Sketsa Rana

Mukti
Chapter #20

Garis Batas

Jingle istirahat pertama baru saja berbunyi di seluruh gedung SMA 2 Permata. Rana menghampiri Galih yang sudah menunggunya diluar kelas. Mereka menuju kantin untuk mengobrol seperti biasanya. Meja Rana terlihat kosong, hanya menyisakan tas ransel abu-abu dan kotak pensil yang tertutup rapat rapi.

Di barisan depan, Bella menghampiri meja Rami dan Thalia. Namun di meja tersebut, hanya Thalia yang hadir. Ia menggeser penjepit rambutnya, lalu mencondongkan tubuh ke arah mereka.

“Kamu jarang ngobrol sama Rana ya, Thal?”

“Aku masih kok.” ucap Thalia.

“Oh. Tahu soal Rana kemarin?”

Thalia langsung menoleh.

“Soal apa emangnya?”

“Ituloh, dia mengunci diri di gudang alat musik.”

“Lalu?” Thalia mengerutkan dahi.

“Aku dengar dia sampai bentak Griselda di lorong. Terus langsung masuk gudang dan mengunci diri.” Bella menurunkan suaranya.

“Hm. Aku dengar juga soal itu.” Thalia menundukkan kepala.

Bella menghela napas.

“Jujur, aku makin enggak ngerti sama dia. Kadang dia baik, kadang tiba-tiba dingin gitu. Sekarang malah sampai kayak begitu. Aneh pokoknya.”

Thalia menatap Bella dengan ekspresi tidak suka.

“Jangan ngomong seolah-olah dia melakukan itu tanpa alasan ya, Bel.”

“Kok kamu bela dia, Thal?” Bella mengerutkan dahi.

“Kamu juga tahu sendiri kalau dia lagi enggak baik-baik saja.” ucap Thalia menyilangkan tangan di dadanya.

“Aku sebenarnya mau bicara sama dia…” Rami menghampiri mereka berdua.

“Rami…” Thalia menoleh ke Rami

“Kalau dia belum mau bicara sama kamu, jangan dipaksa.”

Rami terdiam

“Aku tahu… Tapi, entah kenapa rasa bersalahku makin menjadi…”

Bella menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Nah kan. Mau sampai kapan coba? Kita kan juga enggak bisa terus-terusan menebak apa yang dia pikirkan.”

Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu kelas. Tidak ada yang menyadarinya pada awalnya. Namun, beberapa detik kemudian, pintu kelas terbuka lebar. Griselda berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti sesaat ketika mendengar kalimat terakhir Bella. Ia menatap mereka dari kejauhan dengan wajah tanpa senyum.

Beberapa murid yang sedang berbicara mulai memperhatikan perubahan suasana. Griselda berjalan menuju ketiga orang tersebut. Bella yang pertama kali menyadari kedatangannya langsung duduk lebih tegak.

“Griselda?”

“Lagi ngomongin Rana?” Griselda berhenti di depan meja mereka.

Bella dan Rami saling berpandangan. Thalia hanya melihat mereka.

“Enggak kok. Cuma ngomong—”

“Aku dengar semuanya. Tadi kalian membicarakan kejadian kemarin.” Griselda menyela omongan Bella dengan nada rendah.

“Iya. Terus kenapa?”

“Kenapa kamu menyebutnya aneh?”

Bella langsung terdiam.

“Aku cuma bilang dia aneh akhir-akhir ini.”

“Aneh karena apa? Karena dia menjauh? Enggak mau bicara? Atau karena dia menjaga buku sketsanya!?”

Bella mulai terlihat tidak nyaman. Griselda menarik napas.

Lihat selengkapnya