Selama seminggu terakhir, Rana beberapa kali bertemu Bella untuk membahas revisi konsep poster. Setiap kali Bella datang dengan senyum dan pujian, tanpa sadar Rana semakin menantikan pertemuan-pertemuan kecil itu. Ia mulai menganggap perhatian Bella sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar apresiasi terhadap gambarnya.
Dalam poster tersebut, ia menggambarkan berbagai pose anggota tari, termasuk Bella, dengan gerakan yang dinamis dan ekspresi antusias khas para penari. Rana mencurahkan ketulusan terbaiknya. Dalam benaknya yang masih merindukan koneksi yang tulus, ia berharap karya ini bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat.
Suara jingle istirahat pertama telah tiba, Rana mengeluarkan buku sketsanya dari tasnya. Dengan detak jantung yang berdebar pelan akibat harapan baru, ia menunggu Bella menghampirinya. Beberapa detik kemudian, Bella menghampiri meja Rana.
“Ran, gimana? Udah beres?”
“Udah, La. Ini dilihat dulu konsep poster-nya. Semoga sekarang lebih sesuai,” tutur Rana pelan.
Bella menerima dan melihat sketsa tersebut. Seketika, sepasang matanya membelalak kaku. Senyuman takjub terbit lebar di wajahnya.
“Wah, Rana! Ini… ini bagus banget!” seru Bella heboh. “Aku-nya terlihat estetik di poster dan aku suka itu! Kamu hebat, Rana!”
Pujian itu membuat dada Rana terasa hangat. Rasa lelahnya setelah berhari-hari membuat sketsa tersebut seketika menghilang.
“Syukurlah kalau kamu suka, La.” Rana tersenyum tipis.
“Suka banget! Makasih banyak ya, Rana! Kamu sudah menolong ekskulku. Nanti aku traktirin minum ya besok.” puji Bella ramah.
Rana merobek dan memberikan kertas sketsa kepada Bella. Bella menggulung kertas tersebut dengan hati-hati dan langsung bergegas pergi ke sanggar ekskulnya. Perasaan lega dan hangat di dadanya membayangkan bahwa ia akhirnya bisa membangun ruang pertemanan yang tulus.
Dua hari kemudian, tepat saat jam pelajaran Biologi kosong, guru tersebut meminta muridnya untuk mengumpulkan tugas yang diberikannya ke mejanya di ruang guru. Arga kebetulan merupakan seksi Humas di kelas, jadi semua siswa-siswi kelas X IPA-2 mengumpulkan secara kolektif kepadanya.
Arga menuju ke ruang guru bersama Rana. Mereka berjalan melintasi lorong yang berada tepat di depan sanggar ekskul tari sekolah. Pintu tempat tersebut terbuka separuh. Dari dalam terdengar suara beberapa anggota tim tari yang sedang merapikan papan pengumuman.
“Bel, poster ekskul kita keren banget deh! Pure art banget,” seru seorang siswi senior. “Konsep sebagus ini buatan siapa?”
“Ini buatan Rana, teman sekelasku, Kak!” jawab Bella dengan nada ceria.
“Dia jago banget ngegambar. Aku aja sampai bingung waktu pertama kali lihat gambarnya.”
Langkah Rana tiba-tiba sedikit melambat. Tanpa sadar ia mendengar dari arah pintu sanggar tersebut.
“Rana?” gumam Arga. “Ada apa?”
Rana mendesis agar Arga diam.
“Sssttt…”
Rana mengalihkan pandangannya ke pintu tersebut dan hendak melanjutkan langkah. Arga bingung dengan reaksinya.
“Kalau begitu, kenapa nggak kamu dekatin aja si Rana, Bel? Kamu kan sering cerita soal dia.” goda seniornya.