"Hai, Carie!" sapa Amanda riang.
Suara itu memecah keheningan pagi di toko bunga, membawa serta aroma parfum mahal dan energi yang meletup-letup. Amanda, yang beberapa hari terakhir nyaris tak terlihat batang hidungnya karena jadwal pemotretan dan kuliah yang padat, berdiri di sana sambil menyerahkan sebuah tas kertas bermerek.
"Ini, pakai saja. Nggak usah dibalikin, ya!" lanjutnya dengan senyum lebar yang tulus.
Carie terdiam sejenak. Inilah alasan mengapa ia ragu meminjam baju dari Amanda. Bukan karena tersinggung atau merasa rendah diri, namun kebaikan Amanda yang tanpa batas seringkali membuatnya merasa kecil. Carie kadang iri pada sosok di depannya; Amanda adalah definisi wanita sempurna yang seolah-olah baru saja melangkah keluar dari buku dongeng. Namun kali ini ia tak punya pilihan lain, karena ibunya ribut dia harus mengenakan pakaian cantik di acara ulang tahun Andrea. Ia tak ingin membeli baju baru hanya untuk momen itu, pun tak mungkin mengenakan dress pemberian Eric lagi, bisa-bisa dicemooh habis-habisan oleh pria aneh itu. Jadi akhirnya, meski sungkan, ia tetap menghubungi Amanda untuk meminta bantuan.
"Nanti aku balikin, Kak," sahut Carie pelan, suaranya hampir tertelan riuh dedaunan yang ia rapikan. Ia meletakkan tas itu di balik meja kasir dengan gerakan hati-hati.
"Memangnya kamu mau ke mana? Tumben banget sampai mau pakai gaun pesta," tanya Amanda penasaran. Ia berbalik, menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja kerja tempat Carie biasanya merangkai bunga.
"Ulang tahun Andrea," jawab Carie datar, jemarinya sibuk memotong batang bunga dengan gunting tajam.
"Hah? Serius? Wah, pasti kamu senang banget, ya!" sambut Amanda dengan binar mata antusias.
Namun, reaksi Carie justru sebaliknya. Wajahnya tetap datar, seolah kabar itu hanyalah informasi cuaca yang tidak penting. Pikirannya melayang jauh, memetakan kecemasan yang kian menebal, hingga ia tak sadar telah mengabaikan keberadaan Amanda di dekatnya.
Amanda menarik tubuhnya dari meja, berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Ia menatap Carie dengan tatapan menyelidik yang tajam namun tetap lembut. "Kamu... udah gak suka lagi ya sama Andrea?" tebaknya telak.
Carie tersentak, gunting di tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh cepat. "Kok, Kakak mikir begitu?"
Amanda mengedikkan bahu. "Cuma nebak. Habisnya, kamu kelihatannya gak senang. Padahal biasanya, kalau ada hal yang berhubungan dengan Andrea, muka kamu langsung berseri-seri!" Amanda memeragakan gestur 'bersinar' dengan kedua tangan di depan wajahnya, mencoba mencairkan suasana.
"Gitu?" gumam Carie lirih.
Rupanya begitu di mata orang lain. Pantas saja ibunya—sebelum tadi pagi pamit entah ke mana—berulang kali mengingatkan Carie untuk bersikap lemah lembut dan menjaga sikap di hadapan Nyonya Andini Andrea. Ibunya pasti menangkap perubahan ekspresi yang sama pada dirinya seperti yang barusan dilihat Amanda. Dan bisa jadi menyimpulkan dengan cara yang sama juga.
"Permisi."
Sebuah suara bariton yang berat terdengar dari ambang pintu. Suara itu bergetar pelan, namun cukup kuat untuk mengunci perhatian Carie seketika. Jantungnya berdegup tak keruan. Eric? Dia datang ke sini? Ia belum siap menghadapi pria ini lagi, sekarang, disini.
"Wah!" Amanda bergerak mundur secara insting, bahunya bersentuhan dengan bahu Carie. Wajah model itu mendadak kaku, terpesona. "Siapa itu? Ganteng banget!" bisiknya tertahan, nyaris seperti embusan napas.
Carie membelalak. Seumur hidup mengenal Amanda, belum pernah ia mendengar Amanda memuji pria dengan nada selemah itu. Bahkan Andrea, yang memiliki ketampanan klasik saat dideskripsikan olehnya, tak pernah membuat Amanda kehilangan kendali diri.
"Seganteng itu?" bisik Carie kembali, mendadak ada rasa penasaran yang menggelitik batinnya tentang rupa pria bernama Eric itu.
Amanda mengangguk-angguk cepat, matanya masih terpaku pada sosok di pintu. "Belum pernah ada cowok yang sekali lihat langsung bikin aku sesak nafas kayak gini."
Mendengar pengakuan jujur itu, Carie refleks menyentuh lehernya sendiri. Mendadak, sesak, seolah kata-kata Amanda adalah sebuah mantra yang menular.