Sketches of the Unseen (Sketsa yang Tak Terlihat)

arunika sekar
Chapter #4

Mawar Hitam di Ambang Pintu

Kegelapan yang ditinggalkan Mr. Abernathy di dalam lubang lantai perpustakaan seolah memiliki nyawa sendiri. Ruangan yang tadinya terasa hangat dengan panel kayu jatinya, kini berubah menjadi dingin yang lembap. Dari kedalaman lubang itu, terdengar suara denting logam yang beradu dengan pipa—bunyi yang teredam, berirama, dan ganjil. Suara itu menyerupai detak jantung yang lambat dari seekor raksasa yang sedang terjaga di bawah fondasi Blackwood Manor.

Clara berdiri di tepi lubang, tangannya mencengkeram erat pinggiran rak buku. Ia menatap ke bawah, mencoba menembus kepekatan tersebut, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang seolah menyedot cahaya dari lampu meja di belakangnya.

"Clara, apa sebenarnya yang Olivia bicarakan tadi?"

Suara Adrian memecah keheningan, nadanya tidak lagi mengandung kehangatan yang tadi ia pamerkan saat mereka baru tiba. Adrian berdiri di ambang pintu perpustakaan, wajahnya tampak kaku. Di belakang kakinya, Olivia bersembunyi, matanya yang besar menatap lubang di lantai dengan ketakutan yang murni.

"Sketsa apa? Pria Merah?" Adrian melangkah masuk, suaranya bergema di antara deretan buku. "Kau benar-benar harus berhenti, Clara. Aku tahu kau lelah, aku tahu imajinasimu sebagai seniman sering kali liar, tapi jangan menakut-nakuti anak-anak dengan cerita aneh di malam pertama kita."

Clara memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata suaminya yang penuh dengan logika arsitektural. Jarinya meremas ujung apronnya hingga kain itu kusut. "Aku tidak menakut-nakuti dia, Adrian. Kau tahu Olivia punya dunia fantasinya sendiri. Mungkin dia hanya salah dengar atau salah lihat."

"Tapi dia menyebut soal buku sketsa itu secara spesifik. Kau bilang padaku itu hanya studi perspektif arsitektur lama," Adrian tidak melepaskan pandangannya, ia melangkah lebih dekat hingga aroma keringat dan debu konstruksi darinya tercium oleh Clara. "Lalu kenapa Mr. Abernathy seolah tahu apa yang kau baca? Kenapa dia menatapmu seolah kalian berbagi rahasia yang tidak aku ketahui?"

Clara merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin sekali berteriak, menunjukkan teko porselen yang pecah tanpa sebab di dapur, atau menyeret Adrian untuk melihat tinta yang muncul sendiri di halaman buku itu. Namun, ia melihat garis-garis kelelahan di sekitar mata Adrian. Ia tahu suaminya telah mempertaruhkan seluruh tabungan dan reputasinya untuk rumah ini. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, Adrian tidak akan percaya; ia hanya akan menganggap Clara sedang mengalami gangguan saraf.

"Hanya beberapa catatan tua yang membingungkan, Adrian. Aku sendiri belum sempat membacanya dengan teliti," jawab Clara pelan, sebuah kebohongan yang terasa pahit dan lengket di lidahnya. "Mari kita bawa Olivia ke kamar. Udara yang keluar dari bawah tanah ini berbau besi dan tanah, tidak sehat untuknya."

Adrian menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang penuh dengan rasa frustrasi yang dipendam. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan menuntun Olivia menuju lantai atas. Suara derit tangga kayu yang didaki mereka terdengar seperti keluhan rumah yang sedang protes.

Clara menunggu hingga suara langkah kaki mereka benar-benar hilang di lantai atas. Dengan gerakan yang hampir panik, ia segera merogoh ke balik jilid ensiklopedia di rak bawah dan menarik keluar buku sketsa itu. Ia membukanya dengan tangan gemetar di bawah cahaya lampu meja yang tiba-tiba berkedip, seolah-olah arus listrik di rumah itu sedang bereaksi terhadap kehadirannya.

Halaman berikutnya tidak lagi kosong. Sebuah sketsa baru telah terbentuk dengan detail yang mengerikan. Kali ini gambarnya bukan lagi ruang tamu atau denah, melainkan sebuah perspektif dari lorong lantai dua, tepat di depan ambang pintu kamar putri mereka.

Lihat selengkapnya