Sketsa Rana

Mukti
Chapter #4

Makin Tahu Makin Paham

Rana membuka jaketnya sebelum ia dipanggil karena mengenakannya terkesan tidak sopan. Sebelum guru itu mengabsen murid-muridnya, ia memperkenalkan diri dahulu.

Bu Neni, guru Fisika, sekaligus wali kelas X IPA-2, juga menjelaskan bahwa dia lulusan dari mana. Guru tersebut mulai membacakan satu per satu murid-murid kelas X IPA-2, dan pada akhirnya nama Rana disebut

“Ranadika Maharnata?” panggil Bu Neni sambil mengedarkan pandangan.

“Hadir, Bu.” Rana mengangkat tangannya dan berdiri pelan dari kursinya.

Saat ia berdiri, teman sekelasnya mulai membisikkan sesuatu. Entah apa yang mereka omongkan, yang jelas pasti omongan rumor tadi di depan kelas.

“Murid-murid mohon tidak berisik”

Seluruh ruangan kembali hening. Bu Neni lanjut mengabsen murid-muridnya.

Setelah mengabsen, Bu Neni duduk di kursi khusus pengajar dan memberikan pernyataan.

“Sebelum saya mengajar, saya ingin melihat semua pengetahuan yang sudah kalian pelajari di SMP,” ucap Bu Neni dengan tegas.

Siswa-siswi kelas tersebut seketika terdiam, karena tiba-tiba ada tes dadakan yang mereka tidak ketahui.

“Coba, Ranadika Maharnata?” panggil Bu Neni sambil mengedarkan pandangan.

“I…ya Bu?” jawab Rana sambil mengangkat tangannya dengan gugup.

Bu Neni mengangguk kecil, lalu memegang spidol di genggaman tangannya.

“Rana, coba maju ke depan dan tuliskan rumus dasar untuk menghitung kecepatan akhir pada GLBB atau gerak lurus berubah beraturan.”

Seisi kelas menoleh ke arah mejanya saat Rana bangkit dari kursinya. Dengan langkah tenang meski kecemasan kecil menghantui di dadanya. Rana berjalan ke papan tulis putih, mengambil spidol dari guru tersebut, dan mulai menuliskan persamaan.

vt = v0 + a . t

Ia menuliskan persamaan tersebut dengan keterangan, rapi, dan tidak ragu sedikit pun.

“Bagus sekali, silahkan kembali duduk,” puji Bu Neni.

Rana kembali ke kursinya dengan santai. Ia menarik napas lega saat penulisannya tidak ada yang salah.

Dari barisan depan, Rami memerhatikan Rana dengan binar mata terkesima. Untuk pertama kalinya, Rami menyadari kemampuan akademik yang dimiliki cowok itu seperti yang dikatakan Thalia.

Bu Neni menuliskan 3 soal di papan tulis, rumus yang barusan ditulis Rana masih terpampang jelas disitu.

“Baik, silahkan dikerjakan secara individu atau dengan teman sebangku kalian,” ujar Bu Neni sebelum duduk di kursinya.

Rana mulai mengerjakan soalnya hanya butuh beberapa menit saja. Jemarinya menari lincah diatas kertas buku tulis. Satu soal, dua soal, dan tiga soal. Ia menyelesaikannya hanya butuh 10 menit. Setelah itu, ia mengeluarkan buku gambar nya untuk mengisi waktu luangnya. Ia menggambar sebuah mobil karena ada hubungannya dengan rumus tersebut. Ia memang tidak sebagus dalam membuat mobil, namun bentuknya sudah terlihat seperti mobil sedan.

Arga terlihat kewalahan mengerjakan soal-soal tersebut dan hanya bisa melirik pasrah ke Rana.

“Ran, lu udah beres lagi? Gila juga… gua nomor satu aja belum nemu gimana caranya nyari v0-nya.”

Lihat selengkapnya