Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #6

5. Bukan Untuk Cinta

Carie berdiri mematung di ambang pintu kafe, seolah-olah kakinya telah berakar ke lantai. Berkali-kali ia menolak untuk makan malam, namun Eric tetap bersikeras mengajaknya masuk dengan ketenangan yang menjengkelkan. Akhirnya, dengan gerutuan yang tak putus-putus, karena tak ingin jadi bahan perhatian banyak orang yang berlalu lalang, Carie menyerah dan berdiri di hadapan pria yang sudah duduk di kursi pojok samping jendela itu.

"Duduk, lah," ajak Eric santai. Ia menatap Carie yang wajahnya ditekuk masam. "Masih sore, gak ada yang nyariin kan, kan?"

Carie hanya membanting bokongnya di kursi denga bibir mencibir, memilih diam seribu bahasa daripada meladeni pria ini lagi. Saat Eric menyodorkan buku menu, Carissa bergerak secepat kilat. Ia tidak meraih buku itu, melainkan meletakkan tangannya tepat di atas tangan Eric. Suatu gerakan tiba-tiba yang sama sekali tak alami.

Aku harus tahu isi hati orang ini! batin Carie berteriak. Berkali-kali saat mereka bersentuhan ia sama sekali tak mendengar isi hati Eric. Benak pria ini terlalu sepi, senyap, tak menyisakan bahkan sebuah gerutuan untuk di dengar.

Mendapati tangannya mendadak dipegang, mata Eric melebar waspada. Sebelum Carie sempat menangkap getaran kalbunya, ia sudah menarik tangannya menjauh.

"Sial!" umpat Carie pelan. Ia terpaksa meraih buku menu, membukanya sekilas—tanpa benar-benar melihat isinya—lalu menutupnya dengan kasar. "Es teh manis!" ketusnya.

"Hei, memangnya aku kelihatan kayak gelandangan? Pesan yang lebih mahal, lah, aku punya banyak uang!" protes Eric sambil terkekeh.

Carie mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah yang kumal dari saku bajunya. "Aku bayar sendiri teh manis aku," ucapnya harga diri tinggi.

Eric tertawa lepas, kepalanya menggeleng-geleng. "Harganya tiga puluh lima ribu, Nona! Bukan sepuluh ribu!"

Tawa itu—gerakan kepala yang menggeleng itu—semuanya kelihatan samar seperti penglihatannya yang biasa, tapi saat semua itu masuk ke dalam otaknya untuk diproses, tiba-tiba ada sesuatu  yang memicu hal mengerikan di kepala Carie. 

Seketika, rasa sakit menghujam otaknya. Kedua tangan Carie reflek meremas kepalanya yang terasa seperti mau meledak. Pandangannya tiba-tiba menggelap, digantikan kilasan bayangan keadaan di dalam sebuah mobil yang bergerak liar dan berakhir menghantam pembatas jalan. Sebuah teriakan melengking dari seorang wanita merobek kesunyian di kepalanya, disusul dentuman logam yang memekakkan, hingga terasa gendang telinganya mau pecah. Carie membekap telinganya, tubuhnya gemetar hebat.


Di hadapannya wajah Eric menegang. "Carissa? Carissa!" Panggilnya panik sambil memegang lengan Carie. Sehingga di telinga Carie kini, suara Eric bercampur dengan sebuah teriakan lain yang terasa lebih menyiksa untuk di dengar.

"Carieeeeeee!"

Suara itu bergema dari relung hati pria ini, namun itu bukan suara batinnya yang sekarang. Itu terdengar seperti gema memori, sesuatu yang bertahan dan tertanam dalam benaknya hingga terasa seperti masih dirasakan dan diucapkan hingga saat ini.

Tubuh Carie gemetar hebat, ia tak sadar kalau dirinya jatuh dari kursi dan langsung jatuh ke pangkuan Eric yang sudah berlutut di sampingnya sejak tadi. Tiba-tiba, pandangannya yang gelap berubah perlahan menjadi gelombang padat yang makin-makin menyesakkan. Carie membuka matanya lebar, tapi yang ada di sekelilingnya hanya air. Rasa dingin langsung menyelimuti tubuhnya, seluruh badannya ngilu dan perih. Nafasnya sesak, paru-parunya seakan terbakar saat ia berusaha menarik nafas. Sebelum ia bisa memahami apa yang terjadi, dunianya runtuh.

***

Tuuuut... tuuuut...

Andrea menggeram, mengacak rambutnya dengan frustrasi di balik kemudi. Ini adalah percobaan ke-20, namun Eric seolah ditelan bumi, dan yang lebih menyebalkan, nomor ponsel Carie kini benar-benar mati.

“Halo?” Suara Eric akhirnya muncul, terdengar datar tanpa dosa.

“Woi! Kenapa dari tadi gak diangkat? Lu ke mana aja dari pagi!” seru Andrea meledak-ledak.

Eric melangkah menjauh dari ranjang rumah sakit tempat Carie terbaring. Ia berjalan menyusuri selasar, melewati deretan pasien dengan wajah yang kembali mengenakan topeng ketenangan sempurna.

Sorry, Bro! Carissa is really something,” ucap Eric dengan nada frustasi yang dibuat-buat. “Dia kan gak bisa melihat jelas, jadi gue harus menuntunnya terus. Dan ternyata, dia agak norak. Begitu sampai di mal, dia gak berhenti coba baju dan minta pendapat gue. Bayangin aja seberapa sibuknya gue!”

“Ugh, serius, Bro? Parah banget,” rintih Andrea simpati, mendadak merasa sangat bersyukur karena telah melemparkan tugas itu pada Eric. “Ya sudah, kalau begitu sekarang kita bertemu di klub yang kemarin, bagaimana? Gue baru saja dimaki-maki Mama, perlu masukan dari lu.”

“Belum bisa,” tolak Eric cepat. “Eh, Carissa baru kembali dari toilet, gue harus jaga dia lagi. Wish me luck,” jawab Eric sambil melirik ke arah Carissa yang mulai siuman.

Fuck, sial banget lu! Sorry dan terima kasih banyak, Bro! Kabari lagi kalau lu sudah siap!” Andrea mematikan sambungan dengan perasaan menang, tak sadar bahwa dialah yang baru saja kehilangan kendali atas situasinya sendiri.


Lihat selengkapnya