Sketches of the Unseen (Sketsa yang Tak Terlihat)

arunika sekar
Chapter #3

Tamu dari Masa Lalu

Suara ketukan kembali terdengar, lebih keras dan lebih menuntut daripada sebelumnya.

Tok. Tok. Tok. Tiga kali, dengan jeda yang sangat presisi, seolah-olah si pengetuk sedang menghitung detak jantung Clara di balik pintu jati solid Blackwood Manor. Suara itu tidak hanya bergema di ruang tamu, tetapi seolah merambat melalui fondasi rumah, menggetarkan lantai kayu ek yang baru saja mereka banggakan.

Clara berdiri mematung di tengah perpustakaan yang remang-remang. Buku sketsa di tangannya terasa seberat bongkahan es yang membeku, namun sekaligus menyengat kulitnya. Dengan gerakan yang hampir panik, ia segera menyelipkan buku itu ke balik deretan ensiklopedia tebal di rak paling bawah, menjejalkannya di antara jilid-jilid tua yang berdebu. Ia menyapukan debu dari telapak tangan ke apron, mencoba mengatur napas yang memburu sebelum melangkah keluar menuju sumber suara.

"Aku yang buka, Clara! Mungkin itu kurir yang tertinggal," seru Adrian dari arah dapur. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu, sebuah suara yang biasanya menenangkan bagi Clara, namun malam ini terdengar seperti lonceng peringatan.

Saat Clara sampai di ruang tamu, pintu depan sudah terbuka lebar. Angin malam Cornwall yang dingin membawa aroma garam Laut Celtic yang tajam merangsek masuk tanpa permisi, menyapu tirai-tirai linen putih hingga berkibar liar seperti sayap burung yang terperangkap. Di ambang pintu, berlatar belakang kegelapan malam pesisir yang pekat dan tanpa bintang, berdiri seorang pria yang tampak seperti bagian dari kegelapan itu sendiri.

Pria itu mengenakan mantel hujan panjang berwarna gelap yang permukaannya tampak berkilau lembap oleh embun malam, meski langit di luar sana bersih tanpa hujan. Sebuah topi pet kusam ditarik rendah hingga menutupi dahinya, menyembunyikan sebagian besar wajahnya dalam bayangan yang dalam. Di tangannya, ia mencengkeram sebuah tas perkakas kulit yang permukaannya sudah retak-retak dimakan usia.

"Selamat malam," suara pria itu parau, seolah-olah pita suaranya sudah lama tidak digunakan dan kini bergesekan layaknya amplas di atas kayu. "Saya Mr. Abernathy. Saya teknisi yang menangani instalasi pipa dan sistem keamanan bawah tanah sebelum kalian pindah ke sini. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang belum sempat saya kunci dengan benar."

Adrian mengerutkan kening, mencoba memanggil kembali memori dari percakapannya dengan agen properti di London. "Ah, Mr. Abernathy. Ya, saya ingat nama Anda disebut. Tapi bukankah mereka bilang pengerjaannya sudah rampung sepenuhnya minggu lalu? Kami sudah menerima sertifikat laik huni."

Mr. Abernathy melangkah masuk melintasi ambang pintu tanpa menunggu undangan formal. Tindakannya memberikan kesan otoritas yang ganjil, seolah-olah dialah penjaga asli dari tanah ini. Matanya, yang kecil namun setajam elang di balik bayangan topi pet, menyapu sekeliling ruangan dengan tatapan yang hampir menyerupai penilaian. Ia seolah sedang memeriksa apakah ada "simetri" yang terganggu, sebelum akhirnya pandangannya terpaku pada Clara.

"Ada kunci yang tertukar, Mr. Adrian," ujar Mr. Abernathy sambil meraba saku mantelnya yang berat. Ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci besi besar yang penuh dengan kunci-kunci kuno berkarat yang berdenting nyaring saat ia gerakkan. "Kunci yang saya tinggalkan di agen adalah kunci untuk gudang peralatan luar. Kunci yang asli, kunci untuk akses pengontrol utama di bawah tanah, masih tersimpan pada saya. Saya datang untuk menukarnya malam ini juga."

Clara merasakan sensasi dingin yang menusuk. Ia teringat dengan jelas pesan di buku sketsa tadi: Ia membawa kunci yang salah. Jangan biarkan dia menyentuh pintu merah.

"Adrian," panggil Clara, suaranya terdengar lebih tipis dan rapuh. "Mungkin ini sudah terlalu larut untuk urusan teknis. Bukankah Mr. Abernathy bisa kembali besok pagi saat cahaya matahari lebih baik?"

Lihat selengkapnya