Sejak kejadian beberapa hari yang lalu ketika trauma Rana kambuh hingga ia dibawa ke UKS, Ia memutuskan untuk tidak lagi pergi jauh dari kelas. Ia khawatir akan kembali bertemu Dian tanpa sengaja. Karena itu, saat jam istirahat, ia lebih sering menitipkan jajanan kepada Arga.
Siang itu, Rana duduk di bangkunya saat jam istirahat. Buku sketsa A5-nya terbuka di hadapannya. Ia mencoba menuangkan sisa-sisa kegelisahan beberapa hari terakhir ke dalam gambar. Ia tidak menggambar Dian secara langsung, melainkan hanya sebuah tribun kosong, bayangan seseorang yang duduk sendirian, dan sosok kecil yang berdiri jauh di bawahnya. Setiap goresan pensilnya terasa seperti cara untuk mengeluarkan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki tegas berhenti tepat di samping meja Rana. Thalia berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Sebagai rival akademik Rana sejak SMP dan sosok yang pertama kali mengenalkan Rami pada Rana, Thalia menatapnya dengan kerutan dahi penuh rasa tidak puas dan kebingungan.
“Rana!” panggil Thalia dengan suara lugas.
Rana tidak langsung menoleh. Ia hanya menggeser pandangannya pelan dari buku sketsanya dan menutup buku tersebut. Ia tidak tahu kenapa Thalia menghampirinya, yang ia pikirkan mungkin soal rivalitas seperti biasa. Atau mungkin soal Rami.
“Thalia? Ada apa?” sahut Rana pelan.
“Aku cuma mau tanya satu hal,” tutur Thalia sambil menaikkan satu alisnya.
“Kenapa kamu terus-terusan jauhin Rami? Pas di lorong waktu itu, Rami tuh sebenarnya mau minta maaf waktu tahu kamu disitu juga, tapi kamu memilih kabur gitu aja. Sampai sekarang Rami mau ngomong sama kamu, kamu malah buang muka. Sikapmu itu terlalu childish, tahu enggak, Ran?”
Rana diam membisu, tidak memberikan reaksi emosional apa pun terhadap tuduhan tersebut.
“Rami itu temanku,” lanjut Thalia dengan nada menuntut.
“Dia memang merasa bersalah banget ngomong gitu. Apa jangan-jangan gara-gara kejadian waktu kamu diejek satu kelas pas SMP? Pas kejadian kamu nembak Kak Dian terus ditolak?
Thalia menghela napas.
“Sejak kejadian itu kamu berubah, Rana. Kamu jadi menjauh dari orang-orang. Bahkan sekarang Rami mau minta maaf pun kamu hindari. Sampai kapan kamu mau terus lari dari masalah?”
Brak!