Sketsa Rana

Mukti
Chapter #7

Topeng yang Terbuka

Sebulan telah berlalu sejak jingle pertama SMA 2 Permata berbunyi. Tiga puluh hari yang bagi murid lain hanyalah awal dari rutinitas sekolah biasa, namun bagi Rana, itu adalah rentang waktu paling mendebarkan sekaligus paling membahayakan dalam hidupnya.

Selama sebulan ini, pertahanan philophobia yang Rana bangun rapat-rapat selama bertahun-tahun di dalam kamar mendadak goyah. Hampir setiap hari, ia selalu menyapa dan menjawab sapaan Griselda, namun ia belum pernah berbicara dengannya. Lalu, saat jingle istirahat berbunyi atau ketika jam pelajaran kosong tiba, sosok gadis berkacamata kotak selalu melangkah mendatangi meja pojok belakang. Rami hadir dengan senyuman manis, gestur memohon yang lembut, serta buku catatan Fisika dan Matematika yang penuh tanda tanya.

Bagi seorang cowok yang terbiasa dijauhi, dihina, dan mengunci diri akibat trauma penolakan masa lalu, rasa “dibutuhkan” adalah candu yang sangat memabukkan. Setiap kali Rami berkata,

“Rana, cuma kamu yang bisa jelasin ini,”

atau

“Aku bersyukur banget sekelas sama kamu.”

Dada Rana terasa hangat. Rasa canggung yang merayap di dadanya perlahan terkikis oleh harapan semu bahwa mungkin saja, Rami adalah orang pertama yang benar-benar tulus ingin menjadi temannya.

Demi senyuman itu, Rana merelakan waktunya. Di kamarnya yang tenang pada malam hari, di bawah pendar lampu meja belajar bernuansa kuning hangat, Rana tak hanya merangkum materi untuk dirinya sendiri. Ia menyisihkan lembaran kertas binder bersih, merangkum rumus-rumus Fisika dan Matematika dengan tulisan tangan yang sangat rapi, menyusun langkah pengerjaan yang paling mudah dipahami, lalu menyerahkannya kepada Rami di esok harinya.

Hingga…

Hari pengumuman nilai ulangan Fisika dari Bu Neni telah tiba.

Suasana kelas X IPA-2 mendadak tegang saat Bu Neni berdiri di depan kelas membawa tumpukan kertas kuis yang telah dikoreksi. Guru paruh baya itu menatap seisi ruangan sebelum mengetukkan jarinya ke atas meja.

"Nilai tertinggi ulangan kali ini disabet oleh dua orang,” umum Bu Neni dengan nada mantap.

“Rami Nurul dan Ranadika Maharnata.”

Sorak-sorai dan tepuk tangan langsung pecah di barisan depan dan tengah. Adapun yang bersiul karena hanya mereka berdua. Teman-teman sekelas memuji, dan mengagumi pencapaian gadis itu setinggi langit. Rami tersenyum malu-malu, menanggapi sorakan itu dengan gestur rendah hati yang semakin membuat murid-murid lain bersimpati padanya.

Dari meja Rana, ia menyunggingkan senyum tipis yang sangat tulus, senyum yang sangat jarang menghiasi wajah dinginnya. Ada kehangatan besar yang membuncah di dadanya. Rasa lelahnya membantu tiap ia bertanya terbayar tuntas. Usahanya membantu Rami tidak sia-sia.

Saat jingle istirahat berbunyi, kerumunan di meja Rami perlahan terurai. Ia berdiri dari kursinya, berjalan melangkah keluar kelas bersama Thalia, dan dua siswi lainnya menuju arah taman samping sekolah.

Rana yang duduk di bangkunya meremas pelan pinggiran meja kayu. Dadanya berdebar cepat. Ia mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa di dalam dirinya untuk keluar dari zona nyaman. Ia ingin mengucapkan selamat secara langsung kepada Rami, bukan sekadar sebagai tutor saja, melainkan sebagai seorang teman yang berharap hubungan mereka telah bergeser ke arah yang lebih dekat.

“Ayo, cuman memberi dia selamat aja…” ucap Rana dalam hatinya.

Rana bangkit berdiri, namun ketika ingin pergi, ia ditahan oleh pertanyaan Arga.

“Kemana Ran?”

“Keluar bentar…” jawab Rana pelan.

Rana menyusuri koridor kelas yang mulai ramai. Ia berjalan pelan beberapa meter di belakang rombongan Rami dan Thalia, menjaga jarak agar tidak terlihat mendesak.

Lihat selengkapnya