Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #13

12. Penglihatan Sempurna

Pesta ulang tahun Andrea meledak dalam hiruk-pikuk yang elegan. Di bawah naungan langit-langit tinggi kediaman keluarga Andini, lampu-lampu kristal yang tergantung megah memancarkan cahaya warm white. Pendaran kuning hangat itu memantul pada dinding rumah yang dicat warna putih tulang, menciptakan atmosfer mewah yang terasa intim namun sekaligus mencekam bagi Carissa.

Di tengah lautan manusia berbalut sutra dan beludru, Carie berdiri tegak, mencoba menjadi bagian dari dekorasi yang ia buat sendiri. Ia mengenakan gaun bodycon hitam pekat tanpa lengan yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan siluet yang tajam namun misterius. Rambutnya dicepol rapi, kalung perak melingkar di lehernya, sementara liontin berbentuk simbol ophiuchus itu bersembunyi di dalam gaunnya. Namun, fokus utama penampilannya bukan pada gaun itu, melainkan pada sepasang sarung tangan satin hitam yang menutupi tangannya hingga ke siku.

Bukan tanpa alasan ia membungkus kulit lengannya rapat-rapat. Di tengah kerumunan seperti ini, setiap sentuhan tak sengaja dari orang asing adalah ancaman. Tanpa sarung tangan itu, pikiran puluhan tamu akan menyerbu masuk ke benaknya, menciptakan kegaduhan suara hati yang bisa membuatnya gila karena berisik.

Lantai marmer rumah itu kini dipenuhi denting gelas yang beradu dan suara piring porselen yang mengiringi obrolan basa-basi para tamu kelas atas. Aroma bunga-bunga berwarna lembut—mawar dusty pink, krisan putih, dan hydrangea biru pucat—yang ia tata dengan teliti di sekitar tangga melingkar dan sudut lainnya, berusaha keras melawan bau cerutu dan parfum mahal yang menyesakkan.

Namun, di antara puluhan wajah kabur yang berlalu-lalang, ada satu kutub magnet yang langsung menarik perhatian Carissa.

Eric.

Pria itu berdiri menjulang di sudut ruangan, seolah-olah ruangan besar itu sengaja dibangun hanya untuk menjadi latar belakang panggungnya. Hari ini, ia mengenakan setelan jas hitam dengan potongan slim-fit yang sempurna. Dua kancing teratas kemeja putihnya dibiarkan terbuka, memberikan kesan pemberontak di tengah acara yang kaku ini.

Meski jarak mereka terhalang oleh puluhan tamu dan hiruk-pikuk suara, indra penciuman Carissa mendadak menajam. Di hidungnya, aroma parfum Eric telah ditandai dengan jelas. Berbeda dengan wangi pria-pria lain di ruangan ini yang tercium generik, wangi Eric terasa seperti peringatan sekaligus undangan.

Tatapan mereka bertemu di antara celah orang-orang yang bercengkrama. Eric tidak tersenyum, ia hanya menatap Carie tajam. Sementara Carie, yang meskipun tak melihat sejelas Eric. Ia tahu pria itu tengah terkunci juga ke arahnya.


Ingatan tentang percakapan dengan Andrea semalam terus berdenyut di kepala Carie, terasa jauh lebih bising daripada hiruk-pikuk pesta di sekelilingnya.

"Kamu dekat sama Eric?" tanya Carie saat itu, hanya mencoba mengisi waktu ditengah perjalanan mereka menuju ke kamar yang terasa lebih jauh daripada yang ia duga.

"Lumayan," sahut Andrea santai. Tangannya menggenggam jemari Carie, menuntunnya menuruni tangga. "Dia sepupu jauh. Orang tua kita yang sepupuan."

“Kalian seumuran?”

Andrea menggeleng. “Dia setahun lebih tua.”

Carie mengangguk perlahan, potongan teka-teki itu mulai terpasang. Pantas saja Andrea begitu percaya menitipkan kencannya pada Eric, ternyata dia bukan sekedar kenalan atau teman melainkan saudaranya. Namun, langkah Carie mendadak terkunci di tengah anak tangga saat Andrea tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh padanya dengan mata membelalak lebar.

"Eh, bukannya kalian waktu kecil saling kenal?"

Carie merasa dunianya seakan miring. "Siapa? Aku sama... Eric?"

"Iya!" Andrea mengangguk mantap, lalu memegangi dagunya dengan raut berpikir keras. "Aku besar di Australia jadi gak gabung sama kalian, tapi seingat aku, katanya kalian itu teman lumayan dekat sebelum Eric berangkat ke Inggris. Apa aku salah ingat, ya? Sepertinya Eric atau siapa gitu, dulu pernah cerita tentang kalian."

"Jadi selama ini dia di Inggris, dan baru sekarang balik?" Carie tak lagi menyembunyikan getar penasaran dalam suaranya. Matanya menatap Andrea tajam, menuntut kejelasan dari balik kabut memorinya yang kelam.

"Nggak juga," geleng Andrea. "Dia sempat pulang buat kuliah hukum di sini, baru lanjut S2 ke Inggris. Kita mulai dekat waktu dia kuliah di Indonesia beberapa tahun lalu."

Carie terdiam seribu bahasa. Semakin banyak informasi yang ia serap tentang pria itu, ia justru merasa semakin tersesat di tengah labirin yang gelap. Ia meremas jemarinya sendiri, merasakan dingin yang mulai menjalar dari ujung sarafnya.

"Tapi, kamu beneran gak ingat dia?" gumam Andrea, kini beralih menatap Carie dengan raut bingung. "Kalau dipikir-pikir, Eric juga gak pernah bilang kalau dia ingat kamu sih. Hm. Mungkin aku yang salah ingat."

Mendengar Andrea sangsi pada memorinya sendiri, Carie sadar sepenuhnya: pria ini benar-benar tidak tahu tentang amnesia yang ia derita. Andrea hanya sosok jujur yang terjebak dalam ketidaktahuan, berbeda dengan Eric yang sejak pertemuan kedua sudah mampu menelanjangi rahasia ingatannya yang cacat tanpa berusaha.

Lihat selengkapnya