Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #12

11. Kejujuran Andrea

“Menginap?” pekik Carie.

Suaranya yang melengking tertahan menggema di ruang tengah kediaman keluarga Andrea yang megah. Seharian ini, ia telah memeras tenaga untuk menata ribuan tangkai bunga di setiap sudut ruangan. Kemeja katun warna peach yang ia kenakan sudah lecek tak berbentuk, sementara rambutnya yang dijepit asal dengan jedai tampak lepek oleh keringat.

Carie hanya ingin satu hal: pulang, membersihkan badan, lalu membanting tubuhnya ke kasur. Namun, saat ia baru saja hendak membuka sarung tangan kainnya—benteng pelindung agar jemarinya tak tertusuk duri mawar—tangan Sari mendarat di bahunya, menahannya dengan kuat.

“Kamu gak perlu pulang, malam ini menginap di sini. Ibu sudah bawakan baju ganti untukmu,” ucap Sari tenang.

Carie terperangah. Selama delapan tahun terakhir, ia hidup layaknya bunga abadi dalam tabung kaca yang dijaga ketat; tak boleh disentuh, tak boleh pergi jauh. Namun sekarang, keanehan ini seolah mencapai puncaknya. Ia disuruh menginap di rumah seorang pria oleh ibunya sendiri?

“Nggak, aku nggak mau, Bu. Aku mau pulang!” tolak Carie dengan suara tertahan, bibirnya mengatup rapat agar tak memancing perhatian para pelayan yang berlalu-lalang.

“Kamu harus bantu-bantu untuk acara besok pagi!” tekan ibunya.

Carie mengernyit, dadanya mulai sesak oleh rasa tidak adil. “Kenapa harus begitu?”

Sebelum Sari sempat menjawab, suasana ruangan mendadak berubah. Langkah kaki yang seringan bulu namun berdetak anggun di atas lantai marmer terdengar mendekat. Aroma parfum yang menyengat—perpaduan melati dan bahan kimia mahal—menyeruak, mendominasi udara dan menutupi harum bunga-bunga segar yang baru saja ditata Carie.

“Carie?” panggil wanita itu. Nada suaranya dingin, formal, dan sama sekali tidak menyiratkan keakraban.

Sari dan Carie menoleh serentak ke sosok di ambang pintu itu. Berbeda dengan ibunya yang langsung memasang wajah sumringah dan mengangguk penuh hormat, Carie justru mematung. Seluruh sendinya seolah terkunci.

Suara wanita ini...

Terasa sangat familiar di telinga Carie, padahal ia yakin baru pertama kali mendengarnya secara sadar. Namun, di ceruk terdalam otaknya yang tersimpan rapat, sebuah alarm berbunyi. Caranya memanggil nama Carie seolah pernah menggema berkali-kali di masa lalu yang terlupakan.

Kehadiran wanita ini membawa aura yang menekan. Dada Carie mendadak terasa berat, dihimpit oleh rasa gugup yang ganjil. Itu bukan gugup karena merasa sungkan terhadap nyonya besar pemilik rumah, melainkan getaran murni dari rasa takut yang primitif—rasanya seperti sedang berjalan sendiri di dalam kegelapan. Ketika Andini mendekat, Carie merasa waspada.

“Akhirnya kita ketemu juga. Terima kasih ya udah bantu menghias. Rumah ini jadi cantik,” tutur Andini.

Nada suaranya terdengar sangat bersahabat, namun kontras yang ia tunjukkan justru menciptakan paradoks yang mengerikan. Penampilannya benar-benar intimidatif; blazer dan celana berpotongan tajam dari bahan mahal, jam tangan merk ternama yang mengilat di bawah lampu kristal, serta rambut yang disanggul klimis tanpa cela. Bibirnya yang diulas lipstik merah menyala membentuk kurva senyum, tapi matanya tetap sedingin es. Sosoknya sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang ingin menjalin keakraban.

“Malam ini jadi nginap di sini, kan?” lanjut Andini. Kalimat itu meluncur bukan sebagai pertanyaan, melainkan titah yang tidak menyisakan ruang bagi bantahan.

Andrea, yang baru saja melangkah memasuki ruangan, terbelalak kaget sekaligus kegirangan. “Carie mau menginap?” Ia bergegas mendekat dengan langkah ceria, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti Carie.

Mendadak, Carie merasa linglung. Semestinya ia langsung bersuara, menguatkan pertahanannya dan menolak tawaran itu dengan tegas. Logikanya berteriak bahwa ia harus gigih pada pendiriannya semula. Namun, mulutnya terasa kelu. Aura Andini seolah-olah menghisap habis keberaniannya, membuatnya merasa kecil dan terpojok.

Fokusnya teralihkan saat Andrea menyentuh tangannya. Melalui kontak fisik itu, suara hati Andrea mengalir masuk, jernih dan penuh antusiasme.

“Kebetulan kalau begitu, aku mau ngobrol sama kamu!” ujar Andrea secara lisan, senada dengan apa yang bergaung di benaknya. Tanpa menunggu jawaban, ia menuntun Carie keluar dari ruangan itu. “Ayo!”

Di tengah kegamangan yang hebat, Carie akhirnya membiarkan dirinya ditarik oleh Andrea tanpa perlawanan berarti. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia sempat melemparkan pandangan terakhir ke arah Andini dan ibunya yang masih berdiri berdampingan.

Matanya menyipit penuh selidik. Ada sesuatu yang tidak beres. Mengapa ibunya tampak begitu patuh di hadapan Andini? Apa sebenarnya benang merah yang mengikat hubungan mereka berdua hingga mereka tampak bekerja sama begitu solid untuk menjodohkannya dengan Andrea?

Langkah kakinya seolah bergerak di bawah kendali orang lain, tubuhnya ditarik berpindah-pindah ruangan tanpa ia sadari. Belum sempat benaknya mengurai benang kusut tentang persekutuan ibunya dan Andini, Carie tersadar bahwa dirinya sudah berdiri di teras lantai atas yang luas.

Kegelapan malam membentang di hadapannya seperti kanvas hitam yang sunyi. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari kolam renang di bawah sana; bias air yang memantulkan warna biru elektrik menyisipkan sedikit terang di tengah remang-remang balkon. Namun, suasana ini justru membangkitkan ironi di hati Carissa.

Lihat selengkapnya