Keesokan harinya, setelah jam pelajaran terakhir selesai, Rana membereskan buku-bukunya dan alat tulis ke dalam tas. Buku sketsanya ia pegang seperti biasa. Ketika hendak melangkah keluar, Arga bertanya kepada Rana.
“Ran, lu gak apa-apa kan?”
“Maksudmu?”
“Gue lihat kamu sering sama Griselda kayak gak ada apa-apa. Lu suka sama dia kah?”
Rana langsung tersipu malu.
“A-aku enggak tahu…”
“Enggak tahu?” Arga mengangkat alisnya.
“Dia cuma rekan kerja.”
“Gue juga enggak bilang kalian pacaran loh.” Arga tertawa kecil.
Rana langsung terdiam
“Ya sudah, gue duluan ya. Jaga baik-baik ya lu.” Arga melangkah keluar lebih dulu.
Rana mengacungkan jempol. Ia langsung menuju gazebo di sisi belakang lapangan sekolah. Berbeda dengan ruang seni yang tertutup dan tenang, gazebo berada di tempat yang cukup terbuka. Dari sana, Rana bisa melihat sebagian lapangan, taman sekolah, dan jalan menuju gedung utama. Ia berhenti beberapa langkah sebelum menaiki tangga gazebo, dan memperhatikan beberapa siswa yang masih berjalan melewati lapangan.
“Ramai juga…”
Tangannya tanpa sadar menggenggam tali tas lebih erat. Karena sudah berjanji untuk mengerjakannya di gazebo, Rana tidak ingin ia ingkar janji kepada Griselda dan terus menghindari tempat yang sedikit lebih ramai.
“Ayo… Cuma menggambar kok…” ucap Rana pelan.
Rana sampai di gazebo sekolah, Griselda sudah berada disana. Gadis itu duduk di salah satu sisi bangku kayu sambil memeriksa beberapa lembar kertas. Di sampingnya terdapat tas selempang dan sebuah botol minum. Ketika melihat Rana datang, Griselda langsung mengangkat tangan.
“Rana! Sini!”
Rana mendekatinya.
“Dah nunggu lama ya?”
“Enggak kok. Aku juga baru sampai.”
Griselda menunjuk beberapa lembar tripleks dengan ukuran berbeda di tengah gazebo.
“Tuh, anak-anak kelas udah bawain beberapa ukuran tripleks yang diberikan panitia. Mereka bilang buat kamu semoga lancar gambarnya.”
Entah kata tersebut terasa hangat dalam dada Rana. Ia berpikir mungkin hanya Arga lah yang mengucapkan kata itu. Atau mungkin hanya ucapan buatan dari Griselda. Ia letakkan tasnya di gazebo itu dan mengeluarkan buku sketsanya.
“Oke, berarti kita bisa coba penerapannya di tripleks kalau begitu.”
“Kamu mau langsung gambar disitu?”
“Lebih tepatnya mau dipindahin rancangannya nya dulu, kemarin kan masih di kanvas.”
“Benar juga…” Griselda memegang dagunya.
Rana mulai membuat beberapa garis di tripleks. Kali ini ia tidak menggambar panggung berdasarkan perkiraan semata. Ia mulai memperhitungkan ukuran, jarak pandang penonton, posisi Griselda ketika bernyanyi, serta pencahayaan yang akan digunakan. Ia mengikuti rancangan yang sebelumnya ia buat di buku sketsanya.
Griselda mendekati Rana namun tidak terlalu dekat.
“Ran, kayaknya kalau aku berdiri di tengah sini, bagian cahayanya jangan terlalu terang. Nanti wajahku terlalu tenggelam sama latarnya.”
Rana mulai menghapus sebagian garis setelah mendengar pendapat Griselda.
“Bagaimana kalau… cahaya dari belakang dibuat lebih lembut. Seperti ini?”
“Nah iya, bagus tuh.” Griselda mengacungkan jempolnya.
Griselda tertawa kecil dan memperhatikan sketsa tersebut.
“Aku suka kalau kamu menggambar dengan serius.”
“Huh, apa tadi?” Rana menoleh kepadanya.
“Eh, maksudku, kalau ngobrol, suaramu pelan. Tapi kalau soal gambar, tiba-tiba bisa panjang gitu loh,” ucap Griselda terlihat gugup.
“Oh, entahlah. Terkadang kalau ada yang ngomongin soal menggambar, aku selalu berbicara panjang… Ya ibaratnya seperti berbicara dengan klien gitu.”
Griselda hanya tersenyum, sementara Rana kembali menggambar. Namun, beberapa menit kemudian, suara beberapa siswa terdengar dari bawah gazebo.
“Eh, itu Griselda sama Rana. Gimana persiapan pentas seni nya?”