Sketsa Rana

Mukti
Chapter #12

Tanpa Paksaan

Pagi itu, meja Rana terasa lebih sunyi dari biasanya. Rana duduk dengan buku sketsanya di hadapannya. Namun, ia menggambar sambil menutup dengan buku pelajaran agar terlihat seperti sedang membaca. Ia tidak ingin siapa pun melihat apa yang sedang ia gambar, apalagi membaca perasaan yang ia sembunyikan lewat setiap goresan.

Setiap kali pensilnya bergerak, tangannya selalu berhenti sepersekian detik.. Ia tidak lagi menggambar dengan santai seperti beberapa minggu sebelumnya. Setiap suara langkah yang mendekatinya membuat tangannya berhenti. Setiap kali seseorang berdiri terlalu lama di dekatnya, buku sketsa itu langsung ditutup.

Ia bahkan mulai sering memandang ke luar jendela setiap ingin menghela napasnya. Arga yang duduk di sebelahnya hanya memperhatikannya tanpa banyak bicara. Ia tahu apa yang sedang terjadi pada Rana. Rana sedang berusaha mendapatkan kembali satu-satunya tempat yang selama ini membuatnya nyaman.

“Lagi gambar, Ran?” tanya Arga pelan.

“Ya…” jawab Rana singkat sambil memandang bukunya.

Arga tersenyum kecil, lalu kembali menghadap ke depan. Ia tidak ingin mengganggunya. Beberapa menit kemudian, jingle istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser dan langkah kaki segera memenuhi kelas. Rana menutup buku sketsanya, Arga menyenggol bahu Rana.

“Ke kantin seperti biasa, Ran?”

“Hm…” singkat Rana.

Namun, sebelum sempat keluar dari meja, seseorang berhenti di dekat mejanya. Rana tiba-tiba kaku, Arga langsung menoleh. Ternyata Griselda sudah berdiri di sana. Di tangannya terdapat sebuah map tipis dan beberapa lembar kertas. Arga sempat mengernyit. Ia masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika buku sketsa Rana menjadi bahan perhatian banyak orang. Griselda menghampiri meja mereka beberapa langkah.

“Arga, boleh aku bicara sebentar sama Rana?” katanya pelan.

Rana tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya terdiam.

“Mau ngapain?” tanya Arga, terlihat seperti sedang melindungi temannya.

Griselda mengangguk

“Ini soal Pentas Seni antarkelas,”

Arga terlihat ragu untuk meninggalkan Rana, namun dari cara bicara Griselda, ia mengiyakannya.

“Oke. Ran, tunggu disini. Biar aku beliin roti kesukaanmu disana.”

Rana hanya mengangguk kecil. Setelah Arga meninggalkannya, suasana di meja tersebut kembali sunyi. Griselda memilih tidak langsung duduk, ia justru masih berdiri di tempatnya. Sikap itu membuat Rana sedikit heran.

“Ada apa?” suara Rana terdengar datar.

“Aku mau menawarkan sesuatu.” Griselda tersenyum tipis.

“Kalau soal tugas, aku lagi gak mau ngerjain tugas tambahan…” Rana memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Oh, bukan tugas tambahan…”

Griselda mengangkat map tipis di tangannya.

“Tapi, kerja sama…”

Rana mengernyit, ia kembali mengarah ke Griselda.

“Bukannya sama aja?”

Lihat selengkapnya