Sehari setelah kejadian di gudang alat musik, Rana berdiri cukup lama di depan pintu ruang seni. Buku sketsanya digenggam erat di tangannya. Griselda sudah berada di dalam ruang tersebut. Rana tahu bahwa hari ini adalah jadwalnya di ruang seni. Namun, semakin lama dia berdiri di depan pintu, semakin banyak alasan yang muncul di kepalanya untuk berbalik.
“Dia mungkin akan bertanya soal kemarin… Atau mungkin dia jadi cuek.”
Rana menarik napas perlahan. Ia akhirnya mendorong pintu.
“Ah! Sore, Rana!”
Rana langsung berhenti
Griselda sedang berdiri di dekat meja dengan beberapa lembar kertas, botol air minum, dan kotak cat yang tertata rapi. Tidak ada ekspresi aneh maupun tatapan menghakimi. Bahkan, tidak menanyakan soal kemarin.
“Sore, Griselda…” jawab Rana pelan.
“Oh ya. Cat yang kamu minta kemarin sudah datang, ya. Bisa kamu pakai sekarang.” Griselda menunjuk meja di dekat jendela.
Rana melihat ke arah meja.
“Kanvasnya bagaimana?”
“Aman. Aku pinjam dua kanvas dari ruang penyimpanan. Kalau yang pertama gagal, masih ada cadangan.”
“Oke… Terima kasih,” Rana mengangguk.
“Sama-sama,” Griselda tersenyum.
Griselda kembali mengatur lembaran partitur di stand sheet music. Rana pun meletakkan tasnya di kursi. Beberapa menit pertama terasa sedikit aneh, karena Griselda bersikap seperti biasa saja. Rana mengambil pensil dan mulai memeriksa sketsa yang dibuat kemarin. Tangannya perlahan berhenti ketika melihat bagian tengah gambar. Muncul sebuah gambar yang ia buat ketika dalam rumah, sebuah gambar kejadian kemarin.
Hal itu membuatnya mengingat kejadian tersebut. Suara Griselda di balik pintu.
“Aku di sini”
Rana segera menggeleng kecil, dan membuka halaman yang berisi sketsa untuk latar panggung nanti. Ia mengambil kanvas dan membuka kotak cat.
“Ran.”
“Hm?” Rana menoleh ke Griselda
“Bagian sini. Menurutku, jalannya terlalu panjang.” Griselda menunjuk sketsa di meja.
“Kenapa?”
“Kalau jalan ini terus sampai ujung, perhatian penonton bakal tertarik ke belakang panggung.”
“Hmm, aku lupa kalau kamu bakal nyanyi di tengah panggung…” Rana mengerutkan dahinya.
“Lalu, menurutmu lebih baik bagaimana?”
Griselda mengambil pensil dari meja, tetapi berhenti sebelum menyentuh kertas.
“Boleh?”
Rana menggeser sketsanya ke arah Griselda dan hanya mengangguk. Griselda membuat garis tipis di bagian ujung jalan.
“Kalau di sini dibuat lebih samar, perhatian tetap berada di tengah.”
Rana memperhatikan garis tersebut. Lalu, ia mengambil penghapus.
“Berarti, bagian ini juga harus dikurangi kalau begitu. Karena kalau terlalu terang, transisinya jadi rusak.”