"Siapa?" Suara Carie naik satu oktaf, ada getaran panik yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kamu!" jawab pria di hadapannya telak, seolah itu adalah jawaban paling logis di dunia.
"Bukan... maksud aku, kamu itu siapa!" Carie mencoba menegaskan suaranya.
"Eric."
"Eric?" ulang Carie. Nama itu terdengar asing.
Eric hanya mengangguk tenang, seakan-akan keheningan di antara mereka adalah hal yang biasa. "Jadi bagaimana? Kamu mau, kan, jadi pacar aku?"
"Siapa?!" Carie memekik lagi, rasa pusing mulai menyerang kepalanya.
"Kamu!" Eric kembali menunjuk, seolah Carie adalah satu-satunya objek yang ada di radar dunianya.
"Aku?" pekik Carie. Ia mundur beberapa langkah, mencoba menciptakan jarak dari kehadiran pria yang aromanya belum sempat ia kenali ini. "Tunggu, tunggu dulu. Apa kita saling kenal sebelumnya?"
"Ya," sahut Eric singkat.
Carie menggeleng kuat. "Tapi aku sama sekali gak tahu kamu siapa."
"Mungkin kamu lupa."
"Kita kenal di mana?"
"Mungkin di kehidupan sebelumnya."
Orang gila! gerutu Carie dalam hati. Ia berdehem, mencoba mengatur nafasnya yang mulai memburu. "Mungkin kamu salah orang. Dunia ini luas, namaku pasaran."
Eric menggeleng, tatapannya tidak goyah sedikitpun pada mata Carie yang berkabut. "Enggak. Aku tahu dengan jelas aku gak salah orang. Jadi, kamu mau jadi pacar aku?"
Carie memejamkan mata rapat-rapat. Di saat seperti ini, ia benci pada kegelapannya sendiri. Ia berharap matanya bisa bekerja sedetik saja agar ia bisa membedah wajah orang ini. Ia takut—takut jika ia menolak, ternyata pria ini adalah kepingan ingatannya yang hilang. Namun, ia juga lelah jika harus menebak-nebak teka-teki yang tak berujung. Ditambah sejak pria ini masuk, tak ada satupun ucapannya yang masuk akal.
"Tolong, pergi. Aku gak punya waktu untuk bercanda." Ucapnya dingin, memilih untuk tak menanggapi dengan serius.
"Hmm, jadi hari ini kamu sedang sibuk." Eric menyisir rambut depannya ke belakang dengan jemari, gerakan yang terasa begitu santai. "Ya sudah kalau begitu, besok aku datang lagi."
Tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan pergi begitu saja.
"Hah!" Carie mendengus, kehabisan kata-kata. "Wah... gila!" gerutunya tak habis pikir.
Ia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Ia kembali menyentuh kelopak mawar merah di hadapannya, mencari ketenangan dari tekstur bunga yang akrab di jemarinya.
Meskipun pandangannya kabur, ada sesuatu yang tadi sempat tertangkap oleh sisa penglihatannya. Sebuah noda gelap di pergelangan tangan pria itu saat ia menyisir rambutnya. Noda itu cukup kontras dan besar untuk dikenali oleh mata Carie yang biasanya tak mengenali bentuk.
Refleks, tangan Carie meraba liontin yang tergantung di lehernya—satu-satunya benda yang tersisa dari ibunya. Ia membelai permukaannya yang dingin, meraba ukiran berbentuk huruf U dengan gelombang di tengahnya.
Lambang Ophiuchus.
Amanda pernah memberitahunya tiga tahun lalu tentang simbol zodiak ke-13 yang langka untuk dibicarakan itu. Sungguh aneh—tidak, ini lebih dari aneh. Pria asing bernama Eric itu memiliki tato yang identik dengan warisan terakhir ibunya.
Carie menoleh ke arah pintu toko yang kini kosong, menatap kabut putih yang ditinggalkan cahaya matahari.
"Siapa dia sebenarnya?" gumamnya pelan, sebuah rasa penasaran mulai tumbuh, jauh lebih tajam daripada duri mawar yang baru saja melukainya. “Au!” pekiknya, reflek menghisap jarinya yang berdarah.