Untukku yang akan terlahir kembali.
Hari ini menjadi hari ketiga aku di sini, di desa ini bersama seseorang yang mengakui dirinya sebagai adik dari Ibuku. Dia menyuruhku untuk memanggilnya sebagai Paman.
Paman meninggalkan diriku sendirian di sebuah taman. Tempat yang ramai oleh berbagai macam orang. Lalu jika surya tertutupi awan, hawa di sini dapat menenangkan diri ini.
Senja itu, diri ini bertanya-bertanya, apakah orang-orang di sini punya hubungan satu sama lain? Mereka saling berbicara satu sama lain dengan hangat, hanya diri ini yang sedari siang hingga senja terduduk di sebuah kursi tanpa melakukan apapun. Mengeluarkan satu not suara pun tiada kulakukan. Melihat mereka saling bertukar kata. Rasanya diri ini mulai panas namun dingin juga. Perasaan apa ini?
Mungkin engkau yang membaca ini sadar akan kondisi diri ini, kita terlahir bukan untuk berada di sini. Kita terlahir untuk mati! Diri ini ingin sekali berkata agar engkau dapat melanjutkan hidup. Hanya, tangan dan bibirku tergenggam oleh tali pengikat waktu.
***
Untukku yang membaca ini.
Mungkin diri ini yang dulu telah berkata bahwa tangan dan bibirnya terikat oleh waktu. Namun, kali ini ‘Aku’ berkata “Lanjutkan hidupmu!”
Kamu tahu, mungkin yang dikatakan diri ini yang dulu ada benarnya, bahwa waktu telah mengikat kita. Hanya saja, hari ini aku merasakan sesuatu yang hangat di dalam tubuh.
Aku bahkan dapat merasakan, sesuatu dalam tubuh ini yang dinamai jantung, terus bergetar dengan cepat. Bahkan suaranya entah mengapa terdengar jelas dalam kepala. Dug, dug, dug!
Kamu tahu apa penyebabnya? Hari ini di taman, seseorang menghampiriku, dengan riangnya ia bercerita tentang masa kecilnya. Pertama kalinya aku merasa perutku dapat terkocok hanya karena nada orang itu yang begitu menarik. Lanjutkan hidupmu! Wahai diriku yang membaca ini. Orang itu berkata akan menemuiku lagi.
***
Untukku yang harus melanjutkan hidup!
Hari ini seseorang datang menemuiku. Entah mengapa ia tahu bahwa namaku Aya. Diri ini berpikir mungkin perempuan inilah yang ditemui diriku kemarin hari.
Di catatan diriku yang lalu itu tidak disebutkan nama dan jenis orang itu. Oleh karenanya, diri ini sempat gugup untuk berbicara langsung dengannya.
Namun tenang saja, dia perempuan yang sangat baik. Aku dapat merasakan hal-hal yang ditulis oleh diriku kemarin hari. Hangat rasanya tubuh ini jika mengingat semua kejadian yang teralami.
Diri ini tahu, engkau yang membaca ini pasti merasa sedih atau sedang tertekan berat. Tetapi setidaknya ingatlah namanya, diri ini yakin dia akan datang lagi. Namanya Irama, kau bisa memanggilnya Ira agar dapat lebih terasa akrab.
***
Untukku yang harus bertemu dengan Irama.
Jangan tertekan! Jangan menangisi diri! Walau waktu hanya memberi kita dua belas jam saja! Engkau tetap harus bertemu dengan Irama! Pergilah ke taman, tunggulah di sana seorang perempuan muda yang selalu tersenyum. Senyum yang akan menghangatkan hatimu yang sedang membaca ini.