Carissa ragu—benar-benar ragu. Namun, dinginnya lantai rumah sakit yang ia injak adalah kenyataan yang tak bisa ia hindari lagi. Di sisinya, Andrea berdiri dengan sikap protektif yang tak terduga.
Sepanjang perjalanan, ia sudah melakukan segala upaya untuk meyakinkan Andrea agar meninggalkannya begitu mereka sampai. Ia bersikeras bisa menyelesaikan urusannya sendiri. Namun, nasib berkata lain; di lobi yang ramai itu, Carie berkali-kali kehilangan arah. Ia menabrak bahu orang yang melintas, bahkan hampir menghantam tiang besi jika Andrea tidak sigap menarik lengannya.
Kini, ia terjebak. Mereka berdiri tepat di depan meja pendaftaran. Andrea menatapnya lekat, menunggu jawaban yang terus tertunda di ujung lidah Carie.
“Poli apa?” ulang Andrea. Ia menyandarkan tangannya di meja, sementara seorang petugas pendaftaran menatap mereka dengan sabar, jemarinya siap di atas papan ketik.
Carie menarik nafas panjang, meremas jarinya sendiri yang mulai mendingin. “Psikiatri,” jawabnya pada akhirnya, nyaris berbisik.
“Apa?” Andrea menjauhkan tubuhnya dari meja, berdiri tegak, seolah kata itu baru saja menyengatnya.
“Poli Kejiwaan,” Carissa mengulanginya lebih tegas, kali ini langsung kepada petugas. “Dokter Linda.”
“Baik, mohon ditunggu sebentar,” sahut petugas itu tenang, langsung sibuk menginput data ke dalam sistem komputer yang berderik pelan di hadapan mereka.
Carie terdiam mematung. Meski ia tak bisa melihat dengan tajam, ia bisa merasakan intensitas tatapan Andrea di sampingnya. Pria itu tidak lagi bersuara, tidak lagi membantunya berbasa-basi dengan petugas. Andrea hanya termangu, terpaku di sisinya dengan ekspresi merupakan campuran antara kaget, bingung, dan rasa sungkan yang luar biasa.
Pria ini terus mengawasi Carie seolah-olah gadis di depannya ini baru saja berubah menjadi teka-teki rumit yang tak sanggup ia pecahkan. Keheningan di antara mereka terasa lebih berat daripada hiruk-pikuk rumah sakit di sekeliling mereka. Bahkan saat berjalan berdampingan dan akhirnya duduk di depan poli, keduanya tak mengucapkan sepatah katapun.
Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruang tunggu rumah sakit itu mendadak menipis. Berbeda dengan Andrea yang memilih bungkam karena merasa tak enak hati untuk bertanya, Carie justru merasa tercekik. Ia merasa berhutang penjelasan pada pria yang sebenarnya baru saja ia jadikan pion demi kelancaran rencananya hari ini.
“Kenapa gak nanya?” cetus Carie akhirnya, memecah kesunyian dengan nada yang sedikit menantang.
“Ya?” Andrea menanggapi dengan suara yang kikuk dan sungkan.
Carie menoleh, memaksakan matanya menatap langsung ke arah bayangan wajah Andrea. Ia berusaha keras menangkap ekspresi apa yang sedang terlukis di sana. Simpati? Iba? Atau justru rasa jijik? Sayangnya, kabut di matanya tak memberikan jawaban apa pun. Ia harus kembali mengandalkan pendengarannya, membedah emosi lewat getaran suara, karena ia tak mungkin tiba-tiba menyentuh pria ini di depan umum hanya untuk mencuri dengar isi hatinya.
“Kamu... baik-baik aja?” tanya Andrea kemudian, suaranya terdengar berat seolah ia baru saja bersusah payah menekan rasa penasaran yang meledak di kepalanya.
“Kamu tanya begitu karena khawatir, atau karena takut tunangan sama orang gila?” tembak Carie telak.
Entah apa yang merasuki dirinya. Gadis yang biasanya selalu berlemah lembut dan berhati-hati di hadapan Andrea itu mendadak menghilang, berganti dengan sosok yang defensif dan tajam.
“Bentar, kamu sudah tahu kalau kita dijodohin?” Nada terkejut dalam suara Andrea terdengar sangat jujur. Pria itu menggeser duduknya, lebih dekat ke arah Carie. “Begini, Carie. Aku paham kalau kamu berpikir begitu, tapi...”
Andrea mengulurkan tangan, meraih jemari Carie yang bertaut tegang di atas pangkuan. “Aku cuma khawatir. Kamu benar-benar baik-baik saja, kan?”
Carie tidak segera merespons. Ia membiarkan kontak kulit itu terjadi, membiarkan kemampuannya bekerja meresapi getaran dari telapak tangan Andrea.
Jujur. Andrea benar-benar jujur dengan ucapannya. Perasaan khawatir itu murni, tanpa ada selipan rasa jijik atau penghinaan yang ia takuti sebelumnya. Mungkin benar kata Eric kemarin, dirinya memang terlalu naif, karena begitu mendapati kenyataan bahwa Andrea benar-benar peduli, ketegangan yang membatu di dada Carie perlahan mengendur.
Mumpung kulit mereka masih bersentuhan, Carie ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu. “Kamu bisa janji kalau kamu gak akan bilang ini ke siapa-siapa tanpa persetujuan aku?”
“Em!” Angguk Andrea sungguh-sungguh.
Tulus. Carie sudah mengkonfirmasi isi hati Andrea. Ia pun menarik tangannya dari tangan Andrea, menyandarkan punggungnya ke dinding sementara matanya menatap kosong ke pintu ruangan yang ada di seberang.
"Aku punya masalah, ya... seperti yang kamu udah tahu. Penglihatanku," ucap Carie tenang.
Raut wajah Andrea seketika berubah. Rasa sungkan menyergapnya, membuatnya merasa tidak enak hati karena ternyata alasan Carie ke rumah sakit ini berkaitan erat dengan kekurangan fisiknya—sesuatu yang selama ini Andrea pura-pura tidak tahu demi menjaga gengsinya. Namun, dari nada bicara Carie, jelas gadis itu sadar bahwa Andrea sudah tahu segalanya. Hebatnya, Carie tidak terlihat malu atau keberatan sama sekali. Ia justru tampak begitu teguh.
"Kenapa ke psikiater, bukan ke dokter mata?" tanya Andrea kemudian. Ia memberanikan diri untuk bicara langsung pada intinya, rasa penasarannya kini mengalahkan rasa sungkannya.