Seorang pria dengan overcoat coklat yang membalut turtleneck dan celana hitam polos melangkah keluar dari terminal kedatangan. Ia menarik sedikit lengan bajunya untuk melirik jam tangan. Gerakan itu secara tak sengaja memamerkan sebuah tato di pergelangan tangannya—huruf U dengan garis gelombang di tengahnya yang tampak ganjil.
Waktu kedatangannya ternyata melesat setengah jam lebih cepat dari jadwal. Orang yang seharusnya menjemput sudah pasti masih terjebak di suatu tempat.
Merasa gerah karena iklim Indonesia yang lembab mulai menyerang kulit, ia melepas blazernya dan menyampirkan di lengan. Sambil menarik koper, ia melangkah menuju kedai kopi di sisi kanan terminal. Begitu ia mendorong pintu kaca kedai itu, suasana seolah membeku sesaat. Banyak pasang mata langsung tertuju padanya. Bukan hanya wanita; pria pun seolah terhipnotis oleh kehadirannya.
Di negara asalnya, tinggi seratus delapan puluh tujuh senti mungkin hal biasa, namun di sini, ia tampak seperti menara yang menonjol di tengah kerumunan.
Daya pikatnya bukan hanya soal tinggi badan. Rambutnya yang panjang dan tebal dengan potongan shaggy long cut membingkai wajah ovalnya dengan sempurna. Matanya yang monolid menatap tajam, dengan sudut luar yang sedikit naik—sebuah jendela dingin bagi rahangnya yang tegas namun proporsional. Batang hidungnya lurus dan ramping, membelah simetri wajahnya hingga berakhir pada bibir yang sedikit melengkung di ujungnya.
Ia tampak sedingin es, namun ada kesan tersirat bahwa sekali saja pria ini tersenyum, manisnya akan merambat dan menetap di hati siapapun yang melihatnya.
“One americano double shot, please!” Pesannya ke kasir kedai kopi yang hampir-hampir termangu saking terpana.
Setelah membayar dan menerima nomor pesanan, ia memilih sudut paling sunyi di kedai kopi itu. Di bawah meja, kakinya yang terbungkus sepatu pantofel hitam mengkilap bergerak santai, kontras dengan gemuruh yang ada di kepalanya. Matanya menatap datar ke arah kerumunan orang yang baru saja keluar dari gerbang imigrasi, namun pikirannya melesat jauh, kembali ke ruang kerja di rumahnya semalam—ke sebuah percakapan yang masih menyisakan rasa sesak.
“Are you sure?” Tanya Tania sekali lagi. Suaranya bergetar. “Papa kamu baru meninggal seminggu lalu, Eric. Kamu yakin mau langsung berangkat? Bagaimana dengan pengobatan kamu?”
Eric Mananta mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah ibunya. Ia tahu Tania sedang ketakutan; ibunya mengira langkah ini hanyalah nekat yang didorong oleh duka. Padahal, Eric telah merajut rencana ini dengan sangat rapi selama tiga tahun terakhir—bahkan jauh sebelum itu, kejadian seminggu lalu hanya pemicu lain.
“Mama tahu, kan? Kita semua harus menanggung hidup yang seperti ini gara-gara surat itu,” ucap Eric pelan namun tajam. “Sampai kapan kita harus terus-terusan bersembunyi dan kabur? Ini waktunya kita yang bertindak langsung.”
Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari ibunya yang dingin. “Tapi Mama serius mau tetap di sini? Nggak mau ikut aku ke Indonesia aja?”
Tania menggeleng pelan, ada keteguhan yang pahit di matanya. “Your father lay here. Papa ada di sini, Eric. Mama tidak akan meninggalkannya.”
Eric mengangguk, menghormati keputusan itu meski hatinya berat. “Tapi janji padaku, Mama nggak boleh ke mana pun sendirian!” tegasnya lagi. Sebuah peringatan yang sudah ia ulang puluhan kali sejak pemakaman ayahnya.
Ketegangan di wajah Tania sesaat luruh oleh tawa tipis. “Jangan tambah lagi jumlah penjaga itu, Eric. Mama bisa dikira selebriti kalau hanya mau ke supermarket!”
Eric ikut tersenyum, lalu menarik ibunya ke dalam pelukan yang erat. “Jangan khawatir. Mama tahu aku tidak sendirian di sana. Aku akan telepon Mama sampai Mama bosan.”