Sketsa Rana

Mukti
Chapter #3

Tatapan Hangat

Rana masih terkejut dan bingung bagaimana secara spontan ia menggambar sebuah bust-up Rami dengan style anime, style kesukaannya. Ia membuka kembali buku sketsa itu untuk mencoba menghapusnya, namun sudah disergap rasa panik karena takut ada yang melihat gambarannya dan memicu salah paham, ia menutup buku tersebut, namun dengan keras.

Brak!

Suara kebas sampul buku yang menghentak permukaan meja membuat Arga yang sedang mengobrol dengan teman barunya yang dibelakang sampai terkejut.

“Ayam ayam! Buset, Ran! Kaget aku!” Arga mengeluskan dadanya sambil menatap Rana heran. “Kenapa dah? Kayak ngelihat hantu aja.”

Teman yang dibelakangnya tertawa melihat kagetnya Arga. Rana dengan cepat merapatkan tangannya ke dada lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ia berusaha untuk menutup wajah tegangnya dan detak jantungnya yang cepat.

“Reflek…” gumam Rana dengan suara pelan.

Sebelahnya, Rami dan Thalia sempat menoleh ke Rana karena suara hentakan buku itu, namun mereka tidak tahu apa yang terjadi dan melanjutkan obrolan mereka.

Suasana kelas perlahan semakin ramai. Siswa-siswi yang semula masih canggung mulai saling berkenalan. Disudut belakang, beberapa siswa laki-laki memperdebatkan siapa yang paling jago bermain futsal dan basket. Di barisan depan, dua siswi saling membandingkan jadwal les mereka sambil sesekali tertawa kecil.

“Eh, pin BBM lu apa?” tanya seorang siswa sambil mengeluarkan ponselnya.

“Duh, adanya nomor telepon. HP gue belum ganti nih…” jawab temannya sambil terkekeh.

Tak jauh dari sana, terdengar suara kursi yang bergeser.

“Cuy, gue tukeran tempat ya? Gue gak kuat duduk di depan, nanti sering ditunjuk guru.”

“Yaelah, baru aja hari pertama cuy.”

Gelak tawa kecil pun kembali memenuhi ruangan.

Rami dan Thalia masih mengobrol santai, sesekali membahas teman-teman SMP yang ternyata tersebar di kelas lain. Arga pun sudah larut dalam percakapan dengan siswa yang duduk di belakangnya, bahkan ikut tertawa cukup keras.

Hampir semua orang menemukan seseorang untuk diajak berbicara.

Mungkin.

Di tengah keramaian itu, Rana tetap duduk diam di kursinya. Jemarinya saling menggenggam di atas buku sketsa yang tergeletak diatas meja. Ia menoleh ke arah luar jendela, masih memikirkan kenapa dengan refleknya menggambar Rami.

Lihat selengkapnya