"Pergi? Kak Eric mau pergi ke mana?" tanya Carie kecil. Wajahnya yang polos mendadak pucat, matanya membelalak panik menatap sosok remaja laki-laki di hadapannya.
"Inggris," sahut Eric singkat. Ia sama sekali tidak menoleh, tangannya sibuk merogoh isi tas sekolahnya, mengabaikan getar ketakutan dalam suara Carie.
"Kapan?" cecar Carie lagi. Nafasnya mulai memburu, dadanya sesak oleh rasa kehilangan yang tiba-tiba datang mengepung.
"Minggu depan," jawab Eric dengan nada santai yang menyakitkan. Ia berhenti sejenak, lalu melirik Carie sekilas. "Memangnya kamu kira acara makan-makan ini buat apa kalau bukan perpisahan orang tua kita?" jelasnya dengan nada cuek seperti biasanya.
"Kapan pulangnya?" tanya Carie penuh harap, jemari mungilnya meremas ujung bajunya sendiri.
"Nggak tahu. Mungkin gak akan pulang. Selamanya di sana."
Mendengar kata 'selamanya', rahang Carie mengejang. Wajahnya menegang hebat, dan emosi yang selama ini ia simpan di balik rasa kagumnya meletup tak tertahan lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Bisa gak sih, Kak Eric sedikit aja peduli sama aku? Kenapa Kakak selalu cuek begitu? Kakak tahu, kan, kalau aku suka sama Kakak!" teriak Carie lantang, suaranya pecah di tengah keheningan ruangan itu.
Eric tersentak. Ia mengangkat tatapannya, bibirnya sudah terbuka hendak memarahi Carie atas kelancangannya. Namun, fokusnya mendadak teralih pada siluet yang melintas cepat di luar pintu kamar yang sedikit terbuka. Hanya sekilas, namun Eric mengenali daster bermotif bunga yang biasa dipakai oleh Ibu Sari, pembantu Carie. Ada orang lain yang mendengar pengakuan cinta itu.
"Sial!" gerutu Eric pelan. Ia sadar, di usianya yang sudah beranjak dewasa, pengakuan dari seorang gadis berusia dua belas tahun bisa menjadi masalah besar jika sampai ke telinga orang tua mereka.
Melihat Carie yang sekarang pipinya sudah banjir dengan air mata, Eric melangkah mendekat. Ia memegang kedua bahu gadis kecil itu dengan lembut, mencoba meredam badai emosi di depan matanya.
"Carie, kamu gak boleh ngomong kayak gitu lagi. Gak boleh sembarangan bilang suka sama cowok," tekan Eric dengan nada rendah namun tajam. "Apalagi aku. Aku ini udah seperti kakak kamu, Carie. Aku menganggapmu adikku!"
Kata-kata itu—aku menganggapmu adikku—terasa seperti belati yang menghujam tepat ke jantung Carie kecil. Ia tak pernah sekalipun menganggap Eric sebagai kakaknya. Tidak pernah.
Mereka berdua adalah anak tunggal, dan bagi Carie, tidak ada logika yang bisa memaksanya untuk bersaudara hanya karena orang tua mereka telah bersahabat sejak muda. Di usianya yang dua belas tahun, ia belum paham bagaimana cara mengelola badai emosi yang mendadak meluap; kesal, marah, benci, dan patah hati bercampur menjadi satu beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Tanpa sepatah kata pun, Carie berbalik. Ia berlari meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang terasa perih, seolah-olah setiap pijakannya menapak di atas ribuan pecahan kaca yang tajam. Dadanya sesak oleh isak tangis yang tertahan.
Pikirannya yang kalut membuahkan sebuah kenekatan yang naif. Kalau aku menghilang, kalau aku tidak bisa ditemukan di mana pun, Kak Eric tidak akan pergi dari vila ini. Dia tidak akan jadi pindah ke Inggris. Itulah logika kanak-kanak yang ia pegang teguh saat itu. Jika ia bisa menghentikan waktu dengan cara menghilang, maka Eric akan tetap di sini, bersamanya.
Maka, dengan sisa tenaga dan air mata yang mengaburkan pandangan, Carie berlari ke arah hutan yang membentang di samping villa. Tanpa tujuan, tanpa arah, ia menerobos semak belukar, menjauh dari cahaya lampu bangunan dan suara-suara orang dewasa yang memanggil namanya. Ia masuk semakin dalam ke dalam kegelapan hijau yang sunyi, membiarkan dirinya ditelan oleh rimbunnya pepohonan.