Beberapa hari kemudian, setelah kejadian di lorong sepi, suasana di kelas X IPA-2 cukup ramai saat suara jingle istirahat berbunyi. Situasi Rana dan Rami menjadi canggung. Rami terus mencoba menghampirinya, namun Rana selalu kabur dengan alasan ada keperluan. Hampir seluruh kelas tahu bahwa Rana terus menghindari Rami setelah kejadian di lorong itu.
Rana duduk kaku di mejanya, tangannya masih sedikit gemetar di atas lembaran buku sketsa. Arga yang melihat tingkah laku dari teman sebangkunya yang tidak seperti biasanya, menghentikan kegiatan mengunyah camilannya.
“Ran, ayo ke kantin dah,” ajak Arga sambil menepuk bahu Rana pelan.
“Lu kelihatan pucat banget dari tadi. Kita cari es teh atau es jeruk biar agak segaran dikit. Yuk.”
Rana menelan ludah di tenggorokannya. Ia ingin menolak, tetapi ia melihat Rami berjalan menghampirinya.
“Hm, ayo dah, Ga… Kebetulan lagi pengen…” sahut Rana pelan.
Dengan gerakan terburu-buru, Rana bangkit berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri, Rami terlihat menundukkan kepalanya, ia kembali lagi gagal untuk meminta maaf kepadanya. Namun, tangan Rana yang masih kaku dan tidak fokus, secara tidak sengaja menggeser buku sketsa A5 yang sering ia pakai untuk menggambar.
Sreek… Thump!
Buku sketsa hijau itu terdorong melewati tepi meja, meluncur jatuh ke lantai keramik dalam posisi terbuka di sebelah meja Rana. Rana yang sedang menguatkan hatinya tidak sempat menyadari hal itu. Ia terus melangkah mengikuti Arga keluar menembus pintu kelas menuju kantin.
Di barisan meja tengah, seorang gadis berambut pendek dengan penjepit rambut berwarna kuning terang di bagian depan poninya itu terhenti saat matanya menangkap sebuah buku sketsa hijau tergeletak terbuka di dekat meja Rana.
Gadis tersebut bernama Bella Andarini. Dikenal sebagai siswi yang luwes dan sangat pandai dalam seni tari, dia bahkan terpilih untuk menari di acara festival sekolah nanti. Sebagai seseorang yang menggeledah dunia seni lewat olah tubuh dan tarian, Bella memiliki kepekaan rasa yang tinggi terhadap estetika.
Karena penasaran, Bella menyelipkan sedikit rambut pendeknya ke belakang telinga lalu melangkah mendekat dan membungkuk untuk mengambil buku itu. Namun, tepat saat jemarinya memegang tepi kertas, mata Bella membelalak kaku. Tangannya tertahan di udara.
Di atas lembaran kertas putih berukuran A5 itu, terukir arsir-arsir pekat berkekuatan tinggi. Goresan pensil 2B yang tajam menciptakan kontras gelap-terang yang teramat emosional, retakan-retakan garis yang memancarkan raungan kekecewaan dan rasa sakit yang dalam.
“Ini gambar apa… Bagus banget…” bisik Bella tanpa sadar, dadanya berdebar pelan karena kagum melihat gambar-gambar di kertas itu.
Bella mengganti halaman satu lembar kertas itu, dan detik itu juga, napas Bella tertahan.
Disana ada gambar bust-up Rami style anime. Tergambar dengan kacamata kotaknya, garis-garis yang halus, hingga ekspresi senyum terekam sangat sempurna. Bella tahu persis betapa sulitnya menggambar seseorang dengan style apa pun. Meski tidak realistis, gambar tersebut sudah memukaukan Bella.
Bella menyandarkan punggungnya di sudut meja, jemarinya menyentuh penjepit rambut di depannya sambil menatap lembaran gambar tersebut dengan decak heran dan ketidakpercayaan yang membuncah.
“Aku dengar Rana sakit hati mendengar percakapan Rami… Benarkah Rami sia-siain cowok dengan bakat ini?” batin Bella terheran-heran. “Dia cuma manfaatin cowok se-berbakat ini demi sekadar nilai ulangan 100? Rami benar-benar bodoh”
Rasa kagum yang begitu besar menyusup di dada Bella. Bakat gambar Rana bukan sekadar coretan, melainkan sebuah karya yang memiliki jiwa. Rasa penasaran Bella seketika berubah menjadi ambisi baru, keinginan untuk bisa memiliki atau menjadi bagian dari karya indah itu.
Saat Bella sedang tenggelam mengagumi lembar demi lembar sketsa tersebut, sebuah tangan meluncur cepat dari samping dan langsung menarik buku sketsa hijau itu secara tegas dari genggaman Bella.
Sret!
Ia tersentak kaget, refleks melangkah mundur setengah meter. Penjepit rambutnya sedikit tergeser akibat gerakan mendadak.