Sketches of the Unseen (Sketsa yang Tak Terlihat)

arunika sekar
Chapter #5

Kabut yang Menutup Jalan

Clara terbangun dengan rasa kaku yang menusuk di sepanjang tulang punggungnya. Ia masih terduduk di atas karpet bulu, punggungnya bersandar pada pintu kamar Olivia yang ia kunci rapat dari dalam sejak semalam. Dinginnya lantai kayu seolah merayap menembus pakaiannya, mengingatkannya pada malam yang mencekam saat ia memilih berjaga di sini daripada tidur di kamarnya sendiri.

Sinar matahari yang seharusnya menyirami kamar dengan kehangatan pesisir Cornwall, pagi ini terasa redup dan pucat. Cahayanya tampak payah, seolah-olah harus berjuang menembus lapisan filter yang sangat tebal sebelum akhirnya jatuh di atas tempat tidur Olivia yang masih terlelap.

Dengan gerakan lambat dan sendi yang berderit, Clara berdiri. Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah Samudra Atlantik, lalu menyibak tirainya. Ia tersentak, jemarinya membeku di atas kain linen.

Dunia di luar sana telah lenyap.

Pemandangan laut yang biru, tebing-tebing curam Tanjung Blackwood, bahkan pagar balkon di depan matanya sendiri tidak lagi terlihat. Semuanya tertelan oleh kabut putih yang sangat padat dan diam. Kabut itu tidak bergerak ditiup angin, hanya menggantung di sana, menempel pada kaca jendela seperti kapas basah yang dingin. Suara deburan ombak yang biasanya menjadi latar belakang ritmis di Blackwood Manor kini hilang sama sekali, digantikan oleh kesunyian yang begitu pekat hingga Clara bisa mendengar detak jantungnya yang tidak beraturan.

Ia meraba saku mantelnya, mencari mawar hitam itu. Namun, jemarinya justru tertusuk sesuatu yang tajam. Saat ia menarik tangannya keluar, mawar itu telah berubah. Kelopaknya benar-benar lenyap, menyisakan tangkai yang mengering, menghitam, dan dipenuhi duri-duri runcing yang tampak seperti kawat berduri. Tidak ada lagi bau busuk yang manis; sekarang hanya ada bau hangus yang samar, seolah-olah bunga itu telah terbakar dari dalam.

Clara segera keluar dari kamar. Ia harus menemukan Adrian.

Permukaan kayu di lorong lantai dua terasa sangat dingin di bawah telapak kakinya yang telanjang. Saat ia menuruni tangga, suaminya sedang duduk di sofa ruang tamu. Adrian tidak lagi tampak berantakan seperti semalam. Ia duduk dengan punggung tegak, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup kabut, sangat tenang. Di atas meja kopi di depannya, tersebar beberapa lembar kertas denah rumah yang semalam masih berantakan, namun kini tertata dengan presisi yang menakutkan.

"Adrian?" panggil Clara pelan.

Suaminya menoleh. Wajahnya tampak sangat bersih, seolah-olah kelelahan dan gurat kecemasan semalam telah dihapus oleh tangan tak kasat mata. Namun matanya—matanya terasa kosong, seperti permukaan danau yang membeku di tengah musim dingin Inggris yang ekstrem.

"Pagi, Clara," ujar Adrian dengan nada datar, tanpa emosi. "Kau bangun terlambat. Kabut ini sangat sempurna, bukan? Ia menghalangi semua gangguan dari luar agar kita bisa fokus pada apa yang ada di dalam."

Clara mendekat, namun berhenti dua langkah sebelum mencapai sofa. Ia melihat pergelangan tangan kiri Adrian yang menyembul dari balik lengan kemejanya. Di sana, terdapat bekas kemerahan yang melingkar, sebuah tanda lebam yang menyerupai bekas cengkeraman tangan yang sangat kuat.

"Tanganmu kenapa, Adrian?"

Adrian melirik pergelangan tangannya seolah itu adalah benda asing. "Ini? Hanya lecet saat membantu Mr. Abernathy di bawah tanah semalam. Aku tidak menyadarinya. Sebenarnya, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku sedang mencoba memperbaiki denah perpustakaan. Ada beberapa garis yang salah di sini, Clara. Garis-garis yang tidak simetris."

Adrian mulai menggoreskan pena di atas denah dengan gerakan kaku. Ia tidak lagi menggambar jendela atau pintu; ia menggambar serangkaian kotak kecil yang saling mengunci, menyerupai labirin yang rumit.

Lihat selengkapnya