Sinar matahari sore menembus celah-celah atap gazebo dekat taman sekolah. Suasana sekolah sudah perlahan sepi setelah jingle pulang berbunyi sepuluh menit yang lalu.
Gadis berambut panjang sebahu, Griselda, duduk di bangku kayu gazebo dengan buku catatan pelajaran yang terbuka di pangkuannya. Namun, sudah lima belas menit berlalu, jemarinya hanya memutar-mutar pulpen tanpa menuliskan apa pun. Matanya menatap kosong ke arah jendela kelas X-IPA 2 di lantai dua.
Yulia, teman sebangku Griselda yang duduk di sebelahnya sambil menikmati es teh dari kantin, memperhatikan gelagat tersebut dengan kerutan di dahi. Yulia sudah melipat tangannya dan mengamati Griselda sejak tadi.
“Gris,” panggil Yulia pelan.
Griselda tidak menyahut. Ia masih tenggelam dalam lamunannya.
“Hey! Griselda! Masih adakah?” panggil Yulia sedikit lebih keras sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.
“Eh… Yulia? Ada apa?” Griselda tersentak kaget. Pulpen di jarinya hampir terjatuh ke lantai gazebo.
Yulia mendengus pelan namun menyunggingkan senyum sambil mengamati Griselda.
“Kamu kenapa, Gris? Dari kemarin aku perhatiin kamu sering banget melamun, gak biasanya. Pas di kelas juga sama, pikiran kamu kayak kemana-mana tiap kali ngelihat cowok pendiam itu.”
“Cowok pendiam? Siapa maksud kamu?” Wajah Griselda memerah halus, namun ia berusaha tetap tenang.
“Ya siapa lagi kalau bukan Rana?” Yulia menaikkan satu alisnya, menyandarkan punggungnya di pagar gazebo.
“Agak aneh sebenarnya. Kamu tuh biasanya paling fokus kalau urusan musik dan ekskul. Tapi belakangan ini, tiap kali ada yang membahas Rana, mata kamu tertuju kepadanya. Tiap Rana lewat, kamu kasih dia senyum terus, bahkan saling menyapa. Bahkan pas Bella pegang buku sketsanya, kamu sampai pasang badan segitunya.”
Griselda menghela napas panjang setelah percakapan dengan Yulia. Ia menutup buku catatannya pelan, memeluknya di dada.
“Aku cuma… merasa kasihan dan khawatir sama dia, Yul,” bisik Griselda jujur, suaranya terdengar sangat lembut.
“Cuma kasihan? Apa iya?” tanya Yulia ragu, menatap mata sahabatnya sangat dekat.