Sketsa Rana

Mukti
Chapter #17

Bersenandung

Keberadaan Dian yang ternyata bersekolah di SMA 2 Permata membuat kecemasan Rana berada pada level siaga penuh. Rana sengaja memetakan rute jalannya di sekolah, menghindari lapangan utama, tidak melintas di depan ruang OSIS, dan selalu bergerak cepat setiap kali jingle pulang sekolah berbunyi. Tujuannya sederhana, menghindari bertemu Dian.

Sore itu, jam di dinding kelas menunjukkan pukul 15.45, Rana membereskan buku-bukunya, dan beberapa lembar draf ke dalam tas. Hari itu, jadwalnya untuk mengerjakan latar panggung di ruang seni bersama Griselda. Ia kemudian berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah cepat tetapi tidak terburu-buru. Buku sketsanya dicengkeram dengan tangannya ketika melewati koridor yang memungkinkan untuk bertemu dengan Dian.

Setelah turun ke lantai dasar, Rana mengambil lorong yang jarang digunakan siswa. Hanya butuh beberapa meter lagi menuju ruang seni. Namun, ketika melewati sebuah tikungan dekat tangga darurat, sebuah pintu di sampingnya tiba-tiba terbuka. Seorang siswi keluar dari ruangan sambil membawa beberapa berkas OSIS. Rambut panjang yang digerai rapi, mengenakan seragam dengan atribut OSIS berupa jas. Rana menengok ke depan. Dan pada jarak kurang dari dua meter, pandangan mata mereka saling bertemu secara langsung. Dian berada di depannya.

Mereka berdua sama-sama membeku, keduanya hanya saling menatap. Wajah Dian berubah perlahan menjadi terkejut.

“Rana…?” ucap Dian gugup.

Hanya satu kata. Suara tersebut menyeret Rana kembali ke dua tahun lalu.

Kak… bisa bicara sebentar?

Aku suka sama Kakak!

Rana… Maaf

Kemudian suara tawa, suara bisikan, dan rumor-rumor yang tersebar tentang dirinya. Semua bercampur menjadi satu. Dada Rana tiba-tiba terasa sesak, tangannya menjadi dingin. Dian melangkah setengah langkah mendekatinya.

“Rana, tunggu. Aku ingin bicara denganmu.”

Ucapan itu membuat Rana mundur perlahan. Ia menatapnya tanpa benar-benar melihat wajahnya. Yang terlihat di kepalanya bukan lagi koridor SMA, melainkan kelas SMP yang dilihat oleh puluhan siswa dan membuat dirinya berdiri dengan wajah merah karena malu.

“Rana?” suara Dian terdengar semakin jauh.

“Rana, aku mau menjelaskan soal—”

“Jangan…” ucap Rana hampir tidak terdengar.

Ia menarik napas, namun udara yang masuk terasa terlalu sedikit. Dadanya semakin sempit, jantungnya berdetak begitu cepat sampai terasa menyakitkan.

“Jangan dekat-dekat!”

Dian terdiam

“Rana, aku enggak bermaksud nyakitin kamu…”

Kalimat itu justru membuat kepala Rana semakin berisik, mirip dengan semua janji yang pernah ia dengar.

“Rana…. Kumohon, dengarkan aku…”

Rana melangkah mundur lagi, lalu berbalik dan lari darinya.

“Rana…!” teriak Dian dari kejauhan.

Rana tidak menoleh. Ia berlari menyusuri koridor, sampai tidak tahu kemana harus pergi. Ia hanya tahu bahwa ia harus menjauh. Air matanya mulai keluar tanpa ia sadari. Napasnya terputus-putus.

“Jangan lihat. Jangan dengar. Jangan berhenti”

Ia membelok di tikungan menuju ruang seni. Namun pada saat yang sama, seseorang muncul dari arah berlawanan.

“Eh Rana?”

Bruk!

Bahu Rana menghantam seseorang. Griselda terhuyung dua langkah. Kunci ruang seni yang berada di tangannya hampir terjatuh.

“Rana? Ada ap—”

Griselda refleks mengulurkan tangan untuk menahan bahunya, namun Rana langsung menepisnya.

“Jangan sentuh aku!”

Griselda membeku. Rana mundur beberapa langkah. Napasnya semakin kacau. Matanya menatap Griselda, tetapi tatapannya seperti menembus tubuh gadis tersebut tanpa benar-benar mengenalinya.

“Rana, aku cuma—”

“JANGAN!” teriak Rana sambil mencengkeram rambutnya sendiri.

Lihat selengkapnya