Sketsa Rana

Mukti
Chapter #2

Lembar Kedua

Hentakan kaki Rana terasa sedikit berat saat ia melewati pintu kelasnya. Ruangan itu sudah ramai oleh suara tawa murid-murid baru yang sibuk mencari teman sebangku. Rana menghadap kiri dan kanan seperti orang kebingungan. Ia berencana untuk duduk di tengah atau dibelakang seperti yang ia rencanakan dari dulu. Namun, ketika melangkahi depan papan tulis putih, suara yang tidak asing menghentikan langkahnya.

“Rana! Uy, Ranadika!”

Rana langsung menoleh ke suara tersebut. Di meja kedua dari meja paling depan dekat jendela, seorang laki-laki dengan seragam rapi sedang melambaikan tangan dengan heboh ke arahnya. Dia bernama Arga Mahesa.

Rana mengembuskan napas lega yang sangat jelas. Ketegangan di badannya sedikit merosot. Arga adalah teman satu SMP-nya dulu, meskipun mereka berbeda kelas. Kedekatan mereka terjalin karena mereka satu ekskul yaitu Bahasa Inggris dan bapak mereka kebetulan bekerja di satu industri yang sama, membuat Rana, Arga, dan Galih sering mengobrol bersama. Satu hal yang membuat Rana bersyukur adalah Arga merupakan tipe yang cuek dengan gosip, sehingga dia sama sekali tidak mengetahui tentang peristiwa yang dialami Rana di SMP dulu. Bagi Arga, Rana tetaplah Rana yang biasa menggambar.

Arga menepuk kursi kosong disebelahnya. “Sini, Ran! Duduk bareng gue!”

Rana berjalan mendekat, namun ia tidak langsung duduk. Ia menunjuk ke arah kursi yang mepet dengan kaca jendela. “Boleh, tapi…”

“Hmm? Apa tuh?”

“Aku pengen di sebelah jendela,” ucap Rana dengan pelan. Posisi di dekat jendela adalah benteng pertahanan terbaiknya agar bisa membuang muka ke luar ruangan kapan saja jika kecemasannya mulai kambuh.

“Hoo, seperti waktu ekskul ya. Ambil aja Ran.” Arga terkekeh sambil menggeser tasnya ke kursi sebelahnya.

Rana mengacungkan jempol kepadanya tanpa berkata apa-apa. Ia menduduki tempat tersebut lalu menghembuskan napasnya dan mengeluarkan buku sketsanya. Ia tiba-tiba menggambar suasana kelas yang sudah mulai mengobrol satu sama lain.

“Wih, gambar nih. Gambar apa Ran?” Arga yang terkejut ketika menoleh ke Rana.

“Hm? Kelas.” jawab Rana singkat.

Arga mengangguk saja, namun ia sudah tahu kalau Rana sangat jago menggambar, meskipun baru sebuah sketsa rangkaian pose dengan objek-objek.

Lihat selengkapnya