Sketches of the Unseen (Sketsa yang Tak Terlihat)

arunika sekar
Chapter #1

Kanvas yang Dingin

Lantai kayu ek itu masih mengeluarkan aroma pernis yang tajam, sebuah bau kimiawi yang bersih namun menusuk, bercampur dengan aroma cat yang belum sepenuhnya kering. Bagi sebagian orang, itu adalah aroma kesuksesan, aroma yang menandakan akhir dari penantian panjang dan awal dari sebuah pencapaian profesional. Namun bagi Clara, saat ia berdiri di ambang pintu besar Blackwood Manor yang terbuat dari kayu ek solid, aroma itu terasa seperti sebuah janji yang masih murni, sekaligus sebuah ruang kosong yang menuntut untuk segera diisi.

Clara tidak segera melangkah masuk. Ia berhenti di sana, membiarkan jemarinya mengelus bingkai pintu yang halus. Sebagai seorang ilustrator profesional, dunianya tidak dibangun dari kata-kata, melainkan dari garis, perspektif, dan keseimbangan warna. Ia menyapu interior rumah barunya dengan tatapan yang awalnya penuh kepuasan, namun perlahan-lahan menyempit menjadi sebuah penyelidikan yang dingin.

Rumah itu adalah perwujudan sempurna dari gaya Gothic Victorian yang ia idamkan bertahun-tahun, sebuah kontras yang berani di tengah lanskap Cornwall yang liar. Dinding-dindingnya tinggi, dilapisi wallpaper damask berwarna kelabu pucat yang tampak seperti kulit perkamen tua, menciptakan ruang yang luas namun terasa menekan. Plafonnya menjulang, dipertegas oleh balok-balok kayu ek hitam yang penuh ukiran geometris tajam, memberikan kesan berat yang megah. Di sisi kanan, deretan jendela lancet yang meruncing tinggi menghadap langsung ke Tanjung Blackwood, kaca-kaca bergelombangnya membingkai Samudra Atlantik seperti lukisan tua yang bergerak dalam bingkai besi yang dingin.

Di luar sana, Samudra Atlantik yang bergejolak tampak abu-abu dan perkasa. Sinar matahari sore Inggris yang pucat masuk dengan bebas, menyapu seluruh ruangan dengan warna jingga keemasan yang dramatis namun terasa tipis.

Namun, di tengah kemegahan itu, insting visual Clara menangkap sebuah anomali.

Ia melangkah masuk, suara sepatunya yang beralas karet terdengar redup di atas kayu ek. Ia berhenti tepat di tengah ruang tamu yang masih kosong dari furnitur. Matanya terpaku pada sebuah pilar struktural yang berdiri tegak di sudut ruangan, memisahkan ruang tamu dengan area perpustakaan pribadi yang berada di lorong samping.

Sinar matahari sore itu seharusnya menciptakan bayangan yang panjang dan lurus ke arah pintu dapur, mengikuti hukum fisika dan jatuhnya cahaya. Namun, bayangan pilar justru tampak menyimpang. Garis hitam yang jatuh di atas lantai kayu miring ke arah yang salah, seolah-olah ditarik oleh kekuatan magnetis ke arah pintu perpustakaan yang gelap.

Clara menyipitkan mata. Ia memiringkan kepala, mencoba mencari sumber cahaya lain. Apakah itu pantulan dari ombak yang pecah di tebing? Ataukah ada lampu taman yang menyala? Namun, tidak ada penjelasan logis. Bayangan itu seolah-olah memiliki kehendaknya sendiri, sebuah distorsi perspektif yang seharusnya hanya ada dalam lukisan surealis, bukan di sebuah rumah yang dibangun dengan perhitungan arsitektur modern yang presisi.

"Indah sekali, bukan?"

Suara berat Adrian bergema di ruangan yang luas, memecah keheningan yang mulai terasa menekan bagi Clara. Adrian muncul dari arah balkon yang menghadap ke laut, wajahnya tampak berseri-seri. Ia masih mengenakan kemeja linen yang lengannya digulung hingga siku, dengan noda debu tipis di dahinya, sisa-sisa kegiatannya memeriksa lantai bawah tadi pagi.

Adrian melingkarkan lengannya di bahu Clara, menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan protektif. "Akhirnya, Clara. Semua kerja keras kita, malam-malam tanpa tidur di studio kecil kita di London, perdebatan dengan kontraktor... semuanya bermuara di sini. Kita berhasil."

Lihat selengkapnya