Lampu neon yang dingin dan suara dengung mesin yang monoton menjadi satu-satunya teman Eric di dalam ruangan steril itu. Ia berbaring kaku, tubuhnya perlahan meluncur masuk ke dalam lingkaran mesin pemindai CT yang tampak seperti mulut raksasa siap menelan rahasianya bulat-bulat.
Pandangannya tertuju pada langit-langit mesin yang putih bersih, namun benaknya justru beralih ke kegelapan yang pekat.
Dengung... dengung...
Suara mesin itu seolah memanggil kembali memori yang selama ini ia kunci di ruang bawah tanah jiwanya. Bayangan asap, bau bensin yang menyengat, dan jeritan terakhir ayahnya kembali menghujam. Tragedi dua minggu lalu itu terasa seperti luka basah yang menolak mengering. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun di balik kelopak matanya, ia justru melihat dirinya sendiri—seorang pria keras kepala yang lebih memilih memupuk racun dendam daripada membiarkan dokter membedah kepalanya untuk operasi lanjutan.
Bodoh, maki Eric dalam hati. Ia tahu sel-sel di otaknya mungkin sedang berkhianat, sisa-sisa trauma fisik yang bisa membunuhnya kapan saja. Namun, baginya, kematian sebelum melihat Andini hancur adalah kekalahan yang tak bisa ia terima.
Tiba-tiba, bayangan itu bergeser. Wajah Carissa muncul begitu nyata.
Wajah gadis itu saat di teras kemarin—saat ia gemetar hebat, saat matanya yang berkabut menatap Eric seolah-olah Eric adalah jelmaan malaikat maut. Eric mengingat sensasi saat bibir mereka bersentuhan; ia mengharapkan kemenangan, namun yang ia dapatkan justru kehampaan yang menyakitkan.
“Kamu! Kamu!”
Suara Carissa yang bergetar dan penuh ketakutan itu menggema di telinganya, lebih keras dari suara mesin pemindai. Eric merasakan sesak yang luar biasa di ulu hatinya. Dadanya terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat—begitu kuat, begitu menyiksa. Ia tak tahu apakah rasa sakit ini berasal dari gumpalan yang mungkin berkembang di otaknya, ataukah ini adalah rasa bersalah yang gagal ia singkirkan.
Setiap detak jantungnya terasa berat. Eric menarik nafas pendek, mencoba mengusir wajah Carissa dari kegelapan benaknya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat wajah itu melekat. Gadis itu bukan lagi sekadar alat untuk membalas dendam, bukan juga potongan puzzle yang dibutuhkan untuk menjatuhkan Andiri; dia telah menjelma menjadi duri yang tertanam jauh di dalam dagingnya.
"Selesai, Pak Eric. Anda bisa keluar sekarang," suara operator terdengar dari intercom.
“Masih mau hidup lu rupanya?” tegur sebuah suara yang akrab, sedikit serak namun penuh penekanan.
Begitu Eric melangkah keluar dari ruang radiologi dengan wajah yang masih sedikit pucat, sosok pria di depannya langsung menghambur. Tanpa basa-basi, Dira menabrakkan tubuhnya, memeluk erat bahu Eric dengan kekuatan yang sanggup membuat orang biasa sesak nafas.
Eric tertawa geli, meski kepalanya masih menyisakan rasa nyeri dari pemindaian tadi. “Pelan-pelan, sialan! Tulang gue bisa remuk!” candanya sembari menepuk punggung sahabatnya itu.
"Jangan kayak cewek deh lu! Manja banget," cerca Dira sambil melepaskan pelukannya, meski matanya tak bisa menyembunyikan gurat kecemasan yang mendalam saat memindai kondisi fisik Eric dari ujung kepala hingga kaki.
Dira adalah sedikit dari orang yang tahu bahwa Eric sedang bermain api dengan nyawanya sendiri. Ia tahu Eric seharusnya berada di meja operasi, bukan berkeliaran menyusun strategi balas dendam yang menguras energi. Dia adalah mata dan telinga Eric, salah satu yang paling membantunya selama beberapa tahun terakhir.
“Ayo, ke ruangan Linda!” ajak Dira serius, raut candanya menghilang seketika.
Eric mengangguk pelan. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut, berusaha membuang sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya di dalam mesin tadi. Ia melangkah mengekor Dira menuju ruangan Linda—kekasih Dira sekaligus psikiater yang akhirnya berhasil melakukan penanganan untuk Carissa.
“Oh My God!” seru Linda heboh. Matanya berbinar jenaka saat ia bangkit dari kursi kerjanya. “Akhirnya ketemu langsung juga, selingkuhannya Dira!” ledeknya sembari menghampiri Eric dengan langkah ringan.