Suasana koridor lantai dasar SMA 2 Permata mulai sepi saat jarum jam menunjuk angka empat sore. Sebagian besar murid telah pulang, adapun yang sedang melaksanakan kegiatan ekskul mereka.
Rana sempat melihat jam tangannya sekali lagi. Ia tidak terlambat. Setidaknya, untuk kesepakatan ini, ia ingin menepati bagiannya. Ia melangkah perlahan di sepanjang lorong menuju ruang seni. Ruang tersebut terlihat tertutup, dan tidak ada orang disekitarnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat akibat sisa-sisa kewaspadaannya, namun rasa penasaran dan komitmennya tadi siang mendorong kakinya untuk tetap maju. Rana mencoba membuka pintu kayu itu, tapi ternyata terkunci rapat.
“Hmm… Terkunci?”
Rana berdiri terdiam sejenak di depan pintu. Sebelum benaknya sempat dipenuhi keraguan, suara langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar mendekat dari ujung lorong. Griselda berjalan mendekat sambil membawa sebuah map dan tas selempangnya. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kunci ruang seni dengan gantungan kayu. Ia memberikan senyum tipis yang ramah namun berjarak netral.
“Sore, Rana,” sapa Griselda pelan, suaranya teratur dan tenang.
“Maaf ya buat kamu menunggu. Aku lupa bilang ke anak-anak kalau sore ini kita pakai ruangannya.”
Rana hanya membalasnya dengan anggukan. Griselda memasukan kunci ke dalam lubang pintu. Suara klik bergaung pelan saat kuncinya berputar. Ia mendorong pintu kayu tersebut lebar-lebar, membiarkan aroma khas minyak kanvas, cat akrilik, dan kayu tua menyapa penciuman mereka.
Ruangan itu kosong. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar di sisi ruangan. Beberapa meja panjang tersusun di tengah, sementara kanvas, papan gambar, dan berbagai perlengkapan seni tersimpan di rak-rak sepanjang dinding. Griselda melangkah masuk lebih dulu, menyalakan kipas ruangan agar tidak kepanasan.
Rana menghembuskan napas lega. Sesuai harapannya, ruangan sepi. Ia langsung menduduki meja yang paling dekat dengan jendela, meletakkan tas di kursi, dan buku sketsa dan kotak pensilnya di meja. Griselda tidak langsung memilih kursi dekat dengan meja Rana. Ia justru memilih kursi di sisi lain. Rana memperhatikan sebentar, kemudian kembali melihat bukunya.
“Konsepnya, kamu bawa?”
Griselda mengangguk.
“Bawa. Ini konsep pertunjukannya.” Griselda mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map dan meletakkannya di tengah meja. Rana meraih kertas tersebut. Ia membaca beberapa bagian dengan perlahan.
“Hm? Judul lagu? Belum ada?” tanya Rana bingung.
“Belum final. Aku masih mencari aransemen yang cocok.”
Rana mengangguk, ia kembali membaca konsepnya. Konsep pertunjukan itu bercerita tentang seseorang yang berada dalam kesendirian, kemudian perlahan menemukan keberanian untuk kembali melangkah. Rana berhenti membaca pada bagian tersebut.
“Ini, temanya tentang apa?”
“Menurutmu?”
Rana mengerutkan dahinya dan mengangkat pandangan.
“Loh, kenapa tanya aku?”
“Karena kamu yang bakal menerjemahkannya lewat gambar.”
Rana terdiam. Ia kembali membaca konsep tersebut.
“Kesepian di awal… diakhiri dengan harapan.”
“Kurang lebih seperti itu.”
“Begitu jadinya…” Rana mengetuk ujung pensilnya pada meja.
“Berarti jangan terlalu banyak warna gelap. Karena kalau awal sampai akhir terlalu gelap, perubahan suasananya nggak bakal kelihatan,” lanjutnya.
Griselda terlihat sedikit terkejut dan langsung memperhatikan Rana.
“Kamu sudah kepikiran kah?”
“Uhh, sedikit…” jawab Rana gugup.
Rana membuka halaman baru. Ia mulai membuat beberapa garis.
“Awal bisa kosong… Latar belakang sederhana. Nggak perlu banyak objek.”
Ia menambahkan beberapa garis tipis.
“Terus ketika lagunya mulai naik, baru muncul bentuk.”