Setelah hari-hari yang melelahkan di sekolah, Rana sudah berada di tempat paling aman di muka bumi, rumah. Cat berwarna hijau tosca, bertingkat, dan terdapat pintu garasi sudah menjadi zona aman baginya. Begitu melangkah melewati pintu depan dan menutup kamarnya di lantai dua, seluruh ketegangan yang menumpuk di pundaknya sepanjang hari seketika rontok. Di kamarnya yang tidak begitu luas, Rana tak perlu memasang topeng dingin atau mode siaga tinggi lagi. Ia tidak perlu takut ditatap dengan tatapan kasihan, dimanfaatkan, atau dihakimi karena trauma masa lalunya.
Kamar Rana adalah tempat berlindungnya. Dinding kamarnya dicat warna biru muda dengan beberapa rak kayu terpasang rapi. Di atas rak-rak itu, berjejer puluhan buku sketsa yang sudah penuh diisi gambar, alat-alat gambar, dan kertas-kertas bertumpuk hasil tes saat SMP.
Ia berjalan menuju meja belajar kayunya yang terletak persis di samping jendela kamar. Meja belajar terlihat tersusun rapi pensil dengan berbagai tingkat kepekatannya mulai dari HB hingga 8B, serta drawing pen dengan ukuran mata pena yang beragam. Drawing pen sebagai lineart setelah Rana menyelesaikan sketsanya. Terdapat juga laptop yang berguna sebagai tempat mencari referensi dan pemutar lagu.
Rana menarik kursi kayunya, duduk melipat kaki, lalu menarik napas dalam-dalam. Dadanya yang sepanjang di sekolah tadi terasa canggung dan panik akibat interaksi Rami, kini perlahan melonggar. Otot-otot wajahnya yang kaku mulai melemah.
Ia memutar musik dari laptopnya. Sebuah lagu pop Jepang memenuhi ruangan kamarnya. Entah kenapa dia merasa dengan lagu itu, ide nya bisa bermunculan terus-menerus. Lagu tersebut sanggup menurunkan detak jantungnya yang kerap berpacu liar.
Rana mengeluarkan buku sketsa dan mulai menggambar seperti biasanya. Saat ini, ia berencana menggambar peristiwa-peristiwa di sekolah, mulai dari saat ia kedepan, pertemuan dengan Arga, dan salah satunya yang membuat ia bingung, menggambar Rami.
Ia masih bertanya-tanya mengapa bisa menggambar gadis tersebut. Rana membuka halaman yang berisi bust up Rami.
Rana menatap gambar Rami cukup lama. Entah sudah berapa menit ia hanya diam memperhatikan sketsa tersebut. Ada sesuatu dari ekspresi Rami yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Bukan karena gambarnya bagus. Rana sendiri merasa garisnya masih kurang rapi dan bentuk wajahnya sedikit aneh.
Tapi satu hal, ia tetap tidak bisa menghapusnya.
“Kenapa aku menggambar dia?” Rana mengetuk ujung pensilnya pelan di meja. “Aku bahkan baru kenal dia hari ini.”
Ia menutup buku sketsanya, tetapi beberapa detik kemudian membukanya lagi. Gambar itu masih ada.
“Aneh…” Rana menghela napas.
Ia ingin merobeknya, namun merasa sangat sayang bila dibuang. Ia memutuskan untuk tetap menyimpannya dan berharap tidak ada yang melihat buku sketsanya.
Rana menatap gambar Rami cukup lama. Entah sudah berapa menit ia hanya diam memperhatikan sketsa tersebut.
Menggambar baginya selain hobi, itu juga sebagai cara untuk mendamaikan pikirannya akibat philophobia nya yang mengikis jiwanya. Saat lidahnya terlalu kaku untuk menjelaskan, pensilnya akan menggantinya dengan jujur.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu yang pelan menghilangkan keheningannya. Suara berat yang tidak asing baginya terdengar dari balik pintu kayu.
“Rana? Papah boleh masuk sebentar, Nak?”