Sejak insiden buku sketsa A5-nya terjatuh, Rana menjadi jauh lebih waspada. Namun, luka akibat perlakuan Rami sebelumnya masih meninggalkan sesuatu yang sulit Rana akui. Di balik kewaspadaannya, masih ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin dipercaya dan dihargai tanpa harus merasa dimanfaatkan.
Dan Bella mengetahui satu hal, Rana memiliki bakat menggambar yang jauh di atas apa yang selama ini ia kira.
Bella memang masih merasa bersalah karena sempat membuka buku Rana tanpa izin. Rasa bersalah itu bercampur dengan kekaguman yang semakin besar terhadap kemampuan menggambarnya. Sebagai anggota ekskul tari yang sedang mempersiapkan pertunjukan sekolah, Bella sebenarnya sedang mencari seseorang yang bisa membantu membuat konsep visual untuk penampilan mereka.
Dan ketika ia melihat gambar Rana, sebuah pikiran sederhana muncul di kepalanya.
“Hmm… Jika Rana yang gambar poster pertunjukan ekskulku, pasti hasilnya keren deh…”
Saat jam kosong pelajaran Seni Budaya dan Arga sedang tidak berada di mejanya, Bella akhirnya memberanikan diri menghampiri Rana. Ia membenarkan penjepit rambut di poninya sebelum tersenyum ramah.
“Rana… lagi sibuk nggak?”
Rana yang sedang menggambar refleks mengangkat kepalanya
“Eh, engga kok, La.” Rana menggelengkan kepalanya, sedikit canggung.
Bella tertawa kecil, ia langsung menunjuk buku sketsa yang ada di atas meja.
“Aku masih kepikiran gambar kamu yang kemarin. Serius, Ran. Aku jarang lihat gambar yang ekspresinya bisa sehidup itu.”
Rana menunduk sedikit melihat buku sketsanya. Pujian itu mendarat tepat di ulu hati Rana. Dada Rana berdesir hangat. Rasa canggung yang menyelimutinya perlahan melunak.
“Ah engga kok… Biasa aja…” tanggap Rana menunduk, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang mendadak terbit di bibirnya.
“Gak Rana, enggak biasa itu…” Bella terkekeh. Ia dengan luwes mengambil posisi duduk di kursi kosong di depan Rana. Menyandarkan dagunya di atas lipatan tangan di atas meja Rana, menatap lurus ke dalam mata Rana.
“Oh aku kebetulan lagi punya sesuatu yang mau aku tanyain. Tim tari kami bakal tampil di festival sekolah. Cuman kami lagi nyari konsep visual buat posternya.”
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum.
“Kamu mau bantu nggak?”
Rana menatap Bella yang kini menatapnya penuh harap. Di balik tatapan manis gadis berambut pendek itu, bayangan kepedihan dari Rami sempat bergerak tipis. Namun, cara Bella menatapnya saat ini terasa begitu berbeda. Ia tampak begitu tulus menghargai dirinya dan karyanya.