Sketsa Rana

Mukti
Chapter #14

Sosok Pemicu

Seminggu telah berlalu sejak kesepakatan untuk kerja sama dimulai. Kegiatan di ruang seni berjalan persis sesuai poin-poin kesepakatan. Rana mulai terbiasa dengan suasana ruang seni. Ia tidak lagi merasa perlu memeriksa pintu setiap beberapa menit. Ia bisa menggambar sementara Griselda berlatih vokal di sisi lain ruangan tanpa merasa terganggu. Untuk sementara, ruang seni cukup menjadi tempat yang tenang baginya.

Siang itu, saat jam istirahat kedua berbunyi, Rana memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar. Ia membawa buku sketsa A5 dan pensil kuningnya, lalu melangkah menuju tribun atas di tepi lapangan olahraga sekolah, sudut yang biasanya cukup sepi untuk mengamati pencahayaan alami yang kelak akan ia buat ke dalam latar panggung nanti.

Ia duduk di bangku semen teratas, menyandarkan punggungnya, lalu mulai menarik garis-garis sketsa pencahayaan matahari.

Suara riuh murid-murid terdengar dari tengah lapangan bawah. Sekelompok pengurus OSIS sedang mempersiapkan lapangan untuk agenda kegiatan sekolah. Rana yang semula fokus pada kertasnya refleks melirik ke bawah sekilas.

Di tengah kerumunan pengurus OSIS tersebut, seorang siswi berambut panjang sedang berdiri memegang papan clipboard. Gadis itu tertawa renyah sambil membagikan instruksi kepada anggota panitia lainnya.

Seketika, gerakan pensil di tangan Rana terhenti mendadak. Matanya tiba-tiba membelalak kaku. Cahaya di matanya seketika meredup, menyisakan tatapan kosong yang disergap rasa ketakutan ekstrem. Rambut panjang, senyum yang sama, wajah yang tak asing. Buku di tangannya terlepas.

“Kak Dian?”

Gadis berambut panjang yang dilihat Rana adalah Dian Safitri, siswi kelas XI-IPA 1, senior yang dua tahun lalu menghancurkan seluruh harga diri dan kesehatan emosional Rana melalui penolakan yang mempermalukan di depan kelas sampai dibicarakan oleh murid-murid lain. Rana sama sekali tidak tahu bahwa Dian bersekolah di SMA ini.

Kilas balik masa lalu meledak tanpa ampun di dalam kepala Rana. Suara gelak tawa ejekan dari anak-anak SMP dua tahun lalu mendadak bergema bising di telinganya. Dinding-dinding memori pahit itu rubuh, menghimpit dada Rana hingga ia kesulitan menarik napas. Pensil di jarinya terlepas, dan meluncur jatuh ke anak tangga semen tribun.

Jari-jari Rana mulai gemetar. Dadanya naik turun kencang saat trauma menyergap jiwanya secara mendadak. Sensasi mual mulai terasa membakar di perutnya, dan pandangannya mulai kabur berpendar. Rana memegangi dadanya yang sesak, meremas kaos seragamnya sendiri, tidak sanggup berdiri atau lari.

Tepat saat kondisi Rana makin memburuk, sebuah tangan merangkul bahu Rana dari belakang secara cekatan.

“Ran! Lihat gue! Jangan lihat ke bawah!” suara rendah dan tegas memotong gemuruh di kepala Rana.

“Huh? Galih?” ucap Rana terlihat pusing.

“Gue bawa lu ke UKS ya!”

Galih menyelamatkan Rana di waktu yang tepat. Ia kebetulan melihat Rana keluar kelas membawa buku sketsanya. Karena Rana biasanya tidak pergi sendiri atau sejauh itu saat istirahat, ia merasa penasaran dan menyusul beberapa saat kemudian.

Ia langsung sigap mengambil buku sketsa dan pensil Rana yang jatuh. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Galih membimbing tubuh Rana yang lemas dan gemetar untuk berbalik membelakangi lapangan, membawanya melangkah menjauh menuju lorong sepi menuju UKS sebelum Dian sempat menyadari keberadaan mereka.

Di selasar sepi dekat ruang UKS, Rana duduk tersandar di bangku kayu dengan wajah yang pucat. Galih memberikan segelas air hangat yang langsung diminum Rana dengan tangan yang masih sedikit bergetar.

“Sial…” Rana memegang kepalanya.

“Ran, lu tumben banget keluar jauh dari kelas. Lagi ngapain emangnya?” Galih mengernyit

“Ba-barusan nyari inspirasi buat pentas seni, Lih. Kalau dikelas, gak dapet terus…”

“Gitu ya…”

Galih menarik kursi kayu di dekat ranjang, duduk membungkuk sejajar dengan Rana, menatap sahabatnya itu dengan rasa cemas namun tegas dari balik kacamatanya.

“Lih…” bisik Rana, suaranya gemetar. Matanya memancarkan rasa tidak percaya dan ketakutan mendalam.

“Dia… Kak Dian ada disini, Lih… Aku enggak salah liat, kan?”

Galih menepuk bahu Rana, memberikan tekanan untuk menenangkan tubuhnya yang gemetar.

“Enggak Ran. Dengerin gue, kamu udah di UKS sekarang. Kak Dian ada di lapangan, dia enggak lihat kamu tadi dan dia enggak bakal bisa menyentuhmu disini.” jawab Galih dengan tenang.

Lihat selengkapnya