Sketsa

Dinar firmansyah
Chapter #1

BAB 1 - Sketsa di Album Foto

Bandung, 2025

Lucu ya, kadang lo cuma pengen beresin rumah, tapi malah diberesin sama kenangan.

Kenangan yang tiba-tiba saja muncul di saat lo nggak sedang mengingatnya. Kenangan yang nggak berbentuk—tapi kehadirannya terasa. Menyapa dan menyentuh sesuatu dalam diri lo.

Jika saja kedua mata ini bisa melihat sosoknya—yang mungkin sedang berdiri tepat di hadapan gue. Entah itu dalam bentuk gue versi masa lalu yang tersenyum bangga melihat dirinya sendiri di masa kini, atau dalam bentuk dia—yang tersenyum hangat menatap gue. Apa pun itu—yang jelas... keduanya berhasil membuat sudut bibir gue terangkat.

Rumah ini baru dua hari gue tempatin. Kardus-kardus masih numpuk di sudut, perabotan belum semua pada tempatnya, dan debu masih jadi penghuni utama. Tapi di antara semua kekacauan pindahan, mata gue nemu satu box plastik bening di bawah meja kayu—yang bahkan belum dipasang kakinya.

Satu per satu gue turunin barang-barang di atasnya. Gue singkirin kardus-kardus berat yang menghalangi. Lalu gue tarik box itu mendekat. ‘Barang pentingnya mas seniman.’ Gue tersenyum menggelengkan kepala melihat tulisan dari serobek kertas yang ditempel dengan lakban bening di atas tutup box itu. Lalu sejenak menoleh ke belakang. Melihatnya di balik partisi kayu yang menyekat ruang tengah dengan dapur—sedang membuat sesuatu.

Gue buka box itu. Isinya macem-macem: palet, kuas, pensil dan beberapa kertas gambar yang udah lecek. Tapi di bawahnya, ada satu benda yang langsung bikin gue ketawa kecil—sebuah album foto lama, dengan sampul yang udah agak pudar. Gue tarik keluar, lalu duduk di sofa tengah ruangan. Cahaya matahari sore masuk dari jendela besar tanpa tirai, jatuh tepat di pangkuan gue. Pelan-pelan, gue buka halaman pertamanya. Satu per satu foto gue lihat, dan rasanya kayak nyalain mesin waktu ke masa-masa yang udah lama lewat, tapi gak pernah benar-benar hilang.

Udara sore itu diam-diam jadi saksi. Rumah yang tadinya bising sama suara plastik dibuka dan kardus diseret, tiba-tiba jadi hening. Hanya suara lembaran mika album yang bergesekan pelan, dan degup jantung yang perlahan jadi kayak metronom nostalgia.

Di halaman pertama ada foto gue bareng Dito dan Nita. Dito masih kurus, belum ngerti gym. Nita masih kayak.... Nita. Rambut pendek, gaya tomboy, tatapan jutek. Mereka sahabat gue paling deket dari dulu sampai sekarang. Mereka yang paling setia kawan. Paling paham harus gimana hanya dengan liat mood gue. Dan juga paling musingin kalo lagi isengin gue. Gue inget banget, waktu itu kita lagi study tour ke Yogyakarta. Gue langsung senyum-senyum sendiri.

Lihat selengkapnya