Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #9

8. Hilang Kendali

"Eric?"

Nama itu meluncur dari bibir Andini dibarengi dengan guratan tegang yang mendadak muncul di wajahnya. Kursi kebesarannya berderit pelan saat ia tersentak kaget. Tak menyangka bocah ini menunjukkan wajahnya terang-terangan di hadapannya.

"Hai, Tante!" sapa Eric dengan nada riang yang terasa ganjil, bahkan hampir mengejek suasana beku yang mendadak menyergap ruangan itu begitu sosoknya muncul di ambang pintu.

Bibir Andini berkedut kaku, dipaksa melengkung untuk menciptakan senyum balasan yang tampak meyakinkan. "Hai!" Ia bangkit, melangkah mendekati Eric dengan tangan terbuka lebar seolah menyambut keponakan tercinta. "Nice to see you!" ucapnya, berusaha keras agar suaranya terdengar tulus dan penuh kehangatan.

Eric membalas pelukan itu singkat—sebuah formalitas dingin—sebelum mereka kembali menjaga jarak.

"Kapan kamu sampai? How’s your mom?" tanya Andini, matanya menelisik setiap inci ekspresi Eric.

Di mata Eric, pertanyaan itu hanyalah basa-basi murahan. Ia tahu; meskipun Andini berdiri sendirian di ruangan ini, "mata" dan "telinganya" tersebar di mana-mana. Sejak kakinya menyentuh lantai bandara, Eric sudah menyadari keberadaan bayang-bayang kiriman Andini yang konsisten membuntutinya hingga detik ini.

"Baik, Mama yang menyuruh aku buat gak menunda-nunda ke Indonesia," dusta Eric dengan lancar. Menunjukkan kalau ibu yang ia tinggalkan dalam keadaan tegar dan berani. "Lagipula, aku udah lama janji buat membantu Andrea di sini. Ya, Tante tahu sendiri, kan, Andrea kurang paham masalah legal."

Eric mengucapkannya dengan santai, namun binar licik di matanya tak bisa disembunyikan—ia sedang terang-terangan merendahkan sepupunya sendiri di depan sang ibu.

"Oh, great!" seru Andini, mencoba memasang wajah antusias meski rahangnya mengeras. "Kamu udah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bareng?"

"Oh, gak usah, Tante. Sebentar lagi aku ada rapat sama Andrea. Aku datang cuma karena rindu sama Tante. Melihat Tante sehat begini saja sudah cukup membuat aku kenyang."

Andini tertawa kaku, suara tawa yang terdengar hampa di ruangan luas itu. Ia berpura-pura terhibur oleh rayuan Eric, padahal Eric bisa merasakan aura permusuhan yang pekat. Di balik dandanannya yang sempurna, Andini pasti tengah merangkai sumpah serapah paling kasar untuknya.

"Kalau gitu aku pamit dulu, Tante. Bye!" ujar Eric ringan. Ia berbalik dan melenggang pergi dari ruangan itu dengan langkah penuh kemenangan, meninggalkan Andini yang kini menatap punggungnya dengan tatapan yang sanggup membunuh. Sebuah konfrontasi terang-terangan sudah ia lancarkan, tinggal menunggu bagaimana reaksi dari pihak lawan.

Ia pun berjalan ke arah lift, menuju ke lantai bawah tempat dia janjian bertemu dengan Andrea. Pintu lift berdenting terbuka, dan begitu kakinya melangkah keluar di sanalah Eric berdiri—membeku.

Konfrontasi yang baru saja ia lancarkan di ruang kerja Andini masih menyisakan adrenalin yang memompa jantungnya, namun pemandangan di depannya benar-benar di luar kalkulasi. Di hadapannya, ada sosok yang tak disangka-sangka akan ia lihat disini.


“Maaf ya, sebentar saja. Satu jam, lalu aku antar kamu pulang,” ucap Andrea lembut. Suaranya terdengar sangat kontras dengan nada bicaranya yang biasanya acuh tak acuh.

“Aku gak apa-apa, lagipula sebenarnya aku bisa pulang sendiri,” Carissa meyakinkan sekali lagi, senyum sungkannya tersungging manis—sesuatu yang membuat dada Eric berdenyut nyeri tanpa alasan.

“Nggak, aku yang menjemput, jadi aku yang harus antar pulang,” tekan Andrea lagi. Sikapnya telah bergeser sepenuhnya. Jika tadi pagi ia melihat Carissa sebagai beban yang harus ia tanggung dengan berat hati, sekarang ia seperti orang yang senang hati menawarkan diri untuk menanggung beban itu sendiri.

Andrea menekan bahu Carissa dengan lembut, menuntunnya duduk di sofa tunggu yang empuk. “Tunggu sebentar ya, kamu duduk di sini aja. Nanti ada yang membawakan minum dan makanan!”

Setelah memastikan Carissa nyaman, Andrea berbalik dan menyadari kehadiran sosok di depan lift. “Eh, Bro! Kebetulan. Nitip sebentar ya, gue perlu ketemu Nyokap di atas. Abis itu baru kita mulai rapatnya,” ujar Andrea santai, seolah menitipkan barang biasa pada sepupunya.

Eric hanya bisa mengangguk kaku. Andrea segera melesat masuk ke lift, menghilang di balik pintu baja yang tertutup rapat, meninggalkan Eric dalam keheningan bersama gadis itu.

Carie terdiam canggung. Ia tidak tahu siapa pria yang kini berdiri di hadapannya. Ia hanya bisa menangkap siluet pria dengan setelan jas abu-abu tua dan kaos hitam di dalamnya. Pria itu berdiri mematung, kedua tangan tersembunyi di saku celana, dan Carie bisa merasakan sepasang mata sedang menghujamnya dengan intensitas yang tak biasa.

Carie memalingkan wajah, merasa risih jika orang itu mengira dirinya sedang memandanginya—padahal ia hanya mencoba memfokuskan penglihatannya yang kabur. Bola matanya bergerak canggung ke segala arah, namun tarikan magnetis dari sosok di depannya terlalu kuat. Ia kembali melirik, menatap pria yang ternyata memang belum memalingkan pandangan sedikitpun darinya sejak tadi.

Lihat selengkapnya