Sketsa Rana

Mukti
Chapter #6

Langkah Kecil

Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela kelas X-IPA 2, menebarkan cahaya hangat di sudut depan ruangan. Rana mendapat jadwal piket hari ini yang baru saja dibagikan setelah pelajaran Fisika kemarin. Jemarinya yang bertinta hitam bergerak teratur mengusap penghapus, menghapus sisa tulisan di papan tulis putih.

Saat Rana sedang membersihkan sudut atas papan tulis, suara derit pintu kelas berbunyi pelan.

Griselda melangkah masuk membawa tasnya dan kali ini dengan map cokelatnya. Saat melintasi bagian depan kelas menuju mejanya, mata Griselda tak sengaja berpapasan dengan Rana yang masih berdiri memegang penghapus papan tulis. Seperti biasa, Griselda hanya memberikan senyum tipis yang ramah tanpa menuntut apa-apa.

Dada Rana sempat terasa kaku. Penghapus di tangannya ia remas sedikit lebih erat. Kebiasaan lamanya berbisik untuk membuang muka atau pura-pura sibuk. Namun, dalam denyut kecemasannya, bayangan ingatan tentang dorongan bapaknya di kamar kemarin kembali terbayang.

Papah yakin kamu bisa melewati ini kok.

Rana menelan ludahnya pelan. Ia tidak menunduk atau berpaling. Dengan keberanian yang dikumpulkan perlahan dan lidah yang terasa sedikit berat, Rana menatap Griselda lalu mengambil inisiatif untuk menyapa duluan.

“Pagi… Griselda,” bisik Rana pelan. Suaranya memang tidak keras, karena ia tidak ingin hal lain terjadi di pagi itu.

Langkah Griselda seketika terhenti. Sepasang matanya sedikit melebar penuh kejutan. Ia sama sekali tidak menduga cowok yang biasanya menutup diri rapat-rapat itu berani menyapanya terlebih dahulu.

Senyum Griselda perlahan melebar. Bukan senyum yang berlebihan, melainkan senyum hangat yang menunjukkan bahwa ia menghargai keberanian kecil itu.

“Pagi juga, Rana!” balas Griselda lembut. Suara khasnya yang bernada rendah terdengar amat menenangkan.

Tanpa membuat Rana merasa canggung atau memancing perhatian murid lain, Griselda mengangguk hangat lalu melanjutkan langkah ke bangkunya. Ada rasa lega besar yang menyapu dada Rana, ternyata menyapa tidak begitu menakutkan seperti yang ia bayangkan.

Setelah selesai dengan piketnya, Rana kembali ke mejanya dan mulai melakukan aktivitas seperti biasa, menggambar. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Rana~” Rami mendekati meja Rana.

Ia mengambil kursi kosong dan menariknya di depan Rana tanpa ragu. Ia juga membawa buku catatan Fisika yang penuh dengan silangan tinta merah.

“Rana, tolongin lagi dong…” puji Rami dengan nada memohon yang manis.

“Soal nomor 4 sampai 7 di latihan Fisika kemarin susah banget. Aku udah coba kerjain semaleman, tapi hasilnya malah aneh. Cuma kamu yang pasti tahu caranya…”

“Kenapa gak minta tolong Thalia aja?” jawab Rana dengan datar.

“Thalia belum datang, Rana… Rumahnya kan lumayan jauh…” Rami mengangkat bahu, seolah alasannya cukup masuk akal.

Arga yang baru datang meletakkan tas disebelah Rana melirik tipis, lalu menyenggol lengan Rana pelan seperti kemarin.

Lihat selengkapnya