalau begitu.”
Pagi seperti ini tentu balkon yang berada di lobi perhotelan lengang. Hanya ada penjaga resepsionis yang menunggu di meja resepsionis. Mungkin karena mereka mengambil jam malam, jadinya bekerjanya pun di malam hari.
Langit masih gelap, bintang gemintang berkilauan di angkasa. Hawa dingin begitu menusuk meski Ali sudah mengenakan jaket. Berulang kali dia bersin karena tidak kuat suhu dingin.
Elaina mengenakan jaket tebal yang dia bawa, segera berlarian ke balkon. Angin pagi menerpa rambut panjangnya, melambai-lambai. Ini adalah momen transisi dari malam menuju pagi. Sudah pukul lima pagi, tidak lama mungkin matahari akan terbit pukul setengah enam.
“Aku tidak menyangka gadis sepertimu bisa tahan dengan hawa yang begitu dingin.” Ali yang tengah menggosok kedua tangannya untuk menghangatkan diri.
“Aku dulu sering diajak ke daerah dataran tinggi oleh kedua orangtuaku, jadinya hal semacam ini sudah terbiasa.” Elaina menyeringai.
“Enaknya yang tidak punya alergi dengan singusitis.”
Ufuk timur, cahaya matahari sudah mulai tampak dari balik gunung. Perlahan mulai naik. Elaina antusias memandang pemandangan tersebut.