Sketsa Juwita

hatentea
Chapter #4

Dunia Sebesar Telapak Tangan

Berita yang tertera di layar genggaman tangannya itu menampilkan grafik merah menanjak. Menggambarkan harga-harga bahan pokok yang katanya akan naik minggu depan. Pria itu mengetuk-ngetukkan ibu jarinya ke kolom komentar, mengetik umpatan demi umpatan dengan kecepatan yang tak pernah dimiliki mulutnya. Sedangkan, yang keluar dari bibirnya hanya tawa kecil tertahan perut, seolah amarah dan tawa adalah dua hal yang bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu.

Pria itu berdiri bersandar pada tiang besi bus, satu tangan menggantung pada pegangan di atas kepala, satu lagi sibuk menggulir layar. Di bagian depan bus, papan informasi menyala: lima menit lagi menuju terminal. Ia melirik sekilas, lalu pandangnya kembali ke layar, memberi like pada sebuah unggahan yang membuatnya terkekeh di tengah keramaian yang ia hiraukan.

Ding. Pssh.

Pintu bus pun terbuka dan gelombang manusia mulai berdesak masuk, mendorong gelombang keluar, menjadikan ruang sempit yang tidak lebih dari dua meter itu sebuah medan perang kecil. Pria berkemeja biru tua itu menyempitkan badannya, mencoba memberi jalan meski perutnya yang mulai membuncit membuat usaha itu nyaris tak berarti. Pria itu masukkan ponselnya ke saku dada, lalu berjalan pelan sambil sedikit-sedikit mendorong orang di depannya. Setelah ia tiba di ambang pintu keluar, tanpa ragu pria itu melompat turun.

Namun naas, seseorang yang berlari mengejar bus yang baru saja bergerak menabrak bahu kiri pria tersebut. Ponsel yang hendak ia keluarkan terlempar, melayang sesaat di udara siang yang terik, lalu jatuh membentur aspal yang sudah memanas.

“Anjingggg!”

Untuk pertama kalinya hari itu, umpatan benar-benar keluar dari mulutnya. Layar yang kini retak bagai sarang laba-laba menatapnya balik, mencerminkan wajahnya yang kini terbelah menjadi beberapa bagian. Ia menoleh mencari orang yang menabraknya, tapi bus sudah menjauh, membawa pelakunya bersama deru mesin.

Pria itu sangat ingin mengejar bus tersebut. Namun hanya beberapa langkah lari, ia sadar bahwa kaki-kakinya bukan lagi kaki-kaki yang bisa berlari tanpa henti seperti dulu. Kaki-kaki tunas belia yang berkeliaran bertualang tanpa rantai ekspektasi. Masa ketika imajinasi belum menjadi halusinasi. Dengan pundak tertunduk, ia pun berjalan kembali lalu memungut ponselnya dari aspal.

“Aw, panas, panas, panas—ah, bajingan sekali!”

Diusap-usapkannya benda itu ke celana bahan, mencoba meredakan panas sekaligus membuang pasir yang menempel. Ditekannya tombol daya beberapa detik, berharap dapat melihat wallpaper aktris idamannya. Hanya saja, ekspektasi itu patah ketika layar putih kosonglah menyambutnya.

“Oh, Tuhan…”

Pria menoleh kanan-kiri, berharap ada tukang servis dadakan di dekat sana. Meskipun ia sadar kalau realita selalu memutus harapannya. Setelah yakin tak menemukan yang dicarinya, ia pun berjalan ke arah terminal, ke kerumunan orang yang duduk dan berdiri menunggu kendaraan yang akan membawa mereka kembali ke rutinitas.

Seorang gadis muda, mungkin masih seorang mahasiswi, duduk paling dekat dengannya, mata terpaku pada layar di tangan. Pria itu memanggil beberapa kali, namun tak ada respon tak ada sahutan. Setelah beberapa saat, barulah ia sadar akan adanya airpod putih kecil terselip di telinga gadis itu. Benda kecil yang menciptakan dinding tipis pemisah dunia gadis itu dari dunia di sekitarnya. Pria itu hanya dapat menggeleng kecil, nyalinya tak cukup untuk mengusik fokus gadis muda tersebut.

Pria itu lalu berpaling ke seorang pria berkemeja kantoran yang berdiri menunduk, menyandarkan salah satu pundaknya pada salah satu pilar terminal yang catnya telah pudar oleh waktu. Matanya menyala memantulkan layar yang menampilkan seorang wanita menari, meliuk-liukkan badan idealnya. Senyum kecil terbit di wajah pria itu, tawa terkekeh di mulutnya yang terbuka sedikit itu terdengar pelan di hiruk pikuk kehidupan terminal. Mendengar tawa itu, pria itu ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan melangkah maju, merasa konyol kalau harus berbalik hanya karena merasa orang di depannya sedikit “aneh”. Namun sebelum sempat pria itu membuka mulut, pria berkemeja itu memutar badan, memunggunginya. Pria itu tak menyangka, ternyata penolakan datang lebih dulu daripada sapaan.

Lihat selengkapnya