Parfum dengan wangi cokelat yang lembut. Rambut panjang sebahu, dan tinggi di atas rata-rata. Tak perlu penglihatan sempurna, sudah jelas sekali, pria di hadapannya ini bukan Andrea. Padahal dia sudah restu dengan Ibunya hari ini akan jalan-jalan dengan Andrea. Ibunya yang sejak dulu selalu strict dengan aturan dan pergaulannya itu, ternyata memberi lampu hijau begitu mudahnya saat ia meminta izin dengan hati-hati. Tapi kini di hadapannya yang muncul malah pria lain.
"ERIC?" pekiknya, nama itu meluncur begitu saja seakan mereka sudah akrab. Padahal mereka baru bertemu sekali kemarin. Mungkin tingkah asal Eric lah yang membuat mulutnya dengan enteng menyebut nama pria ini. Atau mungkin karena ia sudah berkali-kali mengulang nama itu dalam otaknya sehari kemarin.
Carie tercekat saat pria ini melangkah mendekat. Instingnya memerintahkan untuk segera berbalik dan lari ke dalam toko, namun tangan Eric lebih sigap. Jemari pria itu menahan bahunya, mengunci upayanya untuk kabur.
"Kenapa? Aku udah jauh-jauh datang, masa batal jalan-jalan?" Eric menundukkan kepalanya melempar senyum lebar.
Langsung mengkeret, Carie berusaha menghindar dari tatapan Eric yang terasa begitu lekat menembus kabut matanya. "Nggak, nggak." Ia menepis tangan Eric dari bahunya. "Aku ada janji dengan Andrea, bukan sama kamu."
"Tapi Andrea lagi ada urusan. Dia minta aku yang temani kamu jalan-jalan," Eric mengedipkan sebelah matanya, sebuah gestur genit yang terasa sangat terencana.
Carie menggeleng kuat. "Nggak bisa. Kamu pergi aja sana" Ia berbalik, hendak masuk, namun Eric kali ini mencengkram pergelangan tangannya.
"Et, et, et! Gak bisa. Aku udah kosongin jadwal aku hari cuma buat kamu." Suara Eric merendah, bernada memaksa namun tetap tenang. Tanpa memberi celah, ia menarik Carie menuju mobilnya, membukakan pintu penumpang, menekan bahunya sambil mendorong pelan masuk ke kursi penumpang, dan dengan cepat menutup pintu sebelum Carie sempat memprotes. Dalam sekejap, Eric sudah berada di kursi pengemudi.
"Baik, Nona. Pasang sabuk pengamanmu. Kita berangkat!"
"Aaaku gak mauuuu! Buka pintunya!" Carie meraba-raba kenop pintu dengan panik, namun penglihatannya yang buram membuatnya lamban. Eric sudah lebih dulu menginjak pedal gas, membawa mobil itu meluncur membelah jalanan.
Sial, ada apa dengan orang ini sebenarnya? batin Carie.
"Jadi, seneng gak bakal kencan sama aku?" tanya Eric santai sambil mengendalikan kemudi.
Dahi Carie berkerut dalam. "Kamu tahu kan kalau orang mabuk dilarang nyetir?"
Eric terbahak sambil menoleh sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Kamu tahu aku nggak mabuk!”
"Tahu dari mana!" gerutu Carie. Ia kemudian terdiam, matanya terpaku pada pergelangan tangan Eric yang hari ini hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana jeans. Meski samar, ia yakin itu adalah tato yang sama dengan liontinnya. Dadanya perlahan mendesir, jantungnya berdegup sedikit kencang daripada semestinya, rasa penasaran yang sejak kemarin menghantuinya datang lagi dalam dorongan yang lebih kuat. Ia memalingkan wajah ke jendela, sementara tangannya diam-diam meraba liontin di balik baju putihnya.
Eric, Eric, Eric, ulang Carie dalam hati di balik kelopak matanya yang terpejam, ia merangkai kembali pecahan puzzle dari album foto lama yang ia temukan saat pindahan dari rumah mendiang orang tuanya ruko tiga tahun lalu.
Ingatan itu berputar di kepala Carie layaknya gulungan film tua yang berdebu. Ia ingat betul sore itu, saat aroma debu dari kardus-kardus ruko baru memenuhi indra penciumannya. Sari membantunya meraba selembar kertas tebal yang permukaannya licin—sebuah foto.
"Ini Ayahmu, Chandra. Dan ini Ibumu, Alessa," suara Sari saat itu bergetar hebat. "Lalu di sampingnya, ada Mario dan Anggoro. Mereka bertiga tidak terpisahkan."
Carie mengingat detail itu sekarang. Anggoro adalah ayah Andrea. Istrinya, Andini, adalah sosok yang meski tak pernah Carie temui secara langsung, namanya selalu muncul sebagai malaikat pelindung dalam bentuk bantuan finansial dan dukungan yang mengalir diam-diam lewat Ibu Sari.
Lalu, jika pria di sampingnya ini adalah anak Mario... berarti dia adalah Eric Mananta. Sosok yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga pertemanan mendiang orang tuanya dulu.
Carie membuka matanya perlahan. Meski dunianya masih berupa gumpalan warna dan bayangan yang tak fokus, ia menoleh ke arah Eric. Pria itu tampak sangat fokus mengemudikan mobil, jemarinya mengetuk kemudi dengan irama yang tenang, seolah ia tidak sedang ‘menculik’ seorang gadis hampir buta menuju lokasi yang tak diketahui.
"Eric," panggil Carie, suaranya kini lebih rendah, lebih berani.