Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #7

6. Terasa Ganjil

“Pelan-pelan,” bisik Eric lembut. Tangannya menyangga siku Carissa dengan protektif—tindakan konsisten yang ia tunjukkan sejak tadi pagi Carie membuka mata sampai sekarang akhirnya mereka sampai di depan toko bunga. Ia menuntun Carie turun dari mobil menuju pintu toko.

“Carie!”

Sebuah pekikan melengking memecah kesunyian malam. Dari dalam keremangan toko, Sari berlari menghambur. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena cemas. Tanpa membuang waktu, ia menyambar lengan Carie, merenggutnya kasar dari gandengan Eric seolah-olah pria itu adalah wabah yang mematikan.

“Dari mana saja kamu? Ibu hampir gila cari kamu!” tuntut Sari, suaranya bergetar antara amarah dan kelegaan yang menyesakkan.

Carie menunduk, meraba-raba jemari ibunya yang dingin. “Itu... mmm, nanti aku jelasin, Bu,” jawabnya lirih. Ada rasa tidak enak yang mengganjal saat ia menyadari betapa kaku suasana di antara mereka.

“Sekarang, naik!” perintah Sari mutlak, matanya tidak lepas menatap tajam ke arah Eric.

“Tapi, Bu, Ini Eric, dia yang—”

“Masuk, Carissa!” Sari membentak, suaranya naik satu oktaf, membuat Carissa tersentak.

Dengan kepala tertunduk, Carie menoleh samar ke arah Eric—bayangan jangkung yang berdiri diam di bawah lampu jalan yang temaram. “Terima kasih,” ucapnya hampir tak terdengar sebelum melangkah menaiki tangga ke lantai dua, meninggalkan ketegangan yang kian memuncak di teras toko.

Begitu pintu tertutup dan Carie tak lagi terlihat, raut wajah Sari berubah total. Kehangatan seorang ibu lenyap, digantikan oleh tatapan benci yang menusuk. Ia melangkah maju, menghadapi pria di hadapannya.

“Eric?” tanyanya dingin, suaranya mengandung ancaman.

Eric menatap santai, alisnya terhentak sedetik. Ia mengulas senyum tipis yang getir. “Ternyata masih ingat...”

“Tentu,” sahut Sari dengan nafas yang memburu. “Dan dengar aku baik-baik! Jangan pernah menampakkan wajahmu atau menemui Carie lagi!”

“Kenapa? Atas dasar—” Tentang Eric.

“Aku peringatkan!” Sari memotong kalimat Eric dengan telunjuk yang bergetar tepat di depan wajah pria itu. “Jangan sampai mental Carissa semakin hancur kalau dia ingat apa yang terjadi antara kamu sama dia dulu. Kamu tahu betapa menyakitkannya itu bagi dia, kan?”


Eric terdiam seketika. Kata-kata Sari seolah menjadi palu yang menghantam ulu hatinya. Nafasnya tertahan, dan pembelaan yang sudah di ujung lidah mendadak luruh. Ia memandang Sari dengan tatapan yang sulit diartikan—ada segelintir rasa bersalah, tapi lebih banyak benci di balik matanya. “Ibu tahu kan, ibu nggak pantes ngomong begini? Aku masih ingat jelas kalau status ibu itu cuma pembantu Carie!”

“Pergi dari sini!” Potong Sari lagi, wajahnya berang. “Sekarang, atau aku panggil polisi!” ancam Sari sekali lagi.

Eric mendesahkan tawa dengan lirikan meremehkan, meski menikmati, ia sadar bahwa konfrontasi saat ini hanya akan memperkeruh suasana. Ia pun memilih berbalik tanpa kata-kata, langkah kakinya terdengar teratur namun berat di atas aspal. Ia masuk ke dalam mobil, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

Kepalanya bergerak miring, matanya masih tertancap ke sosok Sari yang juga masih memelototinya dari depan pintu toko. “Jadi begini aslinya,” gumam Eric sambil menyalakan mesin. Suara raungan mobil memecah kesunyian jalanan saat ia melaju menjauhi toko bunga. “Semua baru saja dimulai, Bu Sari.”


Sementara itu Carie duduk di pinggir kasur di dalam kamarnya mengeluarkan ponselnya dari dalam lalu meraih pengisi daya yang tergeletak di atas nakas. Ia menghubungkan ponselnya ke pengisi daya, mencolokkannya ke listrik lalu meletakkannya ke atas nakas. Dahinya langsung berkerut dalam, meski tak lihat berapa persentase baterai yang ada di layar, ia bisa tahu banyak sedikit baterainya dari warna hijau yang nampak di dalam logo baterai itu.

Ia meraih ponselnya lagi, mencoba menghidupkannya. Dan ternyata memang benar, ponselnya yang ia kira mati karena kehabisan daya, ternyata masih punya cukup daya bahkan untuk dipakai seharian lagi. Ia pun mencopot kabel pengisi daya, mencoba mengutak atik ponselnya dan melihat berapa panggilan tak terjawab dari ibunya. Font di layarnya memang sengaja ia buat sebesar yang ia bisa, agar semua tulisan itu bisa ia baca dengan cukup jelas.

“Hm?” Alisnya terangkat sebelah. “Andrea?” Ia melihat nama Andrea yang meneleponnya kemarin. Kepalanya bergerak miring seraya berpikir kapan tepatnya Andrea menelpon dan ia tak mengetahui hal itu. Tapi fokusnya buru-buru teralih saat melihat nama dokter Linda ada dalam daftar panggilan tak terjawab itu.

“Aduh!” sesalnya, ia lupa kalau kemarin harusnya ia mengabari Dokter Linda untuk menjadwalkan ulang konsultasi karena dirinya terjebak ‘penipuan kencan’ kemarin.

Buru-buru ia menelepon Dokter Linda, dan tak sampai tiga kali nada sambung berbunyi, teleponnya sudah dijawab. “Halo? Carissa? Kamu baik-baik aja, kan?”

Carie tersentak, tak menyangka sampai ke Dokter Linda juga ikut mengkhawatirkannya. “Sebenarnya ada masalah, Dok. Maaf kemarin aku lupa kabarin. Kira-kira bisa kapan lagi jadwal konsultasinya?” Ia bicara dalam bisikan, takut terdengar ibunya kalau-kalau sudah naik ke rumah juga.

“Gini Carissa, sebenarnya aku juga mau mengabarkan, kalau aku ada jadwal seminar seminggu penuh mulai lusa. Kalau urgent, kamu bisa datang besok, gimana?” terang Linda.

“Ah,” Angguk Carie cemas. Ia juga mau secepatnya bertemu dengan Dokter Linda untuk membahas apa yang ia alami kemarin, tapi masalahnya, bagaimana mungkin ia dapat izin keluar setelah menginap semalaman di luar tanpa kabar. Belum lagi nada suara ibunya tadi, yang tak pernah terdengar semarah itu ke orang asing. Sungguh Carie resah tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.

“Besok saya kabari lagi ya, Dok.” Jawab Carie pada akhirnya.

Lihat selengkapnya