Sketsa Juwita

hatentea
Chapter #5

Gadis Berpayung Merah

“Oh, lumayan rame juga nih tempat.”

Suara itu berat, serak, dan penuh dengan optimisme. Aku menoleh ke samping, menatap pria paruh baya yang berdiri kokoh di atas trotoar yang retak. Pria itu adalah adalah Bosku. Dia memakai kemeja putih berlengan panjang, dengan bagian lengannya yang dilipat hingga siku, memperlihatkan lengannya yang gempal dan agak kemerahan akibat pancaran surya. Di wajahnya, bulir-bulir keringat mengucur deras, menciptakan jalur-jalur basah yang bermuara di kerah bajunya. Meskipun panas siang itu terasa seperti sedang memanggang kepala, sebuah senyum lebar mekar di wajahnya.

Mata Bosku begitu berbinar, memandangi arus kendaraan yang terjepit dalam kemacetan panjang di depan kami. Baginya, setiap knalpot yang mengepulkan asap dan setiap wajah di balik kaca jendela mobil adalah peluang. Keramaian adalah berkah, tak peduli betapa beracunnya udara yang kami hirup.

Di lain pihak, ada aku. Jika Bosku adalah api yang berkobar, aku hanyalah arang yang hampir menjadi abu. Kemejaku sudah bukan lagi pakaian, melainkan telah menjelma menjadi kulit kedua yang basah nan lengket. Ditambah lagi, keringat dari keningku terus-menerus merembes masuk ke mata, membawa rasa perih yang menyebalkan, membuat pandanganku sedikit kabur. Setiap kali aku mencoba mengusapnya, jari-jariku hanya menambah rasa perih dengan kotoran jalanan.

“Mm, tempat ini ramai, Bos,” jawabku otomatis mengiyakan. Aku mencoba menyunggingkan senyum yang serupa dengan miliknya, namun senyum itu langsung berubah menjadi ringisan masam ketika setetes keringat masuk ke mulut. “Dan panas banget…” tambahku merintih pelan.

Di depan kami, aspal jalanan tampak bergetar. Gelombang panas menciptakan ilusi fatamorgana, seolah-olah kendaraan-kendaraan itu sedang berenang di atas air yang mendidih. Lampu merah di persimpangan itu terasa seperti abadi, menahan ratusan manusia dalam kotak-kotak besi panas mereka. Klakson bersahut-sahutan, menciptakan sebuah simfoni kekacauan yang tak henti-hentinya menyuarakan rasa frustrasi.

Bosku mengusap keningnya dengan sapu tangan cokelat yang sudah lembap. Ia tidak terganggu oleh suara klakson itu. Ia justru menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sigap, mengamati gerombolan pejalan kaki yang berjalan cepat di trotoar ataupun mereka yang menyebrang jalanan secara sembarang. Kuyakin mereka semua memiliki pemikiran yang sama, secepat mungkin menjauh dari dalam oven menyala ini.

Sungguh, bila kumemiliki kebebasan, ingin sekali aku melarikan diri dari sini. Contohnya saja, lari ke seberang jalan sana, di mana terdapat sebuah taman kecil bak oasis bagi kami yang tersiksa. Di sana ada sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang, cabang-cabangnya menjuntai ke bawah menciptakan kanopi hijau yang gelap dan sejuk. Di bawahnya, beberapa bangku taman besi berdiri dengan tenang.

Di salah satu bangku dengan cat hijau tua yang telah mengelupas itu, aku melihat seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya, mereka tampak berbagi tawa kecil yang tak terdengar oleh bisingnya mesin bus. Di sana pula, di bangku yang paling ujung, ada juga seorang gadis yang duduk diam. Gadis itu memandangi jalanan di depannya, dengan senyum tipis tercipta di wajah bagai sebuah pahatan sempurna. Sebuah payung merah terbuka lebar di atas kepala sang gadis, melindungi sosoknya dari sisa-sisa cahaya mentari yang mungkin berhasil menembus celah dedaunan beringin.

Hah? Payung? Kenapa?

Pikiranku agak kebingungan oleh pemandangan itu. Gadis itu sudah berada di bawah naungan sang pohon besar. Untuk apa payung merah itu? Hujan? Tidak, aku yakin tiada hujan beberapa hari terakhir ini. Aku menengadah ke angkasa, menantang matahari yang berdiri tegak tanpa malu di puncak langit. Di samping sang mentari hanyalah lautan biru bersih, tak ada satu pun gumpalan awan yang bisa menjanjikan setetes air.

“Awan pun tak ada, mana ada hujan…” gumamku tanpa sadar.

“Hm? Hujan? Di mana?” Suara Bosku menyahut seketika.

“Ugh, enggak Bos. Cuma ngomong sendiri aja,” sahutku cepat, merasa bodoh karena memikirkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Bosku tampak kebingungan sebentar, tapi segera digantikan oleh energi yang meluap. Tangan besarnya mendarat dengan keras di punggungku. Plak! Sebuah hantaman yang ia sebut sebagai "tepukan sayang" itu menyambar, membuat otot-ototku yang sudah lemas itu berteriak kesakitan. Bosku menyuruh berdiri tegap, sambil memberi wejangan kalau sebagai lelaki jangan terlihat loyo di ruang publik.

“Mm, bagus. Tempat ini benar-benar mantap! Banyak yang lewat, ramai sama pejalan kaki dan juga yang pakai kendaraan,” ujarnya masih dengan senyum lebar di wajah, gigi-gigi putih besarnya terpampang jelas, memantulkan cahaya.

“Yep, setuju, Bos,” tanggapku pendek.

“Kamu stay di sini, Lon,” titahnya, sukses membuat kepalaku yang loyo itu langsung menengok dengan cepat. Sebelum sempat aku menyanggah perintah itu, Bosku telah menyerahkan sebuah kantong plastik besar ke tanganku. Di dalamnya terdapat ribuan lembar pamflet kertas mengkilap berisi promosi sepeda motor. “Untuk hari ini, setidaknya habiskan setengahnya saja. Semangat, Lon!”.

Setengah? Mataku langsung melirik ke arah kantong plastik itu, mencoba membayangkan berapa lama waktu yang harus kuhabiskan untuk mengosongkannya. Semakin lama kupandang, semakin pula wajahku mengerut.

“Anu, Bos… boleh tidak kalau aku mangkalnya di seberang sana saja? Sepertinya lebih sejuk di bawah beringin itu, dan orang yang mau masuk taman juga banyak,” tanyaku dengan nada ragu. Sebagai karyawan rendahan, setiap pertanyaan kepada atasan terasa seperti sedang berdiri di atas tali tipis di atas jurang.

Bosku tertawa lebar dengan kedua tangan berkacak pinggang. “Ngomong apa kamu ini? Elon, lihat tuh. Kalau kamu di sana, arusnya beda. Mana ada motor yang mau berhenti di sana? Di jalur ini, mereka bakal berhenti sendiri karena lampu merah! Kamu cuma perlu jalan sedikit, kasih, mereka ambil, beres. Mantap, kan?”

Mantap palalu, matang palaku, keluhku dalam hati. Aku membayangkan diriku berdiri di sini seharian, kulitku mungkin akan segera memiliki warna yang sama dengan aspal yang terbakar ini.

Lihat selengkapnya