Carissa Rafli, tak pernah tahu kalau kehidupannya yang hanya berupa rentetan siang dan malam berganti tanpa jeda, berubah mendadak di usianya yang ke dua puluh tahun ini. Ia kira, ini hanya hari biasa, hari ulang tahunnya yang tak istimewa, hanya diisi dengan kegiatan rutinnya: menjaga toko bunga. Tapi ternyata seluruh hidupnya mulai berubah sejak hari ini.
Ia berdiri di tengah tokonya, sudah selesai merapikan bunga-bunga yang akan dijual hari ini. Jemarinya bergerak perlahan, membelai lembut helai demi helai kelopak mawar yang ada di hadapan. Sementara matanya hanya menatap kosong ke arah gumpalan warna merah yang mendominasi genggamannya—merah yang bagi orang lain mungkin terlihat jelas dan tajam, tapi baginya hanyalah sapuan warna yang pudar yang tak berbeda dengan warna lainnya.
Sesekali, ia meringis. Ujung duri yang bersembunyi di balik batang hijau yang blur dalam pandangannya itu kembali mematuk kulitnya. Carissa, yang akrab dipanggil Carie, memang tak bisa melihat duri-duri yang berbaris berantakan itu; matanya hanya menangkap garis hijau panjang tanpa sedikit pun peringatan akan rasa sakit.
"Ya ampun! Kenapa, Carie?"
Pekikan itu memecah sunyi. Carie mendengar suara langkah yang terburu-buru menuruni tangga besi di luar ruko, lalu berputar masuk ke dalam toko. Aroma parfum mahal yang elegan segera memenuhi ruangan, mengalahkan wangi mawar yang sedang dirangkainya.
"Ketusuk lagi?" Tanya wanita itu khawatir. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Carie dan mengambil tisu dari dalam sling bag hitamnya.
"Enggak apa-apa kok, Kak. Udah biasa," kekeh Carie. Ada rasa tidak enak yang menyelinap; lagi-lagi ia membuat Amanda cemas.
"Aku ambilin plester, ya! Tunggu bentar!" Amanda langsung berlari kembali ke luar. Langkah kakinya terdengar berdentum di permukaan besi tangga outdoor. Padahal kamarnya ada di lantai tiga, tapi ia rela mendaki tangga setinggi itu hanya demi satu goresan kecil di jari Carie.
Bagaimana mungkin Carie bisa membencinya? Bahkan ketika pria yang ia sukai ternyata melabuhkan hati pada Amanda.
Siapa juga yang bisa menolak pesona wanita sebaik itu? Belum lagi status Amanda sebagai model paruh waktu yang kecantikannya menjadi buah bibir. Banyak orang datang ke ruko ini bukan untuk membeli bunga, apalagi mengunjungi rumah Carie di lantai dua. Mereka hanya ingin mencuri pandang pada penghuni lantai tiga itu.
Sambil menarik napas dalam, Carie membalut lukanya dengan tisu pemberian Amanda. Ia tak ingin meratapi nasib di pagi yang tenang ini, tak ingin membawa aura kelabu ke dalam tokonya yang ia harap bisa membawa keceriaan bagi pelanggan. Namun, hatinya tak bisa berbohong.
Carie bukanlah gadis pendiam yang gemar bermuram durja, setidaknya tidak setiap hari. Ia hanya menjadi seperti ini pada momen-momen tertentu, terutama di hari ulang tahunnya.
Hari ini, tepat delapan tahun yang lalu, dunia Carie runtuh. Sebuah kecelakaan hebat merenggut hampir segala yang ia punya. Ia kehilangan orang tuanya, kehilangan kepingan ingatan tentang siapa dirinya, dan kehilangan kejelasan pandangan yang dulu membantunya mengecap bentuk dunia. Kini, matanya tak ubahnya kaca yang ketumpahan minyak; ia tidak sepenuhnya buta, tapi ia pun tak lagi bisa dibilang melihat.
Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Ia tumbuh bersama Ibu Sari—ibu angkatnya yang tak lain adalah pengurus rumah tangga keluarganya dulu, berpindah ke sekolah disabilitas, belajar meraba huruf braille, hingga akhirnya lulus dan menjaga toko bunga ini sebagai rutinitas. Hari ulang tahun bagi orang lain adalah perayaan, namun bagi Carie, itu adalah momen yang menyiksa. Ia dipaksa menanggung beban dari sebuah tragedi yang bahkan tak ia ingat sama sekali.
Suara langkah Amanda kembali terdengar, berdentum ritmis menuruni tangga besi. Carie tersenyum miris. Seandainya saja Amanda memiliki sedikit saja cela—mungkin sifat yang buruk atau laku yang kasar—mungkin Carie punya alasan kuat untuk membenci wanita yang dua tahun lebih tua darinya itu.
Namun, realita seolah memihak Amanda. Dalam kabut di matanya, Carie tahu Amanda adalah definisi sempurna: tinggi semampai dengan rambut coklat yang jatuh lurus menenangkan di bahunya. Kulitnya sawo matang, eksotis, seolah selalu bermandikan cahaya matahari.
Sangat berbanding terbalik dengan dirinya sendiri. Carie berkulit pucat, hanya memiliki tinggi rata-rata dengan rambut hitam legam yang bergelombang seadanya. Yang paling menyedihkan adalah ia tak pernah benar-benar mengenal wajahnya sendiri. Di depan cermin, bayangan dirinya hanyalah gumpalan warna yang asing.
Ia tidak tahu bahwa sepasang matanya yang kecil memiliki kelopak yang manis. Ia tak pernah tahu bahwa alisnya tumbuh tebal membingkai wajah, atau betapa lentik bulu matanya saat ia berkedip. Ia bahkan tak pernah bisa mengagumi bentuk bibirnya yang penuh. Setiap kali ia mencoba memandang cermin, pantulannya hanyalah teka-teki yang tak pernah selesai ia pecahkan. Ia asing di dalam tubuhnya sendiri, sementara dunia begitu memuja sosok di lantai tiga itu.