Perpustakaan itu terasa jauh lebih dingin daripada ruang tamu, seolah-olah dinding-dindingnya yang dilapisi kayu jati menahan sisa-sisa udara dari dekade yang berbeda. Aroma di sini pun berbeda, bukan lagi bau cat segar yang tajam, melainkan bau apek yang samar dari debu tua, kertas yang melapuk, dan sesuatu yang menyerupai aroma dupa yang hampir hilang. Cahaya sore Inggris yang jingga pucat hanya berani masuk separuh jalan melalui jendela tinggi yang sempit, meninggalkan sudut-sudut ruangan dalam keremangan yang pekat.
Clara menemukan Adrian sedang berlutut di pojok ruangan, di dekat sebuah rak buku besar yang tertanam permanen ke dinding. Panel kayu di bagian bawah rak itu tampak terbuka, menyingkap sebuah ceruk gelap yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik dekorasi ukiran molding.
"Lihat ini, Clara," bisik Adrian, suaranya mengandung nada kekaguman seorang arkeolog yang baru saja menemukan artefak penting. "Aku sedang memeriksa stabilitas rak ini ketika aku menyadari bahwa sambungan kayunya tidak sejajar. Aku menekannya sedikit, dan panel ini terbuka begitu saja. Sepertinya arsitek asli Blackwood Manor sengaja membangun kompartemen rahasia ini."
Di tangan Adrian, terdapat sebuah kotak kayu jati tua dengan ukiran bunga lili yang sudah memudar di tutupnya. Gembok tembaganya sudah berkarat hijau, namun masih mengunci rapat. Clara mendekat, rasa waswas yang tadi ia rasakan di ruang tamu kini bercampur dengan rasa ingin tahu yang mendesak.
"Haruskah kita membukanya sekarang?" tanya Clara perlahan.
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil sebuah obeng kecil dari saku celananya dan dengan hati-hati mulai mencongkel kancing tembaga tersebut. Setelah beberapa detik ketegangan yang hanya diiringi suara napas mereka, terdengar bunyi klik yang tajam, suara logam yang beradu, menggema di ruangan yang sunyi itu.
Tutup kotak terbuka dengan derit pelan. Di dalamnya, terbungkus selembar kain beludru hitam yang sudah mulai rapuh, terletak sebuah buku sketsa bersampul kulit kusam.
Clara mengambil buku itu dengan ujung jarinya. Sampul kulitnya terasa kasar dan dingin, memberikan sensasi ganjil yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tidak ada judul di sampulnya, tidak ada nama pemilik, hanya sebuah simbol kecil di sudut kanan bawah, sebuah panah yang persis sama dengan yang ditemukannya di lantai ruang tamu tadi.
"Mungkin ini jurnal konstruksi rumah ini," gumam Adrian sambil berdiri, menyeka debu dari lututnya. "Banyak arsitek tua di Cornwall yang suka menyimpan catatan tangan. Kau ilustrator, kau pasti lebih mengerti isinya daripada aku. Aku akan ke atas sebentar, memastikan Olivia tidak terjatuh saat menjelajahi kamar barunya."
Adrian mengecup pipi Clara sekilas lalu melangkah keluar, meninggalkannya sendirian dalam keheningan perpustakaan yang semakin pekat.
Clara duduk di sebuah kursi kulit tua di dekat jendela, mencari sisa cahaya matahari yang terakhir. Dengan napas tertahan, ia membuka halaman pertama. Ia mengharapkan denah teknis atau catatan material. Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya tertegun.
Itu adalah sebuah sketsa perspektif yang dikerjakan dengan sangat indah menggunakan tinta hitam. Garis-garisnya tegas, arsiran hatching-nya sempurna, sebuah mahakarya visual yang memperlihatkan ruang tamu tempat Clara berdiri beberapa menit yang lalu. Namun, sketsa itu memiliki satu detail yang mustahil.
Di sudut ruangan, tepat di samping pilar struktural, tergambar sosok seorang wanita yang sedang berlutut, menatap lantai dengan ekspresi ngeri. Clara merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Wanita di dalam gambar itu mengenakan sweter rajut berwarna krem dan celana kain gelap, pakaian yang persis sama dengan yang dikenakannya saat ini.
Di bawah gambar tersebut, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang miring, tajam, dan penuh tekanan,
“Cahaya menipu mata, namun bayangan tidak pernah berbohong. Teko porselen akan pecah saat jam berdentang empat kali.”
Clara menutup buku itu dengan kasar. Napasnya memburu. Ia menatap jam dinding kuno yang terpasang di atas pintu perpustakaan. Jarum panjangnya menunjukkan angka sebelas, sementara jarum pendeknya berada di angka tiga. Pukul 15.55.
"Hanya kebetulan," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya. "Ini pasti hanya lelucon atau kebetulan yang sangat aneh. Mungkin pemilik rumah ini dulu adalah seorang paranormal gadungan."
Clara mencoba menenangkan dirinya. Ia adalah wanita modern. Ia memutuskan untuk membawa buku itu ke dapur, berniat menyeduh teh untuk meredakan sarafnya yang tegang.