Sketsa Rana

Mukti
Chapter #15

Jawaban

Dua tahun lalu, Rana belum mengenal cara membangun benteng di sekeliling dirinya. Ia hanyalah seorang siswa kelas VIII yang polos dan pemalu, dengan harapan sederhana setiap kali melihat Dian, siswi kelas IX yang populer dan berprestasi.

Sore itu, halaman belakang SMP 3 Garuda masih dipenuhi suara murid-murid yang baru saja selesai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Matahari mulai terbenam di balik gedung sekolah, meninggalkan bayangan di sepanjang koridor.

Rana saat itu duduk sendirian di bangku dekat taman. Di tangannya terdapat sebuah amplop putih yang sudah beberapa kali ia lipat dan buka kembali. Nama “Kak Dian” tertulis kecil di bagian depan. Rana menatap tulisan tersebut cukup lama. Sudah hampir sebulan ia menyimpan perasaan itu sendiri. Awalnya hanya karena gadis itu sering membantunya ketika kegiatan kelas dan dia pernah memuji gambar yang dibuat Rana untuk tugas seni.

Entah sejak kapan, perhatian kecil tersebut membuat Rana mulai menunggu-nunggu kehadiran Dian. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin perasaan itu sulit disembunyikan. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti melarikan diri.

Ia berdiri dari bangku tersebut lalu menuju kelas Dian sambil membawa amplop putih yang ia bawa. Langkahnya terasa berat ketika berjalan menuju ruang kelas. Dian masih berada disana, ia sedang membereskan buku bersama beberapa temannya. Ketika melihat Rana berdiri di depan pintu, Dian mengangkat wajahnya dan menoleh ke Rana.

“Eh, Rana?”

Rana menelan ludah.

“Kak… Bisa bicara sebentar?”

“Hmm… Boleh.”

Dian terlihat sedikit bingung, tetapi kemudian mengangguk. Mereka berjalan menuju ujung koridor yang lebih sepi. Rana berdiri beberapa langkah di depan Dian. Suasana terasa hening, kemudian Dian akhirnya bertanya.

“Kenapa Rana? Kok kamu kelihatan geter gitu?”

“Aku…” Rana menggenggam ujung bajunya, suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar.

“Ya…?” Dian terlihat menunggu ucapan Rana.

Rana membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya semakin erat menggenggam ujung seragam.

“Ayo bilang, Ran!”

Ia menarik napas panjang.

“Aku suka sama Kakak!”

Dian langsung terdiam. Rana merasakan jantungnya berdetak begitu keras

“Aku tahu mungkin ini tiba-tiba. Aku juga nggak berharap kamu harus jawab sekarang.” lanjut Rana sebelum keberaniannya menghilang.

Ia mengeluarkan amplop putih dari saku dengan tangan gemetar lalu memberikannya kepada Dian. Dian menerima amplop itu. Tatapannya berpindah dari amplop ke wajah Rana.

“Rana… Maaf.”

Rana terdiam.

“Aku nggak punya perasaan seperti itu ke kamu.” ucap Dian dengan lembut.

Rana menundukkan kepala. Ia merasa kecewa, tetapi anehnya ia masih bisa menerima jawaban itu.

“Hm… Ya sudah, gak apa-apa.” Rana tersenyum kecil.

Dian menghembuskan napas pelan, seolah baru saja melewati percakapan yang cukup berat baginya. Rana langsung memasukkan kedua tangannya ke saku, dan mereka kemudian berpisah.

Lihat selengkapnya